Tentang Lembaga Adat

by -
Tentang Lembaga Adat (2)

Oleh: Akhlanudin*

BERTEMPAT di Rumah adat Belitung, Bupati Belitung H. Sahani Saleh membuka Musyawarah Daerah Lembaga Adat Belitung (20/8-2020) yang bertepatan dengan 1 Muharram 1442 Hijriah. Lembaga Adat adalah suatu organisasi kemasyarakatan adat yang dibentuk oleh suatu masyarakat hukum adat tertentu yang mempunyai wilayah tertentu, harta kekayaan sendiri serta berhak dan berwenang dalam mengatur sumber alam dan mengurus untuk menyelesaikan hal-hal yang berkaitan dengan adat Melayu Belitung dalam wilayah kewenangannya

Beberapa catatan saya selaku Ketua Dewan Kesenian Belitung 2014-2018, hal yang perlu dan urgen dibahas oleh masyaraakt adat, penyelenggaraan lembaga-lembaga adat dan pembinaan adat istiadat, maka berbagai hak-hak masyarakat yang berkaitan dengan hak-hak adat, terutama hak hutan adat di Pulau Belitung.

1. Perlu dikaji dan diatur kembali tata ruangnya menjadi bagian regulasi pemerintah, sehingga masyarakat adat akan merasa memiliki hutan (sense of belonging), memanfaatkan dan mengawasi bagi kesejahteraan hidupnya (penguasaan negara pada hakekatnya penguasaan rakyat).

2. Untuk pengaturan tata ruang, misalnya yang menjadi peran, wewenang batas-batas hak adat: tertentu: ke hulu sejauh dapat terjangkau pulang pergi dalam sehari, ke laut sejauh dapat dijangkau oleh pukat pantai. Batas-batas tanda alam lain seperti: puncak gunung, jurang, sungai, pohon besar atau berdasarkan kesepakatan antar wilayah komunitas masyarakat.

3. Menentukan hak-hak masyarakat adat, secara jelas dalam regulasi/ peraturan yang dibuat, termasuk ketentuan bagi hasil (dalam pemanfaatan hutan adat atas perkebunan Sawit dan HTI) yang dapat dinikmati serta wewenang pengawasan oleh Pawang Hutan / masyarakat, guna menumbuhkan sense of belonging di lingkungan masyarakat

4. Dalam hukum adat segala hasil hutan seperti air madu lebah, getah karet, sarang burung, rotan, damar, kayu-kayuan (tidak untuk rumah sendiri) untuk dijual, harus dikenakan 10 % untuk kesejahteraan tetua adat.

5. Dalam hutan, dilarang memotong pohon Kelekak seperti: kemuning, ketapang, glumpang, beringin yang beras-besar untuk sarang lebah dan pohon-pohon meudang ara, pohon besar yang dapat dibuat perahu dan kapal. Semua itu dapat dilakukan atas izin dari Tetua adat.

*Ketua Dewan Kesenian Belitung 2014-2018