Udang Cekrek Tanjung Rusa dihantam Corona

by -
Catcil - Udang Cekrek Tanjung Rusa dihantam Corona

Oleh: Subrata Kampit

DAMPAK Virus Corona tak hanya menyentuh aspek kesehatan dan perekonomian Negeri Tirai Bambu, China. Di  Indonesia, ujung Pulau Sumatera, sebelah Selatan Pulau Belitung, yakni Desa Tanjung Rusa Kecamatan Membalong, juga merasakan dampak ekonominya.

Sempat terbuai dengan tingginya harga Udang Ronggeng, jenis udang ekspor yang masyarakat Tanjung Rusa menyebutnya udang cekrek. Nelayan pun tak alang mendapatkan hasil yang aduhai.

Udang Cekrek Tanjung Rusa dihantam Corona
Udang Ronggeng/Cekrek (Mantis Shrimp). Foto: Twofishdivers

Harga jualnya fantastis! Jualnya per ekor. Ukuran 7 inch Rp5000, 8 inch Rp15.000, 9 inch Rp40.000, 9,5 inch Rp65.000. Dan, yang paling mahal ukuran 10 inch bisa mencapai 100.000 rupiah. Kesemua harga itu adalah kisaran, bisa turun, naik juga.

Nelayan dapat seekor saja yang 10 inch sudah dapat ongkos makan sehari. Apalagi dapat tangkapan berpuluh-puluh, bisa jutaan per hari.

“Pernah ada nelayan yang tarik pukat pagi hari dapat sejuta. Pasang (pukat) lagi sorenya dapat lagi sejuta,” Kata Aidil, salah satu pembeli lokal udang cekrek.

Kalau dulu, cekrek dipandang sebelah mata. Diambil pun hanya sebagai tambahan varian menu. Meski enak, bosan juga kalau dimakan setiap hari. Namun kini situasi berbalik. Cekrek jadi bernilai tinggi–kecualikan situasi corona.

Sudah ada yang sukses, hanya dengan menjadi pembeli–bukan pengekspor. Bisa dibayangkan kalau mereka bisa langsung ekspor ke China, bisa sangat sukses.

Namun karena Corona, harga udang yang lezat itu benar-benar bisa turun. Harga Cekrek 10 inch yang dulu sempat menginjak Rp120.000 per ekor kini drastis jadi 20.000 rupiah.

Harga 20.000 rupiah hanya sampai Jakarta. Tak terbang sampai ke China.

Masing-masing pembeli Udang Cekrek “pegang nelayan”. Aidil pegang 10 Nelayan.

Di Teluk Balok ini nelayan memasang pukat lalu ditinggalkan. Pagi atau sore diangkat. Bisa juga cekrek ditangkap pakai bubu ketam/kepiting di kedalaman tujuh hingga belasan meter.

Jika mendapat hasil, nelayan-nelayan itu mecari pembeli tetap seperti Aidil untuk dicairkan.

Lalu Aidil setoran ke bosnya–pembeli dari Tanjungpandan.

“Rata-rata bosnya dari Tanjungpandan, nanti mereka kirim ke Jakarta. Cuman sekarang sudah ada yang kirim sendiri, lebih untunglah,” ujarnya.

Kalau dulu dipukul agar pukat tak rusak, sekarang lain kisah. Pukatnya yang dipotong, agar cekrek tetap hidup dan bisa diekspor dalam keadaan hidup.

“Makanya kita harus teliti. Jangan sampai ada yang sakit, cacat, luka, karna nantinya tetap mati. Kalau mati di Jakarta, tangung bos di sini,” jelasnya.

Aidil tidak membuat packing ekspor, pembeli itulah yang membungkusnya.

Cara package-nya, plastik mika dibuat melingkar seperti pipa (sepanjang ukuran udang). Kemudian diletakkan di dalam box sterofom secara rapat. Lalu udang-udang ini ditempatkan di dalam mika melingkar. Didirikan sendiri-sendiri.

Setelah selesai terisi semua dan udang-udang sudah didirikan, box sterofom yang berisi udang pada mika kembali dibungkus dengan plastik besar yang menggelembung dan diisi oksigen.

Cekrek terbilang langka. Populasinya tak merata di semua wilayah di Belitung. Juga di Indonesia. Kecuali di Sungai Lumpur, Kalimantan.

Di Belitung pun, kata Aidil, hanya di Teluk Balok. Luar itu, tanya ke nelayan di mana Allah ‘menyembunyikannya’.

Membalong juga dikenal sebagai produsen terbesar Kepiting Rajungan. Sempat mahal juga hingga menginjak harga 200.000 rupiah. Namun bukan karena corona, tiba-tiba anjlok saja hingga 100.000 rupiah per kilogram.

Sebab itu nelayan beralih mencari cekrek.

Ujung-ujungnya kini, cekrek jatuh karena corona. Rajungan tidak. Nelayan kembali ke Rajungan. Meski hanya 100.000 per kilo.

Sementara ini lupakan semua hal di atas, corona belum usai, dan harga cekrek pun masih anjlok.

Sebagai bentuk antisipasi nelayan, Kini cekrek masuk tambak. Dipelihara dulu, diberi makan tiap hari hingga corona tak lagi mengganggu kestabilan harga ekspor. Semoga.

** Pembelajar Mewarta di Belitung