Temuan Sensus Malam di Beltim: 11 Tahun Carman Tidak Pulang ke Indramayu

by -
Temuan Sensus Malam di Beltim, 11 Tahun Carman Tidak Pulang ke Indramayu - 2 (2)
Nelayan asal Indraayu, Carman, saat ditanyai petugas Sensus, Selasa (15/9/20) Malam. Foto: Fauzi/Diskominfo Beltim.

MANGGAR, JABEJABE.co – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Belitung Timur melakukan Sensus Malam (Cencus Night) Serentak dengan menyisir Kota Manggar untuk mencari tuna wisma dan nelayan yang tinggal di perahu, Selasa (15/9/20) Malam.

Kepala BPS Kabupaten Beltim Azhar mengungkapkan pelaksanaan Sensus Penduduk (SP) pada malam hari bertujuan untuk mendata warga yang luput dari petugas sensus biasa. Sasarannya warga yang tidak mempunyai rumah atau warga luar daerah yang tinggal di perahu minimal satu bulan saat dimulainya pelaksaan SP 2020.

“Kegiatan pada Sensus Day ini dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia. Kita keliling Kota Manggar malam hari agar dalam SP ini tidak ada yang terlewatkan,” kata Azhar kepada media.

Dalam kegiatan yang dimulai sejak pukul 21.00 hingga 00.00 ini petugas berhasil menemukan satu tuna wisma dan 13 nelayan dari luar Pulau Belitung yang berbulan-bulan belum pernah pulang ke daerah asalnya. Warga tersebut kemudian langsung didata untuk masuk dalam sensus.

“Bukan hanya di Kota saja, kita juga menyisir Pelabuhan Pasar Ikan Manggar. Di sana kita temukan ada 13 nelayan dari luar Kabupaten Beltim yang tinggal di 4 perahu selama berbulan-bulan,” ujar Azhar.

Yang menarik, Azhar mengungkapkan salah seorang nelayan, Carman (56) tidak pernah pulang dan bertemu keluarganya selama 11 tahun. Pria asal Indramayu Jawa Barat tersebut terpaksa harus tinggal di perahu lantaran tidak ada biaya dan kehilangan kontak dengan keluarga di Kampung halamannya.

“Pak Carman hanya tinggal di perahu selama 11 tahun. Beliau pernah kehilangan dompet bersama uang, identitasnya dan Hp-nya, sehingga beliau tidak bisa lagi berkomunikasi dengan keluarganya,” ungkap Azhar.

Azhar berharap dengan adanya momen SP ini keberadaan keluarga Carman dapat ditemukan. Azhar menyatakan Ia sudah berusaha membantu dengan memberitahukan perihal pencarian keluarga yang hilang itu saat melakukan pertemuan virtual dengan petugas BPS dari daerah lainnya.

“Beliau berharap dengan adanya sensus penduduk ini dapat menemukan kembali keluarganya yang hilang. Kita juga sudah memberitahukan dengan rekan-rekan BPS,” harap Azhar.

Petugas Sensus Datangi 8 Pelabuhan Khusus

Pada pelaksanaan Cencus Day, Selasa (15/9/2020) Siang sebelumnya, petugas dari BPS Kabupaten Beltim juga melakukan sensus penduduk terhadap anak buah kapal (ABK) berbendera Indonesia yang menambatkan sauh di berbagai pelabuhan di Kabupaten Beltim. Hasilnya dari 8 pelabuhan khusus yang didatangi, petugas berhasil mensensus 196 ABK dari 18 kapal yang sedang berlabuh.

Dalam pelaksanaan kegiatan ini, petugas BPS dibantu oleh satuan tugas (Task Force) gabungan dari Kantor Unit Pelayanan Pelabuhan (KUPP) Kelas III Manggar, Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas III Manggar, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil serta Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Beltim.

Satuan tugas yang berjumlah 15 orang itu dibagi dalam tiga tim. Masing-masing tim bertugas untuk mendampingi petugas BPS saat melakukan sensus ke pelabuhan khusus yang tersebar di 6 Kecamatan di Kabupaten Beltim.

“Karena di Beltim ini tidak ada kapal yang sandar di pelabuhan umum, namun hanya di pelabuhan khusus sehingga kita perlu task force ini, baik untuk masalah kesehatan terkait COVID maupun perizinan untuk masuk ke dalam areal pelabuhan atau naik ke kapal,” jelas Kepala Kantor BPS Kabupaten Beltim Azhar.

Berbeda dengan daerah lainnya yang melakukan sensus bagi ABK pada malam hari, khusus untuk Kabupaten Beltim pelaksanaan sensus bagi ABK dilakukan pada siang dan sore hari. Hal ini lantaran lokasi pelabuhan khusus yang letaknya tersebar dan berada di pelosok.

“Kita sudah meminta izin untuk melakukan di siang hari, selain Kabupaten Beltim ada Gorontalo Sulawesi yang melakukan siang hari. Pertimbangannya karena di Kabupaten Beltim kapal merapat di pelabuhan khusus jaraknya jauh dan cukup banyak,” beber Azhar.

Selain itu pula Azhar yang juga ikut turun ke lapangan menyatakan kondisi keamanan serta risiko keselamatan petugas lebih tinggi jika sensus terhadap ABK dilakukan saat malam hari. Mengingat kondisi lokasi dan akses baik jalan menuju pelabuhan maupun ke kapal kurang memungkinkan.

“Kita tadi harus meniti di tepi-tepi kapal tongkang dan memanjat badan kapal untuk menuju ke tug boat. Gelombangnya lumayan tinggi, makanya kalau dilakukan malam hari akan berisiko,” ujarnya.

Meski begitu, Azhar pelaksanaan Sensus Day di Kabupaten Beltim dapat berjalan sesuai dengan harapan. Seluruh ABT dan tuna wisma di KAbupaten Beltim dapat disensus oleh petugas. (@2!)

Sumber: Diskominfo Beltim
Editor: sue