Polemik Buaya di Beltim, Netizen: Buaya Ditangkapin yang Betul yang Merusak yang Ditangkapin

by -
Polemik Buaya di Beltim, Netizen, Buaya Ditangkapin yang Betul yang Merusak yang Ditangkapin
Ilustrasi buaya (freepik.com).

Juga Komentar Netizen: Kok Buaya yang Mengalah, Pola Pikir yang Salah

Penulis: su3 | Editor: Subrata Kampit

BELITUNG TIMUR, JABEJABE.co – Peristiwa orang diserang buaya dalam beberapa bulan terakhir di Kabupaten Belitung Timur menuai kontroversi.

Bupati Belitung Timur Burhanudin dalam pernyataannya kepada awak media menyatakan bahwa jika manusia tidak ingin diganggu, maka jangan ganggu ‘rumahnya’ (habitatnya) buaya.

Pernyataan Bupati Beltim tentu menuai pro dan kontra, terutama saat informasi tersebut ditayangkan di media sosial.

Namun demikian, terlepas dari pro kontra pernyataan bupati, pemilik akun facebook @Cinta Belitong mengunggah tulisan dalam wall (dinding) facebook miliknya.

“Terus kalau buayanya di Tangkapi, (penangkaran) Yg bakal jagain sungai sama Hutan Mengrovenya siapa??? Itu kan habitat Buaya dari jaman Baheula,” tulis akun @Cinta Belitong.

Hingga pukul 19.07 WIB, Selasa (22/6/2021), tulisan yang diunggah sekira pukul 18.05 WIB tersebut mendapatkan 74 like dan 16 komentar.

Dalam kolom komentar tersebut, akun @Cinta Belitong kembali menuliskan kalimat berikut, “Nelayan Sungai mah udah bersahabat sama Buaya dari jaman dulu… sebab saling menghormati. Nggak mengganggu satu sama lainnya… tapi Buaya nggak bisa membedakan mana si Nelayan mana si perusak Habitatnya bila Airnya keruh, bila sumber makanannya sudah sulit di dapat. Hehehe silahkan berfikir sehat.”

Salah satu netizen pun bereaksi dengan menuliskan komentar, “Buaya ditangkapin yg betul yg merusak yg ditangkapin.” Dan, kemudian dijawab akun @Cinta Belitong dengan kalimat, “Rocky Roc David Nice Coment … and I like this.”

Beragam komentar pun berlanjut, “Kok buaya yang mengalah..pola pikir yg salah..,” tulis netizen lainnya.

Tak hanya itu, ada juga netizen yang komentarnya begini, “Solusinya bukan penangkaran, tapi rehabilitasi habitatnya, kembalikan keseimbangan ekosistem yang rusak.. “rumah” buaya itu bukan di penangkaran tapi di bataran sungai yang sehat.. Kalau penangkaran buaya artinya buaya itu dipelihara ujung2nya diambil kulitnya..”

Namun bukan hanya komentar berpanjang lebar, ternyata ada yang tak mau ribet dan hanya menuliskan, “Terlaluuuu.” Serta, komentar kocak seperti, “Buaya darat sape yg jage hahah.”

Nah, kalau kamu, apa komentarmu?***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *