Menumbuhkembangkan Sikap Toleransi Melalui Pola Pendidikan Karakter di Sekolah

by -
Menumbuhkembangkan Sikap Toleransi Melalui Pola Pendidikan Karakter di Sekolah

Oleh: Muhammad Bahtiyar Rivai, S.Kom*

UNDANG-UNDANG Dasar Negara Republik Indonesia pada Pasal 31 ayat (1) menyebutkan “Setiap warga berhak mendapat pendidikan”. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan merupakan unsur penting dalam pengembangan sumber daya manusia.

Pendidikan merupakan hal yang krusial untuk membentuk karakter dan budaya bangsa. Pendidikan berfungsi untuk meningkatkan kemampuan cara berfikir manusia agar berguna dengan pengembangan keilmuannya.

Dalam membangun sumber daya manusianya, diperlukan pendidikan yang tidak hanya berupa pendidikan secara formalistik, namun juga diperlukan pendidikan yang membangun, membentuk dan mengarahkan pada pendidikan karakter yang berbasis pada karakter bangsa Indonesia.

Pendidikan karakter ini secara inklusif memiliki tujuan yang baik dengan metode internalisasi dalam dunia pendidikan formal maupun non-fomal sebagai batu uji dalam kehidupan siswa agar lebih siap dalam menghadapi perbedaan yang ada.

Pendidikan karakter ini sebenarnya secara eksplisit masuk dalam Pasal 3 UU Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003. Di dalam pasal tersebut disebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. Hal tersebut dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Pendidikan karakter di sekolahan memiliki kedudukan penting dalam pola pembelajaran siswa. Itu didasarkan pada pola pendidikan karakter dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas, kemudian dalam lingkungan dan budaya sekolah serta pola pengembangan diri (passion) dari siswa dalam mengikuti pembelajaran di sekolah.

Penanaman nilai-nilai pendidikan karakter dalam pembelajaran di kelas mengalami pasang surut atau belum terintegrasi secara sistematis.

Secara prinsip pendidikan karakter mutlak diperlukan sebagai bagian dasar pembelajaran di sekolah dengan mengacu pada saling terlibatnya antar subyek kegiatan belajar mengajar yaitu antara Guru dan murid.

Emi Budiastuti (2010:3), menyebutkan bahwa seorang pengajar harus terlibat dengan siswa dalam aktivitas yang membuat mereka berpikir kritis tentang moral dan etika, mengilhami mereka untuk menjadi berkomitmen tentang moral dan etika serta memberi siswa untuk berlatih perilaku moral dan etika.

Pendidikan karakter ini merupakan dasar dari sebuah nilai-nilai yang terkandung pada norma-norma dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia yang diformulasikan secara inklusif dalam satuan kurikulum pendidikan nasional yang harus dimiliki, salah satunya yang paling menonjol di Indonesia adalah pendidikan karakter toleransi.

Penanaman pendidikan toleransi ini merupakan bagian dari 18 (delapan belas) pendidikan karakter dalam sistem pendidikan nasional di Indonesia. Pendidikan karakter perihal toleransi ini dapat kita lihat dengan pola implementasi dari masyarakat di Indonesia.

Dalam sebuah kajian ilmiah, Kurniawan (2013:132) menjelaskan, “Ada empat hal yang perlu diperhatikan oleh pendidik dalam mengimplementasikan pendidikan karakter bertoleransi antarumat beragama pada peserta didik di sekolah, di antaranya: (1) perhatian pada ranah afektif; (2) keteladanan guru; (3) pembiasaan peserta didik terhadap perbedaan; dan (4) latihan heterogenitas dalam kelompok belajar peserta didik”.

Hal ini sejalan dengan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) terhadap siswa yang direalisasikan atau diwujudkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam cerdasberkarakter.kemdikbud.go.id menjelaskan bahwa definisi Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) ini adalah gerakan pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter siswa melalui harmonisasi olah hati (etik), olah rasa (estetis), olah pikir (literasi) dan olah raga (kinestetik) dengan dukungan pelibatan berbagai publik dan kerja sama antara sekolah, keluarga dan masyarakat.

Pendidikan karakter merupakan hal yang tidak bisa ditawar, hal ini penting untuk diutarakan karena pengembangan karakter dan kepribadian bangsa merupakan turunan dari falsafah hidup Indonesia yang ada dalam Pancasila yang kemudian dirumuskan dalam Tujuan Negara Indonesia yang dilaksanakan melalui Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia untuk membangun Sumber Daya Manusia Unggul.

*/) Guru Multimedia SMK Negeri 1 Cilacap