Uto Film, Mobil Khusus Pemutaran Film di Belitong Jaman Kolonial

by -
Uto Film, Mobil Khusus Pemutaran Film di Belitong Jaman Kolinial (2)
Petugas pemutar film Mat Adi (alm) dan rekannya berdiri di samping Uto film yang sedang parkir di sekitar kedai kupi Beringin, di pasar Lipat Kadjang Manggar, Belitung Timur. Foto: Ist. Dok. Tamzil Mat Adi.

Pemutaran Film Dilakukan di Beberapa Emplacement

Penulis: Rico Febrico/Su3 | Editor: Subrata Kampit

JABEJABE.co – Pada masa kolonial, pertambangan timah di Belitung yang dilakukan oleh perusahaan swasta Belanda, Gemeeenschappelijke Mijnbouw Maatschappij Biliton (GMB) memperhatikan kesejahteraan karyawan dan keluarganya.

Bentuk dukungan yang dilakukan perusahaan ada banyak, seperti membangun sarana perumahan, fasilitas olahraga dan rekreasi serta hal-hal lain yang berhubungan dengan kepentingan perusahaan dan karyawan.

Salah satu bentuk kepedulian tersebut juga dari sisi hiburan, seperti halnya pemutaran film.

Untuk itu, perusahaan menyediakan mobil khusus pemutaran film yang oleh masyarakat Belitong menyebutnya Uto Film. Uto adalah sebutan mobil bagi masyarakat Belitong.

Pada waktu tertentu, Uto Film akan datang untuk menutar film di lokasi emplacement (Komplek Karyawan). Adapun lokasi emplacement ini diantaranya di daerah Pegarun (Selumar – Kecamatan Sijuk), Kempenai (Aik Batu Buding), Kelapa Kampit (Pering – Desa Mayang), Damar, Bukit Samak (Manggar) dan Gantung.

Fasilitas layar sudah tersedia di tiap-tiap emplacement. Uto film hanya membawa proyektor dan film, pemutaran film kemudian digelar di tempat-tempat terbuka.

Ini seperti model pemutaran film di jaman sekarang yang acap kita sebut dengan istilah layar tancap, atau biasa juga disebut Misbar (Gerimis Bubar).

Karena digelar di tempat terbuka, penonton film tak hanya berasal dari karyawan timah dan keluarganya, namun masyarakat setempat pun ikut menikmati tontonan di area pemutaran film tersebut.

Nonton Film di Societeit dan MPB

Era sebelum tahun 1953, yakni saat perusahaan timah di Belitong masih dipegang oleh kolonial, pemutaran film memang menggunakan Uto Film. Namun demikian, pemutaran film juga dilakukan di Societeit (Wisma Ria). Wisma Ria dibangun antara tahun 1852-1927 pada beberapa tempat di Pulau Belitung.

Selain di lokasi-lokasi emplacement, pemutaran film juga dilakukan di Wisma Ria. Sebagaimana di emplacement, di Wisma Ria pun tersedia layar putih untuk pemutaran film.

Societeit (Wisma Ria) Manggar. Foto: [Source]
Di Wisma Ria, para karyawan tidak hanya disuguhkan film, namun juga pertunjukan menarik lainnya seperti penampilan musik oleh group yang dibentuk perusahaan timah.

Pada masa peralihan perusahaan asing milik Belanda dinasionalisasikan menjadi milik pemerintah Indonesia sekitar tahun 1953 – 1958, beberapa aspek juga berubah dan berkembang.

Majelis Pertemuan Buruh atau disingkat MPB kemudian dibangun pada tahun 1958 menjadi wadah bagi karyawan. Di MPB seringkali pula dilakukan pemutaran film.***

Atensi: Media online jabejabe.co dan penulis dengan hati terbuka menerima saran konstruktif, khususnya terkait isi penulisan artikel ini, dan secara umum sehubungan dengan sejarah di Belitong.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *