Suntikan Kecemasan Merdekakan Covid-19

by -
Suntikan Kecemasan Merdekakan Covid-19

Oleh: Friya Amanda*

KEHIDUPAN manusia bersifat dinamis, dan dari kedinamisan tersebut dapat dipastikan bahwa dalam proses kehidupan menimbulkan berbagai masalah dan juga solusi bagi seorang individu dalam kehidupan bermasyarakatnya.

Meskipun demikian, masyarakat pada dasarnya memang akan selalu mengalami perubahan. Kehidupan dalam masyarakat tidak bisa dibayangkan sebagai kehidupan yang monoton.

Musibah yang terjadi sekarang ini, secara tidak langsung telah menunjukkan bentuk kedinamisan tersebut. Secara sosiologis, pandemi Covid-19 telah menyebabkan perubahan sosial yang tidak direncanakan dalam kehidupan bermasyarakat ini.

Yang artinya, perubahan sosial terjadi secara langsung dan tidak dikehendaki kehadirannya oleh siapapun.

Akibatnya, ketidaksiapan masyarakat dalam menghadapi pandemi ini menyebabkan disorganisasi sosial dalam berbagai aspek kehidupan bermasyarakat.

Penyebaran wabah virus corona yang sangat cepat, memang mengkhawatirkan. Wabah ini sendiri masih belum diketahui secara pasti kapan akan berakhir menguasai dunia. Tak heran jika banyak individu yang mengalami ‘kecemasan’.

Setiap individu memiliki tingkat kecemasannya masing-masing. Dengan kata lain, tingkat kecemasan tiap individu tidak bisa disamaratakan. Tidak semua orang dapat mengelola dan mengontrol kecemasan yang dialami dengan baik.

Psikiater Elisa Tandiono mengatakan, penyakit yang angka kematiannya meningkat setiap hari ini membuat orang jadi lebih menggunakan emosi ketimbang logika. Akibatnya, timbul rasa cemas dan resah yang membuat banyak orang mengasumsikan bahwa kenyataan lebih parah dari seharusnya.

Nah, rasa cemas atau anxiety ini dapat diketahui dengan melihat berbagai gejalanya. Gejala tersebut memiliki frekuensi dan tingkat keparahan yang berbeda. Berikut ini adalah beberapa gejala yang dapat muncul saat seorang individu mengalami kecemasan:

1. Berkeringat
2. Berdebar- debar atau palpitasi
3. Sesak di dada atau merasa seperti tersedak
4. Nyeri dada
5. Merasa seperti mengalami serangan jantung
6. Ketakutan
7. Gemetar
8. Merasa seperti tidak berdaya (lemas).

Kecemasan itu adalah emosi yang normal untuk setiap orang, benteng pertahanan diri. Tetapi apabila berlebihan, itu bisa menjadi musuh yang nantinya akan membuat kita menderita.

Suntikan perasaan cemas yang terus meningkat ini dapat mengganggu fisik dan psikis seorang individu. Meningkatnya rasa cemas itu berasal dari diri sendiri yang tidak bisa menerima, terus protes, komplain dan lain sebagainya terhadap kondisi atau keadaan yang tidak masuk dalam pikirannya. Oleh karena itu, pentingnya untuk bisa mengolah pikiran dengan baik.

Perlu diketahui, olah pikir (intellectual development) berkaitan dengan cara pandang seorang individu terhadap sesuatu. Baik hal yang berkaitan dengan masa depan maupun apa yang sedang terjadi.

Pikiran menentukan apa yang kita perbuat dan ucapkan, pikiran yang baik mengarahkan seseorang untuk dapat menjalankan hal yang baik, begitu pula sebaliknya.

Dapat disimpulkan bahwa sebenarnya, olah pikir dapat menghasilkan energi positif yang dapat membangkitkan semangat dan jiwa seorang individu, sehingga apapun yang kita lakukan apabila didasari oleh niat – niat yang baik, akan berjalan sedemikian mestinya.

Setelah bisa mengolah pikiran dengan baik, ada banyak hal yang bisa dilakukan. Contoh-contoh berikut dapat membantu seorang individu dalam proses mengontrol kecemasan dalam diri, antara lain:

1. Batasi ‘konsumsi’ media;
2. Banyak melakukan kegiatan positif;
3. Tetap terhubung baik dengan orang- orang terdekat;
4. Rajin untuk berolahraga; dan
5. Mendapat makan dan tidur yang cukup untuk tubuh.

Terlihat seperti suatu hal yang kecil memang, namun besar dampaknya bagi dunia. Dengan bisa mengontrol kecemasan, kita sudah ikut berperan dalam usaha mencegah dan memutus rantai penyebaran Covid-19.

Kesadaran akan melindungi dan menjaga satu sama lain karena tahu, bahwa kita setiap individu memerlukan dan memberikan bantuan pada individu lainnya dalam proses kehidupan ini.

“Kedalaman makna hidup manusia ditentukan oleh kemampuan mereka untuk peduli kepada sesama.” – Pablo Casals.

*) Siswa Kelas Sosioliterasi Generasi 2 SMA Negeri 1 Manggar