Perjalanan ke WC

by -
Catcil Subrata Kampit - Perjalanan ke WC

Oleh: Subrata Kampit

Sudah cukup lama, mungkin belasan tahun lalu. Ingin rasanya menuliskan sebuah cerita yang sederhana—sangat sederhana, tapi layak dan masuk dalam kriteria sebuah cerita.

Kadang, saat ingin menulis, sibuk memikirkan hal-hal besar—pikiran saya dulu. Dengan menulis hal besar, orang-orang besar, lalu berpikir tulisan akan BESAR.

Belakangan berubah juga sudut pandang ini. Jika bacaan sedikit, jangkauan nalar yang tidak panjang, akan sempit dan terjepit juga jadinya tulisan. Walau tadinya ide itu besar.

Pikiran yang kemudian muncul justru sebaliknya. Banyak hal-hal kecil di sekeliling yang terbuang, direndahkan oleh pikiran, diremehkan akal sehat, dan tertindas oleh tema-tema besar, misalnya Perjalanan ke WC.

Ke Toliet!? Ini hal kecil, bung.

Atau, mungkin anda punya ide lain, silahkan.

Hal sederhana dan sering jadi pengganggu di tengah keasyikan, pessure yang membuat anda berangkat ke toilet.

Tentu, point of view-nya bukan apa yang terjadi di dalam toilet, tapi bagaimana perjalanan itu. Langkah pendek yang singkat itu yang ingin diceritakan di sini. Sekali lagi, how make a simple thing can be something interesting.

Apalagi yang doyan game online. Kesal sekali saat rasa ke toilet itu datang.

Dan cerita itu akan dimulai dari Perjalanan itu.

Aktifitas ini akan memakan waktu paling tidak sesuai kebutuhan. ‘Air Kecil’ ya lima menit.

Dan ‘Air Besar’ tergantung muatan, bisa jadi minimal 15 menit bahkan 30 menit.

Lumayan waktu terbuang dan konsentrasi terpecah karena (sebelumnya) sedang asyik mengerjakan sesuatu.

Kalau Games Online Cacing, yang lagi trend saat ini, bisa jadi akan dikerjakan sembari “nongkrong”.

Tapi saya punya rekayasa cerita lain.

<< Previous

Biasanya, jika tidak ada jam kuliah, nongkrong saja di asrama. Kekosongan ini bisa diisi dengan melakukan banyak hal. Ngopi sambil gitaran atau ngobrol apa saja dengan sesama penghuni asrama; bisa kebijakan pemerintah, rutinitas harian, membahas headline Harian KOMPAS hari itu, membaca novel atau main Game Offline di computer–era sebelum gadget di tangan.

Yang paling sering (kalau saya) membaca novel. Seringkali uang transferan hampir 50 persen untuk novel dan karya-karya sastrawan yang lebih teoritis.

>> Next

Karya besar Eiji Yoshikawa; Musashi, sangat mengganggu pikiran. Seringkali bangkit setelah niat ingin tidur, membaca di sepanjang perjalanan angkot saat bepergian dan kesal karena perjalanan sudah sampai.

Atau bila bersantai di asrama—sembari baca, rokok dan kopi selalu sedia.

Badan sedari tadi dalam posisi ‘nyantai’ atau istilah sekarang PW (posisi wuenak), namun tiba-tiba “rasa” itu datang…

Rasa yang dimaksud adalah keperluan ke toilet.

Bacaan sudah tiba di halaman 839 dari 1247, yaitu saat Musashi menangkap pinggang dan mengangkat anak muridnya ke udara. Dan seketika ia berteriak “Cukup?”

“Tidak!” Teriak anak itu, . . .

Dalam hati pun juga teriak, tidak. Tapi rasa ingin boker ini sudah diujung. ‘Penganggu’ selalu datang tak terduga.

Dari kamar 9 (kamarku di Asrama Gunung Tajam Bandung) menuju WC tidak lebih dari 7 langkah. Tidak butuh satu menit sudah sampai, apalagi dengan sprint.

Baru saja keluar kamar, tiba-tiba dari ruang depan terdengar ucapan Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh. Ucapan ini diulang beberapa kali oleh tamu berjas, entah siapa.

Dan, nampaknya kawan-kawan tidak ada di kamar depan (Kamar 1, 2, 3 dan 4).

Yaelah, ternyata beberapa orang pejabat yang sowan ke asrama. Apa boleh buat.
Dijawablah salamnya dan serta merta lari ke ruang depan. Menyalami dan mempersilahkan duduk.

Berkelakar, ngalor ngidul apa saja.

Sontak “rasa” itu hilang, namun setelah berbasa-basi sebentar muncul lagi. Mesiu itu bisa ditembakkan kapan saja, ehmm… di mana saja. Keringat dingin pun mulai keluar.

Tanpa menghilangkan rasa hormat, meminta izin ke belakang. Berdalih menanyakan ingin minum apa sebagai alasan ‘kabur’.

Lalu setengah berlari tiba juga di depan toilet dan “Air Kosong!” Hanya butuh lima langkah menuju colokan dan tentu saja berhasil sebelum sadar bahwa ternyata byarpet, mati lampu.

Tuhan betul-betul mengujiku, entah akan sanggup berapa langkah lagi…

Ups, ada tiga orang cewek datang ke asrama lewat jalan samping. Tiga-tiganya cantik, pentolan dan bunga asrama. Mereka adalah penghuni asrama perempuan Belitung.

Di Bandung ada dua asrama untuk mahasiswa Belitung. Asrama laki-laki dan perempuan dipisah, hanya beberapa rumah jaraknya (sekarang sudah pindah ke Dago).

Pembaca pun akan mengalami hal sama, psikologis ini membuat segalanya berubah. Rasa itu akan hilang sekejap demi harga diri.

…terlalu panjang dan liar imajinasi di kepala, cukup lelah menuliskannya. Endingnya pun tak tahu akan seperti apa. Cukup rahasia dia antara kita, cret.

**Pembelajar menulis bebas di Belitung