ANKB Ubah Mindset Sebagai Solusi Problematika Nelayan

oleh -
ANKB Ubah Mindset Sebagai Solusi Problematika Nelayan

Oleh: Wisnu Widyadhana*

INDONESIA merupakan negara kepulauan dengan luas laut dan perairan mencapai 6,32 juta kilometer persegi. Dengan anugrah tersebut memberikan potensi yang besar bagi profesi yang mengandalkan laut sebagai tempat untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi, baik yang bersifat primer maupun sekunder.

Nelayan, merupakan salah satu profesi mata pencaharian potensial yang umum berada di seluruh wilayah Indonesia. Di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tepatnya di Kabupaten Belitung Timur Kecamatan Kelapa Kampit, terdapat sebuah komunitas bernama Aliansi Nelayan Kampit Bersatu (ANKB).

Melalui ANKB, data yang dihimpun dan terlaporkan sebanyak 527 kartu keluarga yang berprofesi sebagai nelayan di wilayah Kelapa Kampit. Mereka menghidupi keluarganya dari hasil laut. Dengan kata lain, laut di wilayah Kelapa Kampit menghidupi lebih dari 1.000 perut setiap harinya. Itu untuk satu daerah saja, bagaimana jika berbicara cakupan wilayah Indonesia?

ANKB merupakan komunitas yang fokus bergerak pada aspek lingkungan kelautan. Berawal dari orang-orang dengan pemikiran idealis, tumbuhlah suatu keinginan untuk berkumpul dan membentuk sebuah komunitas.

Komunitas ini memiliki tujuan membuka motivasi dan mengembangkan mindset nelayan. ANKB juga turut berperan aktif dalam mewadahi segala persoalan nelayan. Mulai dari faktor lingkungan, ekonomi, dan persoalan lain yang dapat mengganggu kegiatan nelayan.

Setiap harinya nelayan selalu dihadapi dengan berbagai macam persoalan. Mulai dari faktor iklim dan cuaca, faktor kerusakan lingkungan, faktor ekonomi dan permodalan, serta ancaman-ancaman lain seperti investasi penambangan laut menggunakan kapal isap, limbah, dan lainnya.

Nelayan terkadang kesulitan dalam biaya permodalan, sehingga terjadi berbagai hambatan untuk memaksimalkan kegiatan penangkapan dan di luar penangkapan.

Banyak nelayan yang kesulitan untuk memaksimalkan penangkapan ikan karena tidak memiliki alat yang bagus dan modern. Selain itu, masih banyak nelayan yang belum memiliki kapal sendiri dan harus menyewa kepada pihak ke tiga atau penampung. Di sini perlu adanya peran pemerintah untuk membuatkan program-program bantuan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat nelayan. Sehingga masalah permodalan sedikit demi sedikit dapat diatasi. Dalam hal ini harus ada kerja sama yang baik antara nelayan dan pemberian bantuan dari pemerintah. Nelayan yang sudah mendapatkan bantuan permodalan harus bisa mengalokasikan bantuan permodalan tersebut dengan bijak.

Baca Juga:  Test The Water

Menurut salah satu anggota Aliansi Nelayan Kampit Bersatu, Iwan Setiawan, masih ada nelayan yang belum bisa menggunakan biaya permodalan dengan baik, penggunaan permodalan yang tidak bijak akan percuma dan buang waktu saja.

Aliansi Nelayan Kampit Bersatu memberikan solusi kepada masyarakat nelayan untuk dapat mengolah bantuan yang sudah diberikan secara baik. Agar nantinya nelayan tidak memiliki mental berketergantungan terhadap bantuan dari Pemerintah. Penggunaan dana bantuan yang dilakukan secara maksimal dan diolah dengan bijak dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat nelayan.

Persoalan lain yang dihadapi nelayan saat ini adalah pemanfaatan teknologi yang selalu berkembang. Di era modern saat ini pengaruh teknologi tidak dapat kita hindari. Teknologi membawa perubahan pada berbagai pola kehidupan. Perubahan yang diberikan memberikan kemudahan bagi kita untuk memaksimalkan segala aktivitas kehidupan.

Kemajuan teknologi ini harus bisa dimanfaatkan oleh para nelayan guna memaksimalkan pekerjaan mereka. Pemanfaatan teknologi yang berkembang di lingkungan nelayan masih kurang. Stereotip nelayan merupakan golongan masyarakat terbawah harus diubah, nelayan harus mampu mengelola potensi yang ada di sekelilingnya untuk menafkahi dan membangun ekonomi keluarganya. Salah satunya dengan cara memanfaatkan teknologi.

Persoalan lain seperti kerusakan lingkungan, menjadi persoalan serius bagi nelayan. Kerusakan laut berdampak pada kerusakan ekosistem di dalamnya dan berkurangnya jumlah tangkapan nelayan.

Kerusakan lingkungan di darat menjadi salah satu faktor penyumbang rusaknya lingkungan laut. Penambangan yang menggunakan media air untuk penyemprotan, kemudian air dari penyemprotan tersebut akan bercampur dengan lumpur dan mengalir ke sungai. Aliran sungai yang bermuara ke laut akan membawa sedimen lumpur yang dapat mengganggu kelestarian dan keseimbangan ekosistem di laut.

Selain penambangan di darat, investasi penambangan di laut seperti yang pernah terjadi di Belitung. Pada tahun 2016 silam, ANKB dan ribuan warga Belitung lainnya mengadakan demonstrasi menolak penambangan di laut dengan menggunakan kapal isap di Perairan Kelapa Kampit (laut Pering dan sekitarnya) Kabupaten Belitung Timur.

Melihat rekam jejak yang sudah berlalu, dari kejadian tersebut pihak pemerintah seharusnya bisa menjadikannya sebagai pembelajaran, berkenaan dengan banyaknya dampak kerugian yang bisa ditimbulkan dari adanya penambangan laut dengan kapal isap tersebut, dan lebih selektif dalam memutuskan kebijakan yang akan diambil.

Baca Juga:  Perayaan Imlek Sebagai Bukti Entitas Toleransi Budaya yang Membumi

Menyikapi faktor eksternal kerusakan laut akibat pengaruh dari kerusakan di darat, di sini perlu adanya modal sosial yang dimiliki oleh setiap individu yang terlibat. Modal sosial berupa sikap saling percaya dan tanggung jawab akan perbuatan yang dilakukan. Para penambang harus bisa meminimalisir limbah dari daratan yang menuju ke lautan. Dengan saling menjaga, maka akan tercipta lingkungan yang sehat dan tidak mematikan salah satu sektor penunjang kehidupan ekonomi masyarakat.

Dari banyaknya problematika yang dihadapi, menjadikan nelayan sebagai kelompok yang harus bisa bertahan dan merubah pola pikir untuk menghadapi berbagai problematikanya. Solusi yang dapat diberikan adalah Nelayan harus bisa mengubah mindset dan pola pikir mereka agar tidak kaku.

Nelayan harus bisa menguasai teknologi, seperti memodifikasi perahu dengan menggunakan bahan fiber, memakai alat tangkap yang lebih modern. Seperti penangkapan cumi-cumi yang awalnya menggunakan umpan hidup, bisa diganti dengan menggunakan umpan buatan.

Jika tidak mampu dalam budidaya, nelayan harus bisa mengembangkan mindset untuk mengolah potensi yang ada di laut seperti membuat kapal selain untuk penggunaan sendiri, juga bisa direntalkan. Hal tersebut merupakan salah satu pemikiran dari komunitas ANKB yang sudah terealisasikan.

Selain itu, pemikiran membuka sektor pariwisata memancing ikan kerisi dari perentalan kapal salah satu pemuda yang juga merupakan anggota dari Aliansi Nelayan Kampit Bersatu.

Nelayan juga tidak bisa hanya mengandalkan hasil dari penangkapan saja, masyarakat nelayan harus bisa mengembangkan mindset mereka terhadap pengelolaan potensi kelautan seperti budidaya. Selain itu Komunitas ini juga berdiskusi dan berkoordinasi dengan instansi terkait seperti pemerintah daerah, provinsi, dinas perikanan dan kelautan juga dinas lingkungan hidup yang menaungi nelayan dan lingkungan untuk meminimalisir berbagai persoalan yang akan dihadapi. Salah satunya konflik horizontal di antara masyarakat. Dan juga pengusulan pembangunan Minapolitan di daerah Belitung Timur.

Saat ini, komunitas ANKB sedang memperjuangkan tentang penetapan harga jual dan harga beli oleh pemerintah baik lokal maupun ekspor. Karena saat ini kendala lain yang dihadapi oleh nelayan untuk wilayah Kelapa Kampit adalah adanya monopoli harga. Sehingga menyulitkan nelayan untuk bergerak dan disulitkan dengan harga. Aliansi Nelayan Kampit Bersatu berusaha mendiskusikan dengan pemerintah daerah untuk mengeluarkan produk hukum terkait penetapan harga jual dan beli.

Baca Juga:  Efektivitas Regulasi Omnibus Law Pada Sistem Hukum Indonesia

Untuk pihak pemerintah provinsi dan daerah juga harus bisa lebih memperhatikan nelayan. Dalam satu tahun nelayan bekerja, maksimalnya hanya bisa dilakukan selama delapan bulan untuk pembiayaan satu tahun. Lagi-lagi pemerintah harus bisa lebih fokus pada nelayan dengan memberikan dukungan berupa alat tangkap ikan yang layak agar dapat meningkatkan perekonomian dan tingkat kesejahteraan masyarakat nelayan dalam suatu daerah. Perlu adanya modal sosial yang terbangun antara kedua pihak baik pemerintah dan nelayan agar tujuan yang ingin dicapai terealisasikan.

*) Mahasiswa Sosiologi FISIP Universitas Bangka Belitung.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news dari jabejabe.co. Yuk gabung di Grup Telegram Jabejabe.co News Update, caranya klik link Jabejabe.co News Update kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *