Pasal Berita Tambang di Beltim, Seorang Wartawan Laporkan Saudara L Atas Dugaan Penganiayaan

oleh -
Pasal Berita Tambang di Beltim, Seorang Wartawan Laporkan Saudara L Atas Dugaan Penganiayaan
Ilustrasi profesi jurnalis. Foto: Istimewa/okezone.com
Saudara L Dilaporkan atas Dugaan Penganiayaan

Reporter: dx | Editor: sue

BELITUNG TIMUR, JABEJABE.co – Seorang wartawan media di Belitung Timur (Beltim) mengaku diintimidasi dan dianiaya oleh seseorang saat dirinya sedang berada di warung kopi baru-baru ini, Selasa (1/3/2022). Wartawan tersebut bernama Arya, sementara diduga pelaku, sebut saja saudara “L”.

Atas peristiwa yang dialami, Arya kemudian melapor dugaan penganiayaan tersebut ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Belitung Timur pada hari Kamis (3/3/2022) sekira pukul 13:00 WIB.

Saat melapor, Arya didampingi kuasa hukum belitongbetuah.com, Fahriani, SH, dan pemimpin redaksi belitongbetuah.com, Yusnani.

Menurut informasi yang dirangkum media ini, peristiwa itu merupakan buntut dari pemberitaan yang dibuat Arya seputar penertiban tambang di Kecamatan Damar, Kabupaten Belitung Timur.

Di sisi lain, saudara L yang tidak suka dengan pemberitaan tersebut mendatangi Arya sehingga terjadi keributan kecil.

Dari keterangan yang diterima media ini, saudara L diceritakan sempat mencengkram (versi lain dengan kata “merangkul”) bagian leher Arya sehingga membuatnya berada dalam posisi tertunduk. Setelah itu, tangan saudara L mengenai bagian atas mata sehingga menyebabkan memar.

Kuasa Hukum belitongbetuah.com, Fahriani, dalam penjelasannya kepada awak media di Mapolres Belitung Timur mengatakan laporan tersebut telah diterima Polres Belitung Timur dengan Surat Tanda Bukti Laporan (STBL) Nomor: STBL/B-074/III/2022/SPKT/RES BELTIM/ POLDA BABEL.

“Pada hari ini kami melaporkan seseorang berinisial L karena telah melakukan tindakan penganiayaan dan perbuatan tidak menyenangkan terhadap klien kami, yakni Arya (23) pada saat menjalankan tugasnya sebagai seorang jurnalis yang bertugas di wilayah Belitung Timur,” ujar Fahriani, Kamis (03/03/2022) sebagaimana dilansir dari faktaberita.co.id.

Fariani menilai, tindakan yang dialami kliennya sudah mengarah kepada tindakan intimidasi terhadap seorang jurnalis, yang mana seorang jurnalis dalam menjalankan tugasnya dilindungi oleh Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999.

Lebih lanjut disampaikan Fahriani, pihaknya mengambil tindakan tegas dengan melaporkan perbuatan tersebut ke Polres Belitung Timur agar hal semacam itu ke depannya tidak terulang kembali dan dialami oleh oknum jurnalis yang lain.

Baca Juga:  Dorong Perkembangan Sepak Bola, PT Timah Tbk Dukung PS Belitung Timur dalam Beberapa Kejuaraan

“Kami tidak ingin ke depannya ada kisah-kisah baru, bahwa wartawan mendapatkan intimidasi padahal peran wartawan untuk meliput berita yang aktual dan fungsinya banyak kepada masyarakat menjadi terhalang,” ucapnya.

Disebutkannya pula, bahwa kliennya mendapatkan tindakan penganiayaan dan perbuatan tidak menyenangkan, baik secara verbal dan non verbal, serta secara fisik maupun psikis.

“Kami juga sudah melakukan visum untuk melengkapi laporan,” imbuhnya.

Selain melakukan kekerasan fisik, menurut Fahriani saudara L juga melakukan pengancaman agar kliennya tidak melakukan peliputan di wilayah Belitung Timur.

“Sedangkan kita tahu seorang jurnalis bisa ditugaskan melakukan peliputan di mana saja dan itu diatur dalam Undang-Undang Pers. Sehingga di manapun jurnalis bertugas berada dalam lindungan undang-undang,” jelasnya.

Saat ini pihaknya menyerahkan sepenuhnya permasalahan tersebut kepada kepolisian untuk diproses sesuai dengan aturan undang-undang dan hukum yang berlaku.

“Kami percaya di negara ini masih ada aparat-aparat penegakan hukum yang memang ingin menegakan hukum,” tandasnya.

Klarifikasi dari Saudara L

Guna melengkapi pemberitaan secara ojektif, jabejabe.co kemudian menemui saudara L yang tengah berada di warung kopi miliknya, di Jalan Jenderal Sudirman, Kecamatan Manggar, Jumat (4/3/2022) malam.

Kepada media ini, saudara L memulai penjelasannya dengan membeberkan kronologi saat ia menghampiri Arya di warung kopi yang berada tidak jauh dari Kantor Sekretariat PDI-P Belitung Timur.

Aku samperek Ari de warung kopi. Ri, aku nak komplain o kan kau ne, kau muat berita to la benar ke? Itu salah besar kau mun macam gitu. Ini kawan-kawan penambang semue ngerase kesal. Semue urang nyarik kau, (Aku sampiri Ari (Arya) di warung kopi, Ri (Panggilan Arya) aku mau komplain dengan kau, kau bikin berita itu apa sudah benar? Itu salah besar kau (bikin) kalau seperti itu. Ini kawan-kawan penambang semua ngerasa kesal. Semua orang nyari kau,” ujar saudara L.

Selanjutnya saudara L menyebutkan jawaban Arya saat itu, yang mana Arya menjawab bahwa berita tersebut merupakan hasil penelusurannya.

“Orang menyebutkan Inisial A*C,” kata saudara L menirukan jawaban Arya.

Baca Juga:  Aksi Solidaritas di Bundaran Satam, Wartawan Minta Polisi Usut Tuntas Dugaan Intimidasi pada Wartawan di Beltim

Lalu disebutkan saudara L bahwa A*C itu sudah merupakan trade mark, nama lengkap seseorang. Bukan hanya Beltim, orang-orang Tanjungpandan pun sudah tahu. “Yang namanye A*C itu adalah name lengkap seseorang, bebulak mun dak tau, ape agik di dunia pertimahan, (Yang namanya A*C itu nama lengkap seseorang, bohong kalau nggak tahu, apalagi di dunia pertimahan),” imbuhnya.

Lebih lanjut saudara L mengatakan bahwa Arya tak perlu menghargai dirinya dalam hal ini, namun ia menyarankan untuk menghargai rekan-rekannya yang saat ini masih memegang prinsip kehati-hatian. Meski demikian, saudara L meyakinkan bukan maksud dirinya mau mengebiri kebebasan seorang jurnalis.

Diceritakan saudara L, situasi pertengkaran kecil antara dia dan Arya pun terus memanas hingga banyak orang yang datang.

Biak-biak la makin ramai ngerundong, tiba-tiba dari belakang aku yang ngerangkul die. Aku dak tau, nok pasti die ne ndak ade depukul. sempat ngelawan die, lepas, terus kutarik, la udahla, balikla, (Kawan-kawan [penambang] sudah makin ramai ngumpul, tiba-tiba dari belakang aku (ada orang lain) yang ngerangkul dia [Arya]. Aku nggak tahu [siapa orang itu], yang pasti tak ada yang mukul dia. Sempat ngelawan, lepas, terus kutarik, lah sudahlah, pulanglah], ” ungkap L.

Kemudian, saudara L juga menyangkal apa yang disangkakan terhadapnya, yang mana kuasa hukum belitongbetuah.com meyebutkan bahwa saudara L melarang Arya untuk melakukan tugasnya sebagai jurnalis di Belitung Timur.

Menurut saudara L, dirinya saat itu mengatakan, “Mun muat berita jangan muat kero suasana. Untuk sekarang, balikla, jangan meliput urusan Beltim mun kau dak kan pandai. Pandaila urang Beltim ngurus’e. [Kalau buat berita jangan bikin keruh suasana. Untuk sekarang, pulanglah, jangam meliput urusan Beltim kalau kau tak pandai (paham), Pandaila orang Beltim ngurusnya].”

Kesaksian Salis Selaku Saksi dari Pihak Korban 

Di pihak lain, Salis selaku saksi dari korban atas nama Arya mengungkapkan, kronologi kejadian berawal saat Arya menghubungi dirinya dan bertemu di salah satu warung kopi yang berada tidak jauh Kantor Sekretariat PDI-P Belitung Timur.

Baca Juga:  KT Kelapa Kampit Jalankan Amanah KT Kabupaten Giat Baksos Cegah Banjir

Sembari Salis dan Arya ngobrol, beberapa menit kemudian saudara L pun datang menghampiri Arya serta tak lama kemudian terjadilah cecok mulut antara keduanya, Arya dan saudara L.

Saat cekcok mulut tengah memanas, tiba-tiba seseorang merangkul (Versi lain dengan kata “mencengkram”) Arya keluar dari warung kopi. Namun saat tanya siapa yang merangkul Arya saat itu, Salis mengaku tidak tahu.

“Saya tidak tahu, tidak kenal,” jawabnya.

Kemudian saat ditanya apakah ada saudara L melakukan pemukulan, Salis menjawab tidak ada. Dan ia pun bisa memastikan hal tersebut karena ia berada di sebelah kiri Arya.

Dijelaskan Salis bahwa tujuan Arya dirangkul untuk diamankan agar tidak ada keributan yang lebih besar lagi.

“Kita juga membuntuti dari belakang jangan sampai ada orang lain yang memukul, karena kan Arya wartawan juga sama dengan saya,” terangnya.

Menurut Salis, saat Arya dirangkul lalu berjalan ke luar, orang-orang pun minggir dan Arya sama sekali tidak diapa-apakan.

“Bahkan orang-orang minggir, karena ada salah seorang kawan kita dari Pokja Wartawan Beltim juga untuk mengamankan agar jangan sampai terjadi pemukulan terhadap Ari, dan sepengetahuan kita tak ada yang menyenth Ari sama sekali,” terang Salis.

Saat ditanya bagaimana halnya dengan adanya dugaan penganiayaan sebagaimana dilaporkan, Salis lalu mengatakan tidak ada penganiayaan sama sekali.

“Cuman adu mulut, kemudian dirangkul ke luar, jadi tidak ada penganiayaan sama sekali,” ujarnya.*

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news dari jabejabe.co. Yuk gabung di Grup Telegram Jabejabe.co News Update, caranya klik link Jabejabe.co News Update kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.