Puisi Sabtu, 17 Oktober 2020: Kemana Negeriku Yang Dulu?

by -
Puisi Sabtu, 17 Oktober 2020, Kemana Negeriku Yang Dulu (1)
Ilustrasi Foto: Istimewa (Source: sijarangpulang.wordpress.com)

PUISI KARYA YURICO

Kemana Negeriku Yang Dulu?

Negeriku yang dulu…

Berbalut dengan kebahagian

Hak-hak rakyat yang utamakan

Penuh rasa keadilan

.

Negeriku yang dulu…

Tentram dengan keberagaman

Bersama-sama menguatkan toleransi dalam kebhinekaan

Semangat persatuan yang membara di pemudanya

Membuat tanah airku menjadi kokoh

.

Tapi mengapa ya Tuhan…

Yang katanya pemimpin bangsa

Yang begitu terhormat

Dengan mengaku sebagai wakil rakyat

.

Mengapa…

Suara kami dibisukan

Hak-hak kami dimusnakan

Mata Anda bagai dibutakan

Telinga Anda ditulikan

Perbedaan membuat persengketaan

Toleransi yang mulai menghilang

.

Pemuda yang dulu mengucap sumpah

Mengikrarkan semangat Pancasila

Kini berbalik menjadi manusia penjilat ludah

Yang tak lebih dari manusia hina

.

Oh negriku

Di mana tanah airku yang damai dulu

Yang begitu tentram?

Apakah kini terpuruk mejadi impian yang suram?

.

Bertanah air yang satu namun sembilu menjadi pilu

Berbangsa satu namun masih mudah diadu

Berbahasa satu namun malu mengaku bahasa ibu

.

Di mana gerangan Indonesiaku kini

Rakyat yang dulu berkuasa sepenuh hati

Membawa kemerdekaan melindungi Ibu Pertiwi

Kini hanya kau lihat seujung jari

Lalu kau injak harga diri ini sampai mati

Naluri hilang kembali

Dunia tak lagi peduli

Tak ada yang mendengar jeritan kami

Orang mulai berpaling dari dekapan

Demi mementingkan diri semata

.

Bahkan darah mengucur di jalan

Nyawa terkoyak habis membela keadilan

Semangat perjuangan yang mulai memudar

Tapi tak pernah diamalkan sebagai persatuan

Oh negriku, akankah engkau mau lagi terjerumus ke dalam lubang yang dalam?

.

(Manggar, 4 Oktober 2020)

 

Puisi Sabtu, 17 Oktober 2020, Kemana Negeriku Yang Dulu (3)
Ilustrasi Foto: Istimewa/ Tim Wiederaenders (Source: Image)

PUISI KARYA RIFKY W. PADOMA

Lampu Kuning

Sayup Si Lampu Kuning
Manjakan hati semut pekarangan
Sepercik lentera negeri
Kelana dalam khayalan
.
Kala peradaban lusuh
Si Lampu Kuning lumpuh
Hidupkan murka Sang Lampu Merah
Gersang
Penuh Kegelapan
.
Gurauan bunga tidur
Menunggu tenang langit pagi
Gejolak sendu memanggil
Dengar seru menderu
.
Kancing erat Nusantara
Tudungi atap negeri
Sembunyikan hari depan
Tawakal bilik peraduan
.

Manggar, 5 Oktober 2020