Tanggap Darurat Covid-19!

by -
Ares Faujian - Tanggap Darurat Covid-19

Oleh : Ares Faujian**

VIRUS Corona evolusi atau saat ini dikenal dengan nama Covid-19 ibarat fenomena aplikasi Tik Tok. Populer, karena terkenal sebagai virus yang cepat mengglobal. ‘Berprestasi’, karena jangkauannya sangat luas, dengan kasus terinfeksi terbesar di dunia, yaitu ratusan ribu jiwa dan kematian yang terus naik dari hari ke harinya di berbagai negara.

Sebagai ‘anak baru’ yang mulai terdengar pada Desember 2019, eksistensi virus evolusi asal Wuhan (China) yang satu ini tidak boleh dianggap remeh. Walau dahulu virus Corona dianggap sebelah mata karena bisa sembuh dengan sendirinya. Toh, kali ini jenis virus ini sudah ‘naik kelas’ dengan penyebaran yang begitu cepat dan mengakibatkan kematian di negara tempat ia kunjungi, termasuk di Indonesia.

Menurut data dari BNPB Indonesia melalui juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19 (Corona Virus Disease 2019), Achmad Yurianto, lewat akun YouTube BNPB Indonesia (Kamis, 19/03/2020). Catatan akumulasi kasus positif Codiv-19 secara nasional mencapai 309 kasus. Dengan kematian mencapai angka 25 orang dan pasien yang sembuh sebanyak 15 orang. Tingkat kematian menjadi 8,09% setelah sehari sebelumnya 8,37%.

Data ini pun bersifat dinamis, karena akan berubah dari hari ke hari tergantung cepat atau tidaknya pemerintah (pusat/daerah) dalam penanganannya, serta kerja sama antar elemen masyarakat berikut kesiapan fasilitas yang ada. Namun, yang perlu menjadi catatan kita bersama adalah, baru satu hari berselang, sudah ada kenaikan signifikan dari 227 kasus (18/03/2020) menjadi 309 kasus (19/03/2020) terinfeksinya warga Indonesia. Bagaimana jika sudah satu bulan atau dua bulan dan seterusnya??

Untuk informasi global, berdasarkan data dari kompas.com (2019) berkenaan Covid-19, China (81.102 kasus, lebih dari 3.122 kematian) dan Italia (35.713 kasus, 2.978 lebih kematian) menjadi sampel informasi yang sangat penting bagi kita. Mengapa demikian? Dua negara ini sangat besar kasus terinfeksinya saat ini.

Berdasarkan data tersebut, jika kita lebih teliti, angka kematian di China dan di Italia hampir mendekati (sama). Padahal China lebih dahulu terkena wabah Covid-19 dibandingkan Italia. Dan, untuk perbandingan jumlah terinfeksi dan kematian, Italia lebih tinggi dibandingkan China. Lalu, apa perbedaan dari kedua negara tersebut? Nah, ini yang perlu kita cepat respon dan tanggap!

Indonesia kini lebih tinggi persentasenya dari Italia, yaitu 8,09%, serta menjadi negara yang tingkat kematiannya paling tinggi di dunia, walau secara data masih dinamis. Dengan adanya data tersebut, seharusnya kita lebih peka dan responsif terhadap arah perubahan sosial ke depan. Akankah kita akan sama seperti China dan Italia, atau negara lainnya yang mengalami pandemik yang sama?

Perbedaan cara menangani pemerintah dan atau respon sosial dari warga masyarakat antara China dan Italia pasti begitu berbeda. Awalnya seperti kita (Indonesia), pasti ada sebagian masyarakat yang menganggap remeh wabah ini dan berasumsi bahwa virus ini tidak akan sampai di negeri +62 (Indonesia). Toh, ini terjadi di sebagian masyarakat Italia. Lalu, lihat apa yang terjadi? Anggapan remeh tersebut dibayar kontan dengan penyebaran yang begitu gesitnya dari virus Corona tipe terbaru ini.

Sebenarnya, pemerintah pusat dan daerah serta aparat berikut sukarelawan sudah berjuang penuh untuk mencegah dan mengatasi masalah ini. Namun, ada beberapa kendala-kendala yang penulis amati berasal dari respon sosial masyarakat yang kurang taat terhadap himbauan, surat edaran dan status darurat global ini. Di mana, ada sebagian masyarakat yang masih menganggap ini adalah masalah sepele karena masih jauh dari wilayahnya serta kurangnya sosialisasi/edukasi tentang wabah virus ini di kalangan tertentu.

Hal ini teridentifikasi dengan diberikannya waktu untuk bekerja/belajar di rumah dari pemerintah, akan tetapi sebagian masyarakat menggunakannya untuk pergi ke tempat wisata atau berkunjung ke pusat keramaian lainnya. Apakah mereka tidak berpikir pusat keramaian adalah pasarnya inang virus Corona?

Kita tak pernah tahu lingkup orang-orang yang hadir di pusat keramaian tersebut. Apakah mereka orang yang positif virus Corona, ataukah mereka pernah bersentuhan dengan orang yang positif virus Corona? Sehingga hal ini menjadi resiko sebagai media pembawa virus untuk mencari rumah-rumah barunya.

Langkah-langkah pencegahan seperti kuncitara (lockdown) di beberapa area yang telah mewabah (seperti Jakarta), melakukan jarak sosial (social distance) antar individu/kelompok, hingga upaya preventif mandiri (rutin mencuci tangan, memakai masker, perkuat imun dengan konsumsi vitamin, rutin minum air putih, hingga tidur/istirahat yang cukup) harus kita taati.

Himbauan dari pemerintah ini harus dibantu dengan kerja sama untuk peka dan tanggap aksi bagi seluruh warga Indonesia. Karena hal ini adalah salah satu kunci kesuksesan dalam social movement (gerakan sosial) kita bersama dalam melawan penjajahan virus Corona. Dan kekompakan adalah modal usaha yang utama.

Ingat! Tetap waspada dan jangan panik terhadap dinamika berita di berbagai media massa.

Yang perlu kita lakukan saat ini adalah, taati kewajiban kita sebagai manusia yang sehat, taati kewajiban kita sebagai warga negara yang baik, dan taati kewajiban kita yang bersumbangsih terhadap pertahanan kesehatan dan angka kehidupan di Indonesia. Lakukan sosialisasi dan edukasi ke keluarga dan masyarakat berkenaan hal ini demi membantu pemerintah dan negara agar terbebas dari Covid-19.

Dengan berpedoman pada Tri-Taat Kewajiban tersebut, insya Allah akan kita raih hasil yang baik dalam mengatasi wabah penyakit ini dengan fondasi tetap dalam imtaq, usaha, doa, dan tawakal kepada Allah SWT. Semoga tulisan ini bermanfaat sebagai referensi pengingat bagi kita semua.

Mari sehat! Mari bersama lawan virus Corona!

**Penulis Senior Karya Muda Belitung (KMB), Pengurus Asosiasi Guru Penulis Indonesia Prov. Kep. Babel, dan Fasilitator Literasi Baca-Tulis Regional Sumatra.

Editor: Subrata Kampit