Tak Ada Urusan Cabut-mencabut, Beliadi: MUI Beltim Sudah Benar dan Jalankan Tugas Sebagaimana Fatwa MUI Pusat

oleh -
Tak Ada Urusan Cabut Mencabut, Beliadi Sebut MUI Beltim Sudah Benar dan Jalankan tugas Sebagaimana Fatwa MUI Pusat (1)

MANGGAR, JABEJABE.co – Sehubungan adanya pemberitaan salah satu media di Belitong yang mengaitkan dengan nama Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Beliadi, SIP, merasa perlu memberi klarifikasi, melindungi kesucian nama besar MUI.

Menurut Beliadi, yang dilakukan MUI sudah benar dan menjalankan tugasnya sebagaimana petunjuk fatwa MUI Pusat.

Ketua Fraksi Gerindra Provinsi Kepulauan Babel ini juga menilai, Pemda tidak perlu terlalu reaktif terhadap penyataan sikap MUI. Namun apa yang seharusnya dilakukan oleh Pemda Beltim adalah mendata seluruh masjid-masjid yang akan melaksanakan sholat berjamaah.

Setelah didata, kata Beliadi, masjid-masjid yang melakukan sholat berjamaah harus ikut standar protokoler kesehatan.

Diantaranya, lanjut Ketua DPC Gerindra Kabupaten Beltim tersebut, sering-sering disemprot desinfektan, sabun pencuci tangan harus tersedia, semua jamaah dilakukan pengukuran suhu badan, dan disediakan masker.

“Masker, sabun, desinfektan, dan alat pengukur suhu badan disediakan oleh Pemda, ini yang benar,” ujar Beliadi.

Beliadi pun menilai ada keanehan yang dilakukan Pemkab Beltim. Menurutnya, Pemda Beltim terlalu reaktif dengan sikap MUI Beltim. Apalagi, dalam hal ini MUI hanya manjalankan apa yang menjadi amanat MUI pusat.

“Mengamankan kerumunan manusia di pasar bisa, masa mengatur masjid tidak bisa,” ujarnya mengkritisi Pemda Beltim.

Sebaiknya, kata Beliadi, selain yang dijelaskannya dari beberapa poin di atas, ada baiknya Pemda lebih fokus ke pemberian bantuan dana dan sembako untuk masyarakat. Terutama mereka yang dikatagorikan tidak mampu sesuai arahan menteri dan pemerintah pusat, serta mencukupi APD (alat pelindung diri) serta obat untuk paramedis.

“Dan satu hal lagi, demi menjaga nama besar dan kesucian MUI, saya pikir salah satu media di Belitung ini harusnya lebih detail lagi membaca kesepakatan bersama yang dilakukan hari ini, Kamis (7/5/2020),” kata Beliadi.

Janganlah MUI disudutkan dengan kata mencabut pernyataan sikap, karena tidak ada urusan cabut-mencabut selaku lembaga yang berwenang dalam urusan agama islam.

Menurut Beliadi, sikap MUI sudah benar dan clear, namun jika hari ini MUI menyepakati kesepakatan bersama tetang beribadah di rumah, itu bukan berarti MUI mencabut penyataan sikapnya.

Namun, selaku ormas islam yang tidak berhak mengatur masyarakat, mereka mematuhi arahan pemerintah. Karena kewenangan pengaturan tatanan bermasyarakat adanya di pemerintahan, dan bukan ranah MUI.

“Namun, janganlah dibuat seakan-akan MUI menjilat ludah sediri seperti ada bahasa cabut-mencabut, kasihan MUI,” ujarnya.

Dikatakan Beliadi, MUI adalah salah satu ormas islam besar di Indoneisa yang harus dijaga kehormatan dan kesuciannya.

“Dalam MUI ini ada ulama-ulama yang harus kita hormati. Tolong jangan dipelintir orang-orang tulus seperti ulama-ulama ini. Saya memang bukan pengurus MUI, tapi saya sangat menghormati MUI. Siapa yang ganggu MUI siap-siap kite berurusan,” tegasnya. (rel)

Editor: sue

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *