Tindak Lanjuti Laporan Nelayan Bubu, Pemdes dan Warga Desa Sukamandi Sita Alat Punton TI Rajuk di Eks Pelabuhan Acang

by -
Tindak Lanjuti Laporan Nelayan Bubu, Pemdes dan Warga Desa Sukamandi Sita Alat Punton TI Rajuk di Eks Pelabuhan Acang (1)
Situasi saat aksi turun lapangan warga dan Pemdes Sukamandi ke area aktifitas pertambangan ilegal di kawasan Eks Pelabuhan Acang, Manggar Beltim, Jumat (22/1/2020). Foto: Ist.

DAMAR, JABEJABE.co – Atas dasar laporan Nelayan Bubu, masyarakat Desa Sukamandi yang didampingi Pemerintahan Desa melakukan tindak lanjut terkait adanya aktifitas Ponton TI Rajuk di wilayah Sepadan Sungai Aik Raye Sungai Manggar, tepatnya di sekitar kawasan Eks Pelabuhan Acang, Jumat (22/1/2021) siang.

Kepala Desa Sukamandi, Sartono menyebutkan, langkah yang diambil Pemerintah Desa (Pemdes) Sukamandi Kecamatan Damar bersama-sama dengan pemuda Sukamandi tentunya memiliki dasar.

“Awalnya ada dua Nelayan Bubu yang juga merupakan warga Desa Sukamandi melaporkan ke kantor desa terkait adanya aktifitas tambang di kawasan eks Pelabuhan Acang kemarin (Kamis, 21/1/2021). Namun karena tidak ada dasar, kami dari Pemdes Sukamandi kan butuh bukti di lapangan seperti apa, jadi kami minta berupa foto dan video untuk kelengkapan berkas laporan mereka,” ujar Sartono saat ditemui jabejabe.co.

Kemudian, pada Kamis (21/1/2021) sore itu, lanjut Kades Sukamandi, nelayan tersebut mengirimkan dua video dan bagaimana pada kenyataan di lapangan.

Bahkan, kata Sartono, menurut pengakuan nelayan, pada Jumat (22/1/2020) pagi, yakni saat nelayan mengangkat bubu, masih ada aktifitas tambang Ponton TI Rajuk di kawasan tersebut. Nelayan yang memberikan data ini, lanjutnya, siap bersaksi jika memang diperlukan.

“Mungkin karena mereka mengira kami akan datang siang, jadi paginya mereka masih beraktifitas. Kemudian waktu kami datang mereka sudah tidak beroperasi,” imbuh Sartono.

Selanjutnya pada hari Jumat (22/1/2021) siang, yakni sekitar pukul 14.00 WIB, Warga Sukamandi bersama-sama dengan Pemdes Sukamandi mendatangi lokasi.

Sebagaimana kesepakatan bersama yang sudah dilakukan Pemdes Sukamandi dan para penambang pada tanggal 5 Oktober 2020 lalu, berdasarkan poin ketiga, maka Warga dan Pemdes Sukamandi melakukan penyitaan barang bukti. Diantaranya satu unit mesin diesel, satu tutup kop mesin, karpet filter timah, mata rajuk, dan pompa mesin.

“Kami menduga, barang yang kami sita ini memang rajuk yang kemarin beroperasi,” kata Sartono.

Sebagai tindak lanjut dari langkah ini, menurut Sartono nanti ada perwakilan masyarakat yang akan melaporkan ke pihak yang berwajib.

Selain itu, dirinya berarap di sepadan Sungai Manggar steril dan tak ada lagi aktifitas TI rajuk. “Dan kalau pun tidak juga berhenti, akan terus berlangsung (Tindakan masyarakat) seperti ini,” tukasnya.

Sartono juga meyakinkan, bahwasannya langkah ke depan yang akan dilakukan oleh Pemdes Sukamandi dan warga yakni tidak akan berhenti sampai di sini. Pihaknya akan berkoordinasi dengan dinas terkait, yakni Dinas Lingkungan Hidup dan UPT Dinas Pertambangan Provinsi Kep. Bangka Belitung terkait bagaimana pertambangan di luar IUP, yakni di DA.

“Karena kita semua tahu ada aktifitas tambang ilegal di wilayah tersebut,” tandasnya.

Tiga Poin Kesepakatan antara Penambang dan Pemdes Sukamandi

Sebagaimana tayangan pemberitaan di jabejabe.co pada tanggal 5 Oktober 2020 lalu, surat pernyataan di atas materai untuk tidak melakukan kegiatan penambangan di Sepadan Aliran Sungai Manggar dan sekitarnya dibuat oleh salah satu perwakilan penambang, Sudin Amin, Senin (5/10/2020).

Selain tandatangan Sudin, lembar pernyataan ini juga ditandatangani oleh 21 pemilik pontoon/ rajuk, serta dihadiri tiga orang saksi dari masyarakat, Bhabinkamtibmas Desa Sukamandi dan Babinsa Desa Sukamandi.

Surat tersebut berbunyi sehubungan telah dilaksanakannya aksi turun ke lapangan oleh masyarakat Desa Sukamandi pada Senin (5/10/2020), terhadap aktivitas penambangan ilegal jenis rajuk yang berada di wilayah Sepadan Aliran Sungai Manggar/ Raye, khususnya wilayah Eks Pelabuhan Acang, terdapat tiga poin yang disepakati oleh masyarakat dan pihak penambang.

Poin Pertama; bahwa masyarakat Desa Sukamandi melakukan penolakan sekeras-kerasnya terhadap aktivitas penambangan ilegal jenis rajuk di wilayah daerah aliran sungai Manggar/ Raye. Khususnya di wilayah Eks Pelabuhan Acang, serta wilayah hutan lindung pantai Desa Sukamandi Kecamatan Damar.

Selanjutnya Poin Kedua; bahwa batas-batas waktu yang ditentukan untuk pembersihan area pembongkaran alat pertambangan dalam waktu 12 jam terhitung mulai surat ini dibuat dan disepakati

Dan terakhir, yakni Poin Ketiga; apabila dalam jangka waktu yang telah disepakati masih ada alat penambangan atau aktivitas penambangan di wilayah tersebut, maka pihak penambang tidak akan menuntut baik secara materiil ataupun hukum yang berlaku, apabila terjadi tindakan tegas berupa pengrusakan ataupun pembakaran oleh masyarakat Desa Sukamandi. (*/jb)

Editor: sue