Suara Daerah (Belitung) dalam Melawan Corona

by -
Suara Daerah (Belitung) dalam Melawan Corona

Oleh: Isyak Meirobie

Saya terpaksa.

Karena hati saya juga tak kuasa.

Saya sangat tahu bahwa semua yang sedang berada di Pusat Laboratorium Bio Medis bekerja sangat luar biasa, dengan waktu dan tenaga yang dahsyat.

Sudah berhari-hari kami dari Kabupaten Belitung mengirimkan 14 specimen/sample untuk test covid 19 ke Pusat Lab Bio Medis Kemenkes.

Kami penuh optimisme bisa menaklukkan corona di Belitung. Banyak persiapan kami lakukan.

Semua elemen bergerak, jajaran Pemda, Para medis, instansi vertikal, TNI POLRI, Forkopimda, BUMN, Komunitas Sosial Belitung yang dalam beberapa hari berhasil mengumpulkan donasi setengah Milyar dan membantu pemda menyalurkan hampir 250 pcs Alat pelindung diri ke rumah sakit, puskes dan pusat deteksi maupun pos deteksi dini corona di Belitung.

Tujuannya agar para dokter dan perawat sedikit banyak terjaga dari virus dan harganya sekarang sudah Rp800.000,- satu baju.

Kutipan Kalimat Isyak Meirobie, Suara Daerah (Belitung) dalam Melawan Corona

Kami membuat sanitizer dengan mesin buatan Jepang yang dibeli 4 (empat) unit, setara dengan harga satu unit mobil avanza baru dan dibagikan ke berbagai titik penting dengan waktu produksi hampir 24 jam.

Suplai vitamin untuk pekerja medis dan kebersihan, mengadakan 25 thermogun, membuat disinfectan gate untuk menyiram semua penumpang pesawat dan kapal Laut (Sabtu, 28/3/2020) dan tempat cuci tangan di banyak tempat.

Kami pun gerak cepat menyemprot disinfektan ke banyak lokasi.

BPBD dan lain bergerak cepat.

Kominfo membuat smart screening di web dan informasi satu pintu.

Kami begitu bersemangat melawan corona.

Namun, masalah mulai.

Saat specimen mau dikirim, kami terkendala pesawat yang terotorisasi untuk mengangkutnya.

Hanya ada Garuda yang bisa, namun adanya di tiga hari saja dalam seminggu.

Kami kembali tertunda.

Namun karena sahabat-sahabat baik di pusat, terobos sana sini, akhirnya Kemenhub meringankan dan mengeluarkan edaran bahwa ada Citilink dan Lion Air yang bisa mengangkut specimen tadi karena “kategorinya khusus” yang harus terus terjaga di suhu “khusus” pula dengan packaging sangat “khusus”.

Ya, ini penting untuk keakuratan dan keamanan.

Akhirnya terkirimlah specimen tersebut. Senang sekali hati kami.

Hari demi hari kami tunggu hasilnya. Telp dan Whatsapp terus kami lakukan ke pusat Lab Bio Medis Kemenkes untuk menanyakan hasilnya. Mengapa? Karena RSUD kami terbatas ruang dan bed-nya untuk covid 19 .

RSUD H. Marsidi Judono adalah RS rujukan untuk kasus covid 19 dan menangani dua kabupaten di Pulau Belitung.

Bisa dibayangkan bagaimana ramainya PDP dan ODP di RS ini.

Karena itu percepatan hasil lab akan menentukan kecepatan gerak kami dalam mengambil langkah berikutnya.

Jika negatif bisa dipindah ke ruang biasa dan dipulangkan.

Jika positif kami akan “gempur” lokasi yang terpapar beserta potensi kontak fisik yang terindikasi terpapar.

Belum lagi secara psikis para PDP dan ODP menanti hasil lab dengan penuh tekanan dan stigma, kKita bisa bayangkan.

Sekarang sudah berhari-hari kami hanya mendapat 5 hasil lab dari 14 specimen yang kami kirimkan .

Oh ya, waktu itu VTM kami pun nyaris habis.

VTM /Swab adalah virus tranfer media, wadah untuk specimen tadi.

Kami berhasil mendapatkan VTM dari Kapuslab Bio Medis sebanyak 20 pcs. Untuk 10 pasien dan beberapa dari Dinkes Provinsi Bangka Belitung. Kami berusaha membeli tapi tidak tersedia.

Kembali ke hasil lab. Sampai saya menulis ini, saya harus mengemis-ngemis ke beberapa orang di Puslab tiap jam, tiap hari via whatsapp dan telp (terpaksa), terkait hasil yang kami tunggu tersebut.

Seperti inikah gambaran kondisi kesiapan kita menghadapi corona?

Ketika daerah seperti kami bekerja keras membentengi dan menggempur si corona.

Ketika Presiden dan jajaran bekerja keras untuk melakukan berbagai upaya yang lebih tepat dan cepat.

Kami harus menghadapi fakta bahwa kegagalan kami dalam mencegah corona menyebar di Belitung nanti bisa jadi salah satunya adalah kelambatan hasil lab.

Dan respon yang sangat minimal.

Dinkes dan direktur RSUD kami bahkan tak lagi punya akses untuk mendapat informasi hasil lab.

Semua berserah pada saya sebagai Wakil Bupati.

Saya pun harus menghubungi pak Menkes. Kebetulan beliau saya kenal sejak beliau kolonel dan menjadi dokter kepresidenan RI yang merawat ayah angkat saya, alamarhum DR. Sjahrir, Wantimpres RI di era SBY.

Kesibukan dan banyaknya urusan pak Menkes tentu tak bisa lagi meng-handle satu per satu kabupaten seperti kami. Walaupun saya tahu beliau sangat memberi atensi terhadap permohonan saya.

Jadi, kalau kita mau kalahkan corona, social distancing itu penting, disiplin dan komitmen warga juga penting.

Kesigapan pemimpin di level daerah sampai desa juga penting.

Namun selama test Lab yang harus kami tempuh begitu rumit, lambat dan lama (karena lab yang direkomendasi terdekat hanya Jakarta), maka tamatlah kami.

Sementara ODP dan PDP terus bertambah. Melebihi kecepatan hasil Lab.

Kami harus bagaimana?

Menunggu rapid test?

15 pos deteksi dini di Belitung sudah siap menjalankan operasinya

Tapi, kami masih harus terus “mengemis” hasil test yang belum direspon lagi agar langkah kami lebih cepat dan tepat lagi agar penyebaran corona tidak terus mengganas di bumi Belitong.

 

Salam “Galau” Saya.
Belitung, 24 Maret 2020
Isyak meirobie
Wakil Bupati Belitung