Sambangi Pulau Long, ACT Belitung Temukan Lusinan Masalah Kesejahteraan

oleh -
Sambangi Pulau Long, ACT Belitung Temukan Lusinan Kesejahteraan (1)
Tim ACT Belitung saat berbagi keceriaan bersama anak-anak Sekolah Dasar di Pulau Long. Foto: Istimewa/ ACT Belitung.

ACT Belitung Ajak Kepedulian dalam Program “Tepian Negeri Pulau Long”

Penulis: ACT Belitung | Editor: Subrata Kampit

BELITUNG TIMUR, JABEJABE.co – Daerah yang menjadi sasaran program Aksi Cepat Tanggap (ACT) Pulau Belitung adalah sebuah pulau yang berada di ujung Tepian Negeri Kabupaten Belitung Timur, yakni Pulau Long.

Pulau Long terletak di Desa Selingsing, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur ini merupakan salah satu pulau terkecil yang berada di perairan dekat Kabupaten Belitung Timur dan berhadapan langsung dengan Laut Jawa.

Memiliki panjang wilayah 400 x 200 meter persegi, serta luas tanah kurang lebih 8 hektar, Pulau Long berjarak sekitar 27 mil dari Pelabuhan Gantung. Dari pelabuhan ini, perjalanan menuju Pulau Long dapat ditempuh dalam waktu sekitar 4 – 6 jam dengan cuaca yang baik dan gelombang yang tenang. Jika hujan, angin kencang ataupun gelombang besar banyak perahu nelayan yang memilih tidak berlayar karena debit air yang tinggi dan cuaca yang ekstrim membuat laut cukup membahayakan untuk dilintasi.

Tidak hanya akses menuju pulau yang sulit, tetapi warga juga harus merasakan sulitnya memenuhi kebutuhan listrik dan jaringan komunikasi.

Pada pertengahan 2020 sumber tenaga listrik menggunakan tenaga diesel dan beroperasi mulai pukul 18.00 – 06.00 WIB per harinya.

Ada beberapa alasan Tim ACT Belitung memilih Pulau Long menjadi salah satu sasaran program Tepian Negeri Pulau Belitung, diantaranya permasalahan Kebutuhan Air Bersih. Jarak tempuh antara Pulau Long dan Wilayah Daratan Kabupaten Belitung Timur lainnya mengharuskan warga sekitar untuk memenuhi kebutuhan air bersih (minum) dengan mengandalkan air hujan atau membeli dari pulau sekitar. Adapun sumur di pulau tersebut memiliki Ph yang kurang untuk dikonsumsi jangka panjang (Air payau dan asin).

Selain air bersih, masalah pendidikan juga menjadi perhatian ACT Pulau Belitung. Di Pulau Long hanya terdapat satu Sekolah Dasar yaitu UPT SD Negeri 11 Gantung yang mana terdapat 28 murid dengan kondisi pembelajaran seadanya, satu ruang kelas dipakai untuk dua kelas, tiga guru ASN dan tiga guru PPT. Para guru ini berada di pulau tersebut sepanjang waktu. Mayoritas tingkat pendidikan penduduk hanya di tingkat sekolah dasar saja.

Permasalahan selanjutnya adalah berkaitan dengan sanitasi. Minimnya infrastruktur berkaitan dengan MCK dan Tempat Pembuangan Akhir (Sampah) di Pulau Long menambah persoalan bagi pulau tersebut.

Menanggapi berbagai permasalahan tersebut, Kepala Cabang ACT Belitung, Dian Yudhistira mengatakan, “Minimnya ketersediaan MCK di setiap rumah warga mengharuskan mereka untuk membuat MCK ala kadarnya di setiap pojok tepian laut (WC Apung). Sehingga limbah dari kotoran manusia langsung terpapar ke bibir pantai/lautan, tentu hal ini akan berdampak dan menyebabkan berbagai persoalan kompleks lainnya seperti tercemarnya lingkungan, rusaknya ekosistem, hingga menyebabkan berbagai masalah kesehatan.”

Kondisi Pulau Long yang demikian sebetulnya tak lepas dari penilaian Ibu Erna, seorang Guru Honorer yang mengabdi di Pulau long. Ia tak menampik kondisi tersebut, namun demikian menurut dia kurangnya sarana prasarana juga menjadi faktor penyebab terjadinya Defecation Free atau kondisi ketika setiap individu dalam komunitas Buang Air Besar Sembarangan (BABS).

“Beginilah kondisi pulau kami, banyak sampah dan tidak ada MCK Umum, untuk itu mohonlah bantuan dari pemerintah dan masyarakat untuk membatu pulau kami ini,” harapnya.

Di Pulau Long, akses kesehatan juga sulit didapat bagi warga yang sakit dan ingin melahirkan karena minimnya akses untuk berobat. Untuk itu, Masyarakat Pulau Long yang ingin berobat dan melahirkan harus menuju daratan Pulau Belitung guna mendapat layanan kesehatan. Bahkan, tak sedikit warga yang wafat dan melahirkan di tengah perjalanan.

Selain itu warga juga kesulitan untuk mendapatkan sumber makanan seperti beras, sayur – sayuran, buah – buahan dan lain – lain dikarenakan kondisi tanah yang tidak memungkinkan untuk bercocok tanam. 90 persen masyarakat Pulau Long bermata pencaharian sebagai nelayan.

Berdasarkan permasalahan – permasalahan tersebut ACT Pulau Belitung tergerak untuk mengajak berbagai pihak turut serta ikut membantu saudara-saudari di Pulau Long. dalam bentuk program “Tepian Negeri Pulau Long”. Semoga program ini dapat berjalan dan menebarkan manfaat bagi saudara-saudara kita di Pulau Long dan Pulau-Pulau lainnya di Pulau Belitung.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *