Undang-undang ITE dan Kasus Pelanggarannya

by -
Undang-undang ITE dan Kasus Pelanggarannya - A1

Oleh: Nadien Salsabila

DALAM KEHIDUPAN sekarang tentu kita sudah lagi tidak bisa lepas dari teknologi Informasi dan Komunikasi.

Manusia zaman sekarang sudah sangat ketergantungan pada pemakaian smartphone atau alat elektronik lainnya. Dari yang penggunaannya untuk bekerja, sampai hiburan seperti menonton film, streaming musik, berbelanja di e-commerce, chatting dengan orang lain, dan sebagainya. Hal ini menunjukan bahwa teknologi sudah menjadi alat yang sangat vital bagi kehidupan manusia.

Semakin sering kita menggunakan teknologi informasi, semakin besar resiko dalam pemakaiannya. Sudah mulai banyak oknum yang tidak bertanggungjawab menyalahgunakan pemakaian teknologi informasi. Namun, kini pemerintah telah mengeluarkan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Keberadaan UU ITE sekarang sangat berguna, terlebih lagi zaman sekarang yang perkembangannya cukup pesat. Sejak UU ITE disahkan, banyak kasus kasus bermunculan yang melibatkan pengguna internet.

Seperti kasus yang baru-baru ini muncul; Kasus Fetish Kain Jarik, pelaku dijerat Pasal Pencabulan dan UU ITE. Yang mana Mahasiswa berinisal GAN melakukan aksi yang sempat menghebohkan dunia maya terutama di Twitter. GAN yang merupakan mahasiswa Universitas Airlangga itu menyuruh seseorang untuk membungkus dirinya dan memfotokan setelah dibungkus lalu dikirim kepada GAN.

Korban dari Kasus Fetish Kain Jarik ini tak hanya satu orang, ada banyak korban yang terlibat dari kasus ini. Kasus Fetish Kain Jarik pertama kali dibongkar di media sosial Twitter tanggal 30 Juli 2020. Akun @M_Fikris membuat utas/thread yang membeberkan aksi mahasiswa Universitas Airlangga yang diduga ia juga menjadi korban dan mengupload screen shot chat dengan GAN. Kasus ini pun ramai dibicarakan hingga GAN ditangkap oleh polisi dengan kasus Pencabulan dan UU ITE.

GAN juga dikeluarkan oleh Universitas Airlangga. Mencermati kasus tersebut, menurut penulis, sebaiknya kita lebih berhati-hati dalam berbicara/ chatting di media sosial. Gunakan media sosial sebaik mungkin, jangan sampai membuat kehebohan yang negatif. Manfaatkan media sosial sebagai ajang kreatifitas kita.

Penulis berharap, agar kita sebagai pengguna media sosial dapat berbicara dengan benar dan baik, memiliki atitude dalam berbicara media sosial. Karna salah sedikit dalam berbicara bisa viral dalam waktu cepat.