Percepat Digitalisasi Sekolah

by -
Percepat Digitalisasi Sekolah (1)

Oleh : Sabarudin,M.Pd**

PERINGATAN hari pendidikan nasional tahun ini terasa berbeda. Tidak lagi riuh dengan berbagai aktivitas dan seremoni, tetapi dengan sederhana tanpa menghilangkan esensi serta makna di dalamnya. Ini terjadi karena Covid-19 yang membentang dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote. Sedih, nan miris sekali.

Dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional 2020, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI memberikan pedoman untuk menyelenggarakan upacara bendera secara terbatas. Selain itu, untuk tetap pada marwah-nya, dalam peringatan kali ini juga diisi dengan kegiatan alternatif lainnya dalam rangka memeriahkan hari yang sakral ini secara kreatif, dengan menjaga serta membangkitkan semangat belajar di masa darurat Covid-19.

Pandemi Covid-19 berdampak langsung pada kegiatan belajar mengajar yang mengharuskan siswa dan guru melakukan pembelajaran dari jarak jauh melalui teknologi. Hal yang terasa baru walaupun sudah seharusnya siswa dan guru memanfaatkan teknologi informasi untuk kepentingan pembelajaran.

Permasalahan yang muncul terletak pada ketidaksiapan siswa dan guru dalam memanfatkan teknologi untuk pembelajaran. Ada perasaan terkejut dan panik bagi sebagian besar guru dan siswa, ketika diharuskan melaksanakan pembelajaran jarak jauh dengan teknologi.

Ada 3 (tiga) pertanyaan besar yang muncul dihadapan kita semua. Mengapa hal ini terjadi? Apakah siswa dan guru tidak pernah melaksanakan pembelajaran dengan teknologi termasuk internet? Serta apakah yang salah dengan dunia pendidikan kita khususnya pembelajaran di kelas kita?

Pandemi Covid-19 secara tidak langsung membuka mata dan pikiran kita semua tentang pentingnya digitalisasi sekolah. Suka atau tidak suka, ditengah ketidaksiapan dan keterkejutan ini kita harus melaksanakan pembelajaran jarak jauh dengan memanfaatkan media internet dalam proses belajarnya.

Pentingnya pemahaman dan pengertian serta kesadaran dari seluruh stakeholderspendidikan untuk sama-sama berkomitmen memanfaatkan teknologi khususnya penggunaan handphone dikalangan pelajar, yang biasanya hanya untuk facebook, instagram,twitter, main game online, tiktok, youtube, whatsApp, hingga like.Namun pada kesempatan ini diarahkan kepada mengakses berbagai informasi dan pengetahuan digital untuk mendukung pendidikan dan pembelajaran siswa.

Semakin banyak guru yang menugaskan siswa untuk mengumpulkan informasi dari internet untuk mengerjakan berbagai tugas. Hal ini langkah yang baik untuk meningkatkan pemanfaatan internet sebagai sarana pendidikan sebagai dukungan terhadap digitalisasi sekolah.Fakta di lapangan menunjukkan bahwa ketika penggunaan media sosial dan media digital berkembang dengan cepat di kalangan pelajar, dukungan orangtua dan integrasi media digital dalam pendidikan masih tertinggal. Sehingga saatnya untuk mengejar ketinggalan.

Program digitalisasi sekolah yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI sebenarnya bisa dijadikan solusi jitu menghadapi situasi seperti sekarang ini. Jauh sebelumnya Muhajir Effendi, mantan menteri pendidikan dan kebudayaan, menyebutkan salah satu tantangan dunia pendidikan di Indonesia saat ini adalah perkembangan teknologi.

Pemerintah memfasilitasi Gerakan Nasional 1000 startup Digital untuk mendorong pengembangan dan penggunaan teknologi dalam menyediakan berbagai solusi inovatif. Namun, yang tak kalah penting dari pengembangan startup digital adalah pemerataan pembangunan infrastruktur digital di seluruh pelosok negeri.

Ide dan gagasan tentang digitalisasi sekolah tidak semudah dan secepat yang kita bayangkan. Banyak kendala yang dihadapi di lapangan. Kendala tersebut berupa masalah ketersedian sarana dan prasarana, kesiapan siswa dan guru, peran serta orang tua, hingga mentalitas dan komitmen mewujudkan pembelajaran berbasis digital dengan perlahan meninggalkan pembelajaran yang bersifat klasikal dan komunikasi satu arah. Di mana, guru menjadi pusat utama pembelajaran.

Digitalisasi sekolah belumlah secara mantap diterapkan di setiap sekolah, bangsa Indonesia sudah dihadapkan dengan pandemi covid-19. Pandemi Covid-19 menuntut sekolah untuk melaksanakan pembelajaran jarak jauh dari rumah.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI mengeluarkan surat edaran nomor 4 tahun 2020 tentang pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam masa darurat penyebaran Coronavirus Disease (Covid-19) poin 2 menyebutkan sekolah untuk melaksanakan proses belajar dari rumah dengan ketentuan:

  1. Belajar dari rumah melalui pembelajaran daring/jarak jauh dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan;
  2. Belajar dari rumah dapat difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup antara lain mengenai pandemi Covid-19;
  3. Aktivitas dan tugas pembelajaran belajar dari rumah dapat bervariasi antarsiswa, sesuai minat dan kondisi masing masing, termasuk mempertimbangkan kesenjangan akses/fasilitas belajar dirumah;
  4. Bukti atau produk aktivitas belajar dari rumah diberi umpan balik yang bersifat kualitatif dan berguna dari guru, tanpa diharuskan memberi skor/nilai kuantitatif.

Karena teknologi, dalam hal ini internet, telah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari siswadi Indonesia. Maka dari itu, diperlukan upaya-upaya untuk meningkatkan kesadaran, pengetahuan dan keterampilan mereka dalam kaitannya dengan manfaat dan keamanan berinternet. Hal ini dapat dicapai melalui sosialisasi, pendidikan literasi maupun pelatihan.

Produktivitas penggunaan internet dalam pendidikan tercermin pada kenyataannya siswa dapat belajar dengan mudah.Dalam hal ini, mereka bersedia menerima tugas dengan teknologi baru, serta bertambahnya pengetahuan,keterampilan guru dalam mengakses dan memanfaatkan teknologi untuk update dan upgrade diri.Sehingga pembelajaran di kelas jauh ini menjadi lebih bermakna, penuh inovasi, dan menarik serta menyenangkan.

Di tengah kondisi krisis pandemi Covid-19, kepala sekolah tetap harus mengelola sekolahnya agar berjalan efektif dan optimal. Dilema yang dihadapi kepala sekolah dimasa krisis ialah antara mempertahankan status quo atau melakukan perubahan.

Kepala sekolah harus menjadikan momen pandemi Covid-19 sebagai sebuah tantangan sekaligus ikhtiar bersama untuk mentransformasi diri dari proses pembelajaran klasikal di kelas, menjadi pembelajaran interaktif dengan pemanfaatan teknologi informasi. Transformasi digital adalah tanggung jawab kolektif yang melibatkan seluruh stakeholders pendidikan (kepala sekolah, guru, siswa, orang tua, masyarakat dan pemerintah).

Kepala sekolah harus memperhatikan aktualisasi pengembangan potensi siswa. Aktualisasiberbagai potensi di zaman digital tentu sedikit berbeda dengan zaman-zamansebelumnya.Sebagai contoh, pada zaman sebelumnyainteraksi dalam pembelajaran terjadi antara dua orang,keduanya saling memandang dan tatap muka. Akan tetapi, di zamandigitalinteraksi dan komunikasi antara siswa dan guru saat ini tidak mengharuskan dengan tatap muka secara langsung.

Namun bisa dengan handphoneatau media daring lainnya seperti skype, zoom cloud, cisco webex meetings, microsoft teams,webinar dan lainnya. Digitalisasi sekolah sangat tergantung dari peran serta dan kreativitas peserta didik dibawah bimbingan guru dan difasilitasi dari sekolah.

Guru memegang peranan penting dalam digitalisasi sekolah.Seorang pendidik profesional harus bisa memanfaatkan teknologi informasi untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar pada setiap jenjang pendidikan. Upaya ini dilakukan agar dapat mempersiapkan sumber daya manusia yang unggul dengan kompetensi global dan mampu beradaptasi serta memiliki keterampilan Abad 21 untuk mendukung revolusi industri 4.0.

Walaupun teknologi amatlah penting,peran guru sebagai pendidik tidak dapat tergantikan oleh kemajuan teknologi tersebut.Tantangan seorang pendidik tidak berhenti pada kemampuan menerapkan teknologi informasi pada proses belajar mengajar.

Tetapi kemampuan dan kemauan untuk terus belajar dan belajar memanfaatkan serta mengembangkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) menjadi kunci agar tidak ketinggalan dengan siswa.Sehingga dari hal ini akanmampu menghasilkan siswa yang siap bersaing dalam menghadapi revolusi industri 4.0.

Ketika siswa memiliki akun di media sosial.Tak ada salahnya guru juga memilikinya, bahkan disarankan untuk saling berteman. Selain hal ini sebagai wadah untuk belajar, media komunikasi, dan penyebaran informasi, selain itu guru bisa sebagai mengontrol dan mengawasi apabila siswa ketika berselancar di dunia maya melakukan hal-hal yang negatif.

Pihak orang tua harus mengawasi dan mendampingi anak-anak mereka dalam aktivitas digitalnya, dan terlibat didalamnya. Cara sederhananya,orang tua dapat menjadi ‘teman’ di akun jejaring sosial anak. Di sini, orang tua dapat bergabung dan berkomunikasi secara intensif dengan anak untuk menciptakan lingkungan yang aman dan positif bagi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak mereka di dunia maya.

Kemampuan kepala sekolah di masa pandemi Covid-19 akan teruji handal jika berhasil membawa seluruh stakeholderssekolah untuk tetap produktif dan berkarya. Ini tantangan tersendiri dan merupakan seni serta keterampilan dalam pengelolaan sekolah. Pemanfaatan seluruh potensi yang dimiliki sekolah untuk mampu mempertahankan ritme kerja dan karya dengan kualitas.

Dalam hal ini, sekolah dapat mengembangkan kemampuan literasi digital anak,membentuk kelompok dan komunitas literasi secara digital, serta menerbitkan hasil karya literasi digital anak dengan menumbuhkan kemampuan bertanggungjawab terhadap penggunaan teknologi. Teknologi adalah tool, hanya satu alat.Bukan segalanya.Kualitas pembelajaran dalam kelas, interaksi antara guru dan murid itu esensinya(Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan dan kebudayaan). Selamat Hari Pendidikan Nasional 2020.“Belajar dari Covid-19”.

**Kepala SMA Negeri 1 Manggar dan Ketua Asosiasi Guru Penulis Indonesia Prov. Bangka Belitung