BRI Dukung Usaha Purun Eco Straw atau Pipet Ramah Lingkungan

oleh -
BRI Dukung Usaha Purun Eco Straw atau Pipet Ramah Lingkungan (5)
Kolase: (Foto Kiri) Penyerahan bantuan oleh BRIncubator yang dilakukan Direktur Konsumer BRI Handayani kepada Purun Eco Straw yang diterima Hartati selaku pengelola, Kamis (21/10/2021). Foto Kanan: Produk sedotan ramah lingkungan dari Purun Eco Straw. Fotografer: Mondox/jabejabe.co

Direktur Konsumer BRI Kunjungi Purun Eco Straw

Penulis: mdx | Editor: sue

BELITUNG, JABEJABE.co – Direktur Konsumer PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), Handayani mengunjungi Purun Eco Straw yang dikembangkan Hartati, salah satu klaster binaan BRIncubator di Pulau Belitung yang beralamat di Jalan Melati (Pilang) Desa Dukong, Kecamatan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, Kamis (21/10/2021).

Sebelum lebih jauh terkait kunjungan Direktur Konsumer BRI Handayani, mari kita tinjau apa yang dimaksud Purun Eco Straw.

Jika dilihat per kata dari nama produk, purun atau tanaman bernama latin lepironia articulate ini adalah sejenis rumput anggota suku teki-tekian (Cyperaceae) yang sering dimanfaatkan sebagai bahan anyam-anyaman. Rumput ini biasanya tumbuh di paya dan rawa-rawa.

Kemudian eco bisa berarti ramah lingkungan dan straw merupakan bahasa Inggris dari sedotan. Dengan demikian Purun Eco Straw kurang lebih berarti sedotan atau pipet purun yang ramah lingkungan.

Sedotan yang ramah lingkungan? Tentu saja ini menarik. Karenanya Handayani yang berada di home industry-nya Purun Eco Straw tak menyia-nyiakan waktu, seraya menyimak bagaimana alur pembuatan sedotan purun yang dilakukan oleh pekerja di Purun Eco Straw.

Pengerjaan dilakukan mulai dari mengolah bahan baku purun. Pertama-tama dilakukan pemotongan, kemudian pembersihan bagian dalam purun, pencucian, perbusan, pengeringan (Penjemuran), sortir, oven, hingga pengemasan, dan terakhir siap dipasarkan.

Sedotan yang dibuat tidak menggunakan bahan kimia, aman bagi lingkungan, dan memberikan dampak sosial atau menumbuhkan lapangan pekerjaan karena dilakukan secara home industry. Sedotan purun yang dibuat memiliki dua variasi yakni sedotan purun segar berwarna hijau dan sedotan kering yang berwarna kecoklatan. Sedotan ini pun bisa bertahan lama atau hitungan bulan.

Usai mengamati proses, Handayani pun memberikan apresiasi terhadap ide kreatif yang dilakukan Purun Eco Straw.

Dalam kunjungannya bersama BRI Cabang Tanjungpandan, Handayani juga memberikan support terhadap pelaku UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) tersebut agar bisa berkembang lebih dari saat ini. Bantuan tersebut berupa sarana dan prasarana.

Menjadi Produk Ramah Lingkungan yang Mendunia

Sementara itu Hartati, pemilik Purun Eco Straw yang merupakan UMKM binaan BRI ini mengaku sudah menjalani usaha tersebut sejak tahun 2019.

“Sebelum seperti sekarang atau purun yang bisa jadi sedotan dan bisa digunakan, beberapa tahun belakangan uji coba dulu, menganalisis untuk menjadikan tanaman rumput ini menjadi produk sedotan yang ramah lingkungan serta aman digunakan,” ujar Hartati.

Analisa Hartati di lapangan tak hanya melulu mengenai proses menjadikan sebuah produk, bahkan dalam proses atau cara pengambilan purun pun ia berhati-hati. Hal tersebut dimaksudkan agar tidak merusak tanaman sehingga tetap bisa tumbuh dan berkembang lagi.

Lalu bagaimana dengan pemasaran produk? Menurut Hartati, saat ini Purun Eco Straw sudah digunakan di beberapa hotel and resto di Pulau Belitung, dan juga di luar pulau seperti Jakarta dan Bali.

“Harapan kita sedotan purun ini bisa jadi kebutuhan dalam skala yang lebih luas. Apalagi salah satu bagian dari visi misi kami adalah agar produk ini mendunia,” harapnya optimis.

Ketika ditanya terkait motif di balik terciptanya produk sedotan purun, menurut Hartati dengan terciptanya sedotan dari bahan purun ini, paling tidak merupakan produk yang ramah lingkungan.

“Pertama, dampak lingkungannya sangat mengena, sedotan ini merupakan salah satu solusi mengurangi limbah plastik,” terang Hartati.

Kedua, lanjutnya, tentu saja aspek sosial. Usaha ini bisa membuka lowongan pekerjaan buat masyarakat sekitar.

“Bisa menciptakan lapangan pekerjaan untuk ibu ibu sekitar, saat ini ada 13 pekerja di Purun Eco Straw,” ujar Hartati.

Bagi pelaku UMKM seperti Hartati, membangun home industry Purun Eco Straw tidak semudah membalikkan telapak tangan, karenanya Ia meminta dukungan dari berbagai stakeholder agar dirinya dan tim bisa berkembang.

“Ini barang bagus untuk kita kembangkan dan berbagai dampak aspek yang akan kita rasakan manfaat ke depannya,” ujar Hartati berpromosi.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *