Warga Protes Beton Pembatas dan Dugaan Pembabatan Bakau HLP Tanjung Kubu Sijuk

oleh -
Warga Protes Beton Pembatas dan Dugaan Pembabatan Bakau HLP Tanjung Kubu Sijuk (2)
Bangunan permanen pembatas ini memunculkan polemik bagi warga sekitar Desa Batu Itam. Pasalnya bangunan selebar sekitar 25 meter dan tinggi 2,5 meter ini menutup akses warga yang hendak menuju ke pantai.

SIJUK, JABEJABE.co – Sebuah bangunan pembatas muncul, diduga masuk kawasan Hutan Lindung Pantai (HLP) di Tanjung Kubu, Desa Batu Itam, Kecamatan Sijuk.

Adanya bangunan pembatas ini sempat memunculkan polemik bagi warga sekitar. Pasalnya bangunan selebar sekitar 25 meter dan tinggi 2,5 meter ini menutup akses warga yang hendak menuju ke pantai.

Jalan tanah merah yang aksesnya ditutup tersebut biasanya digunakan warga sekitar yang berprofesi sebagai nelayan untuk menuju pantai. Selain bangunan pembatas, jalan tersebut juga digali selebar kurang lebih 2 meter.

Nelayan mengeluhkan pemutusan akses jalan tersebut, karena selama ini nelayan menggunakan jalan ini. Selain jalannya relatif bagus dan bisa dilalui kendaraan, jalan ini juga memudahkan nelayan menuju pantai.

“Jalan itu ditutup, bukan hanya tembok, tapi juga digali, jalannya terputus. Jadi, motor nggak bisa ke pantai,” sebut seorang warga yang enggan disebutkan namanya belum lama ini.

Menurut informasi yang diperoleh media, bangunan pembatas tersebut dibuat oleh pihak PT Tunas Propindo Lestari (PT. TPL). Perusahaan ini disebut mengantongi izin usaha pemanfaatan jasa lingkungan.

Tak hanya itu, lahan di kawasan tersebut juga sudah timbul sertifikat. Padahal lokasi tersebut diduga masih berada di dalam kawasan HLP. Dan, belum diketahui pasti proses timbulnya sertifikat ini.

Rencananya perusahaan tersebut akan membangun wisata alam di kawasan yang dimaksud. Sempat terlihat spanduk berlogo Pemprov Babel yang bertuliskan SK Gubernur Babel No 188.44/1046.A/DISHUT/219 Tanggal 13 Desember 2019. Yakni tentang pemberian izin usaha pemanfaatan jasa lingkungan wisata alam penyedia wisata alam (IUP JLWA-PSWA) kepada PT. TPL.

Pantauan media, Rabu (15/7/2020), bangunan pembatas dibuat permanen menggunakan cetak beton. Sebelum bangunan pembatas tersebut, juga terdapat galian yang diperkirakan dibuat menggunakan alat berat.

Dalam galian lebih dari satu meter, sisa tanah galian hanya diletakkan di samping lubang galian tersebut. Selain itu, terlihat beberapa pipa paralon berukuran besar. Pipa tersebut diletakkan berdiri berjajar disandarkan ke bagian tanah yang lebih tinggi.

Ketua Gabungan Pecinta Alam Belitung (Gapabel) Pifin Heriyanto menyebutkan dirinya sudah melakukan pengecekan ke lokasi usai mendapat laporan dari warga.

Baca Juga:  Keluhan Awal BAB Cair, Ny. Sa Pasien Positif Covid-19 ke-9 Meninggal Dunia di Bulan April 2021

Menurut pria berambut panjang ini, dirinya tak hanya menemukan beton pembatas berupa beton, hutan bakau yang berada di lokasi juga dibabat. Di lokasi tersebut juga terlihat akan dilakukan pembangunan dermaga.

“Kalau kita lihat di lokasi ada pelanggaran yang dilakukan, seharusnya pembabatan hutan bakau tidak boleh dilakukan,” sebut Pifin kepada media.

Ia meminta Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) untuk mencabut perizinan yang dikantongi pihak perusahaan. Pasalnya apa yang dilakukan perusahaan melanggar PP No 6 Tahun 2007.

“Menurut PP tersebut tidak boleh mengurangi, mengubah atau menghilangkan fungsi utamanya, mengubah bentang alam dan merusak keseimbangan unsur-unsur lingkungan,” jelas pria yang akrab disapa Thilenk ini.

Sementara itu perwakilan PT. TPL, Yayan mengakui pembangunan batas tersebut dilakukan oleh pihaknya. Pembuatan batas tersebut karena berbatasan dengan lahan yang dimiliki pihak lain.

“Daripada kami masih menggunakan jalan itu dan bermasalah dengan pihak lain mending kita tutup jalan itu,” sebut Yayan melalui sambungan telepon kepada ketua Pokja Wartawan Belitung.

Yayan membantah pihaknya membersihkan lahan (membabat bakau) di kawasan tersebut. Menurutnya sejak perusahaan mendapatkan izin di lokasi tersebut, lahan itu sudah bersih atau gundul.

“Mungkin pemilik sebelumnya, karena sejak 2018 itu memang sudah bersih. Kita kan izin keluar 2019 bulan Desember,” ujar Yayan.

Reporter: Fg6
Editor: sue

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news dari jabejabe.co. Yuk gabung di Grup Telegram Jabejabe.co News Update, caranya klik link Jabejabe.co News Update kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *