Puisi Sabtu, 3 Oktober 2020: Singgasana Timur

by -
Puisi Sabtu, 3 Oktober 2020, Singgasana Timur (3)

Singgasana Timur

Detik demi hari
Jam berganti lalu
Kulihat sekutu sudah saling merapat
Tanda kepentingan elit sudah bulat

Tulisan di sepanjang jalan
Berjajar bagai minta restu
Perkawinan niat dan kepentingan
Disatukan dengan satu paket adu

Lima tahun kedepan adalah masa depan
Lima hari sebelum pemilihan adalah kejutan

Siapakah gerangan dia?
Dia yang diinginkan
Dia yang dibutuhkan
Dia yang diteladani

Siapakah dia?
Sosok yang “mengakar”?
Ataukah figur yang “kaya”?

Siapa dia?
Sang pemecah ombak masalah
Sang pemerhati rintih
Ahli strategi ulung

Kuharap dia berjiwa manis
Tetap tegar dengan gagah nyata
Bukan munafik karena hanya ingin
Bukan selebritis saat kampanye

Kami ingin dia
Dia yang di sana
Engkau yang punya niat
Martabat untuk beribadah

By Pluvio (Belitong, 29 September 2020)

Puisi Sabtu, 3 Oktober 2020, Singgasana Timur (4)

Payung Teduh Sesaat

Aku datang, aku lihat
Kamu lihat, aku bergumam tanpa pandang
Lirih angin menyapa malam
Ternyata jodoh kembali bersua tanpa sangka
.
Setiap kita bertemu
Selalu melodi indah dari lagu “Akad” menyertai
Seperti lagu wajib negara
Harmoni ini menjadi takdir pertemuan kita
.
Aku tak tahu dinda sadar atau tidak
Tapi, iringan irama ini seakan-akan menyambut
Merangkul memori indah yang sempat ada
Walau di hulu tak menjadi nyata
.
Puisi karya Pluvio
(Belitong, 14 September 2020)

Puisi Sabtu, 3 Oktober 2020, Singgasana Timur (1)
Lamunan Secangkir Jahe-Lemon

Hari ini cuaca tak begitu panas. Tak jua dingin. Sejuk. Ya, sejuk.
Surya sedikit capek keliahatannya. Karena setiap hari harus memberikan panasnya untuk imunitas tubuh manusia. Dia malu-malu hari ini. Entah tahu mengapa.
Iringan nyanyian walet tak pernah absen di pagi hari. Sama seperti hari ini.
Kerumunan pipit coklat selalu bercanda, bercengkrama sesama mereka. Membuat gaduh di pagi hari. Menunjukkan hari ini masih seperti waktu-waktu sebelumnya. Belum kiamat.
Dalam panggung pentas pagi ini. Seperti biasa. Sejak Covid-19 bertamu ke Indonesia, aku selalu hadir di setiap pagi. Menyapamu dengan kehangatanku, mendekapmu dengan rasaku. Sedikit pedas, berbalut asam dan manis madu di lidah, namun berbau aromaterapi.
Khasiatku dulu dianggap biasa. Sepele. Receh! Hanya kaum veteran dan yang mengerti sehat selalu menyayangiku setiap hari. Menegukku, memelukku untuk satu dengan raga mereka.
Namun, kini orang-orang yang cemas selalu mencari ramuan akan kandunganku. Mempelajarinya untuk efek manfaat. Membudidayakannya untuk alasan ekonomi. Mereka seolah-olah kebakaran jenggot karena pandemi ini.
Hufth (menghela nafas), entahlah. Tak tahu sampai kapan aku primadona seperti ini lagi.
Karena aku sadar diri. Mungkin aku sudah tidak dibelai setelah virus ini pergi.
Mungkin.

Prosa karya Ares Faujian (Manggar, 18 April 2020)