Siswa Tantrum dan Hiperaktif? Begini Solusinya

oleh -
Siswa Tantrum dan Hiperaktif, Begini Solusinya

Oleh: Herliana, S.Pd Ekop*

JABEJABE.co – Di dalam kelas yang kami bimbing, ada beberapa siswa atau anak didik yang memiliki berbagai macam keunikan yang dimiliki, baik dari segi fisik, sosial, karakter atau kepribadian, bahkan kognitifnya. Namun dari beberapa anak didik yang dibimbing tersebut, ada satu yang mempunyai tingkah laku berbeda dari teman–temannya, sebut saja namanya Toto (Bukan nama sebenarnya).

Toto yang kini berusia tujuh tahun merupakan anak pindahan dari sekolah lain. Sebagai anak bungsu di keluarganya, Toto yang berasal dari keluarga berpendidikan mendapatkan kasih sayang lengkap. Terlepas dari semua itu, dia tergolong anak yang mengalami kendala yaitu sebagai siswa tantrum dan hiperaktif di kelasnya. Toto merasa sulit untuk bersosialisasi dan beradaptasi dengan cepat dengan teman–teman, pelajaran, bahkan gurunya.

Sebelum penjelasan lebih jauh, mari kita pahami lebih dulu apa pengertian tantrum dan hiperaktif.

Dikutip dari Wikipedia, tantrum adalah ledakan emosi, biasanya dikaitkan dengan anak-anak atau orang-orang dalam kesulitan emosional, yang biasanya ditandai dengan sikap keras kepala, menangis, menjerit, berteriak, menjerit-jerit, pembangkangan, mengomel marah, resistensi terhadap upaya untuk menenangkan dan, dalam beberapa kasus, kekerasan.

Sementara itu pengertian hiperaktif sebagaimana dikutip dari Understood, adalah kondisi ketika anak terus aktif tidak melihat waktu, situasi, dan suasana sekitar. Tanda anak hiperaktif, yaitu: Berlari dan berteriak saat main meski berada di dalam ruangan. Berdiri di tengah kelas dan berjalan-jalan ketika guru sedang bicara.

Kembali ke Toto. Hampir dua bulan belajar tatap muka di kelas, Toto selalu didampingi ibunya ke sekolah. Walau sudah kelas dua SD, kadang ibunya masuk ke dalam kelas untuk membimbingnya belajar. Dan satu lagi yang berbeda dengan teman lainnya, hampir setiap hari dia menangis di dalam kelas dengan alasan yang tidak jelas. Bahkan, Toto pernah teriak–teriak seperti orang kesurupan, hal ini tentu saja mengagetkan teman- teman yang lain.

Sebagai anak yang tantrum dan hiperaktif, Toto membutuhkan pendekatan tersendiri. Anak ini juga membutuhkan perintah jelas dengan pola terstruktur dan rutin. Meski Toto sering bertanya, namun pertanyaan yang sama diulanginya sampai beberapa kali.

Umumnya anak yang tantrum ini cendrung cepat cemas. Ketika dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan berikutnya, dia akan segera menemui ibunya yang selalu setia menunggunya di luar kelas. Bahkan, kadang–kadang ibunya diajak masuk ke dalam kelas untuk menjelaskan apa yang selanjutnya anak ini lakukan.

Sebagai anak yang tantrum, Toto juga bisa memaksakan kehendaknya melalui tangisan, dengan harapan apa yang dia inginkan bisa dikabulkan. Jika ini berhasil, maka dia akan lakukan lagi, dan jika belum berhasil dia akan lakukan dengan meningkatkan tangisan lebih kencang yang dibarengi dengan pukulan, dorongan, bahkan tendangan yang ada di sekitarnya ataupun teriakan seperti orang kesurupan.

Selain sebagai anak yang tantrum, seperti sudah dituliskan sebelumnya, Toto juga anak yang mempunyai type hiperaktif yang sangat sulit untuk berkonsentrasi. Toto selalu ingin berbicara dengan suara nyaring kepada teman–temannya walaupun saat guru menjelaskan pelajaran. Selain itu, biasanya anak ini lebih suka belajar dengan gaya belajar kinestetik atau bergerak.

Berdasarkan Undang Undang Pendidikan No. 14 tahun 2005, menjelaskan bahwa Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Dengan berpedoman terhadap undang–undang pendidikan tersebut maka solusi yang dilakukan gurunya terhadap Toto sebagai anak yang tantrum adalah mengumpulkan informasi tentang perkembangan psikologi Toto dari tingkat TK, SD sebelumnya, dan lingkungan keluarganya.

Setelah informasi tersebut diperoleh, guru memberi perhatian dengan pendekatan tersendiri saat keadaan anak lagi nyaman dan tenang, kemudian mengajaknya ngobrol ringan dan menanyakan mengapa dia suka menangis serta kadang–kadang berteriak. Guru juga menanyakan apa yang disukainya.

Apayang dilakukan guru setelahnya? Adalah memberi dan menanamkan motivasi serta penguatan supaya Toto lebih percaya diri dan berani. Bagaimanapun Toto harus belajar mandiri seperti teman yang lain karena dia sudah menjadi kakak kelas bagi adik-adiknya yang duduk di kelas satu. Usaha demi usaha ini dilakukan agar Toto tidak lagi harus ditemani oleh ibunya saat belajar di sekolah.

Sebagai guru, dalam menangani anak tantrum dan hiperaktif yang sedang emosi adalah dengan meredam atau menahan diri agar tidak terpancing emosi seperti menghentikan tangisannya dengan paksa. Menahan diri bukan diartikan bahwa anak tersebut dibiarkan begitu saja, justru sebaliknya menahan dirimerupakan bagian proses hingga anak ini kembali tenang. Saat emosi anak ini sudah stabil barulah diberi penjelasan bahwa tindakan yang dilakukan anak kurang baik dan jelaskan sebaiknya bagaimana tindakan yang benar sebagai siswa yang baik.

Guru harus konsisten dan tegas serta memberikan reward (Penghargaan) yang menyenangkan saat ia melakukan sesuatu dengan benar dan baik. Reward ini juga harus konsisten. Saat memberikan penjelasan, adakan kontak mata dan sentuh pundaknya bahkan diusap kepalanya. Jika si anak tidak menolak, berarti ia mulai menerima dan membuka diri, kemudian sampaikanlah kata–kata yang penuh kasih sayang.

Karena Toto tergolong hiperaktif maka sebagai guru harus dapat mengatur suasana yang nyaman saat anak belajar tatap muka.

Hindari memaksa anak agar duduk dengan tenang, karena hal ini justru akan membuat si anak semakin gelisah. Sebagaimana sudah disampaikan di atas, anak hperaktif lebih suka belajar dengan bergerak (gaya belajar kinestetik).

Untuk mengurangi perilaku yang bisa mengganggu konsentrasinya, maka tempatkanlah kursi duduk anak ini jauh dari jendela atau pintu, serta segala hal yang bisa menjadi sumber kebisingan. Cara untuk menjaga keseimbangan konsentrasi anak hiperaktif ini dengan membantu anak untuk belajar mengatur energi, belajar disiplin, dan kontrol diri.

Anak hiperaktif juga membutuhkan peraturan yang jelas dan tegas, harus konsisten dan jangan biasakan pembiaran padanya. Berikan pujian ketika anak memahami peraturan dan arahan yang diberikan. Namun, ketika anak melanggar aturan tersebut, berikan konsekuensi dengan alasan yang jelas. Sebagai guru bagaimanapun juga harus tetap tenang dan sabar. Usahakan jangan sampai membentak anak dan menghukum fisik, karena anak yang hiperaktif akan lebih taat saat gurunya bicara dengan tegas, tenang dan konsisten.

Strategi Pembelajaran dengan Pendekatan Bermain

Anak dengan dunia pemainan laiknya dua mata uang tang tak bisa terpisahkan satu sama lain. Realitanya, seorang anak akan lebih mudah menerima materi pelajaran melalui pendekatan bermain. Karena saat bermain hati mereka riang dan gembira.

Sebagai contoh pelajaran tentang pasar dan perdagangan, jika anak-anak diarahkan untuk membuat suasana jual beli atau berdagang, yang mana anak diminta secara berpasangan untuk melakukan permainan transaksi jual beli barang, maka anak akan merasa senang.

Saat mempromosikan barang–barang yang dijual, kemudian si pembeli menanyakan harga dan apa saja jenis barang yang dijual, suasana yang tercipta menjadi ramai dan penuh senda gurau serta aktifitas atau gerak kegiatan.

Permainan edukasi jual beli ini dilakukan secara bergantian antara penjual dan pembeli. Adapun tujuan dari permainan dagang ini supaya guru dapat menjelaskan tentang penjual, pembeli, uang dan fungsinya, serta pasar, toko atau warung.

Keunggulan dari permainan ini adalah anak–anak merasa sangat senang belajar sambil melakukan permainan jual beli.
Dari sini akan muncul semangat dan kelincahan. Yang tadinya kurang semangat dan murung, anak jadi kreatif dan model pembelajaran ini memunculkan kelincahan berpikir bagi anak. Sehingga terjadi koordinasi motorik kasar yang merupakan dasar dari keseimbangan tubuh dan pikiran anak. Dan, fisik anak menjadi lebih sehat, tangguh, dan tidak gampang sakit.

Dengan banyak bergerak diiringi suasana hati yang riang dapat mengurangi obesitas dan menjadi modal dasar tubuh kembang anak.

*Guru SD Negeri 6 Dendang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *