Perayaan Imlek Sebagai Bukti Entitas Toleransi Budaya yang Membumi

oleh -
Perayaan Imlek Sebagai Bukti Entitas Toleransi Budaya yang Membumi

M. Syaiful Anwar, S.H., LL.M*

SECARA HISTORIS, Imlek masuk ke Indonesia sudah lama, sehingga masyarakat Indonesia sudah sering melihatnya.

Perayaan Imlek sendiri merupakan perayaan yang cukup istimewa. Hal ini dikarenakan sebelumnya perayaan Imlek dilarang dengan dikeluarkannya Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 yang secara tidak langsung berisi larangan segala bentuk kegiatan, perayaan ataupun aktivitas yang mengandung unsur Tionghoa termasuk salah satunya adalah Perayaan Imlek.

Dalam kurun waktu yang lama “tertutup” oleh aturan Inpres tersebut yang kemudian pada tahun 2000 oleh Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur) mencabut Inpres Nomor 147 Tahun 1967 tersebut dan kemudian pada tanggal 9 April 2001 Presiden Abdurahman Wahid juga mengeluarkan Keputusan Presiden (Kepres) Nomor. 19/2001, yang isinya meresmikan tahun baru Imlek sebagai hari libur fakultatif artinya berlaku bagi yang merayakannya.

Bahkan, oleh Presiden Megawati Soekarnoputri, pada tahun 2002 secara resmi menetapkan Imlek sebagai salah satu hari libur nasional.

Secara komprehensif konsep masyarakat di Indonesia yang heterogen sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan UUD NRI 1945 yang mendasarkan pada kebhinekaan sehingga justru mempersatukan bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Secara sosilogis, Imlek sudah menjadi bagian kehidupan sosial masyarakat Indomesia, hal ini dibuktikan dengan seluruh masyarakat bersuka cita menyambut Hari Raya Imlek sebagai sebuah tatanan Budaya Tionghoa yang menarik dan penuh makna.

Dalam sisi ekonomi, adanya Hari Raya Imlek berdampak pada peningkatan penjualan pernak-pernik beraksesoris Imlek dan memunculkan simpul-simpul ekonomi akaibat Imlek.

Hakikatnya, perayaan Imlek ini menumbuhkan sikap toleransi di Indonesia yang multikulturalisme sehingga menjadi alas dasar persatuan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sikap toleransi diterjemahkan sebagai sikap menenggang (menghargai, membiarkan, atau membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan lain sebagainya) yang berbeda dengan pendirian kita sendiri.

Sedangkan toleransi menurut Wikipedia adalah secara bahasa kata ini berasal dari bahasa latin tolerare yang berarti dengan sabar membiarkan sesuatu. Pengertian toleransi secara luas adalah suatu perilaku atau sikap manusia yang tidak menyimpang dari aturan, di mana seseorang menghormati atau menghargai setiap tindakan yang dilakukan orang lain.

Toleransi juga dapat berarti suatu sikap saling menghormati dan menghargai antarkelompok atau antarindividu (perseorangan) baik itu dalam masyarakat ataupun dalam lingkup yang lain. Sikap toleransi dapat menghindari terjadinya diskriminasi, walaupun banyak terdapat kelompok atau golongan yang berbeda dalam suatu kelompok masyarakat.

Toleransi terjadi karena adanya keinginan-keinginan untuk sedapat mungkin menghindarkan diri dari perselisihan yang saling merugikan kedua belah pihak.

Apabila kita contohkan dalam kehidupan sehari-hari dapat kita lihat adanya hubungan dan sikap saling menghargai pendapat dan/atau pemikiran orang lain yang berbeda dengan kita, bekerjasama antara manusia Indonesia dalam hidup bergotongroyong, kemudian hidup saling tolong-menolong dalam peristiwa kemanusiaan tanpa memandang suku /ras /agama/ kepercayaannya ataupun golongan. Hal ini lah yang membentuk jiwa toleransi yang kuat dalam urat nadi bangsa Indonesia.

Dalam merayakan Imlek dengan perayaan dengan penuh penghayatan, maka perayaan Imlek sesungguhnya lebih bermanfaat jika dapat lebih dirasakan spirit yang terkandung di dalamnya, yakni bagaimana kita berbagi kebahagiaan dan kegembiraan, berbagi rezeki, dan mengembangkan sikap saling menghargai bagi kita semua.

Semoga perayaan Imlek menjadi momen yang bermanfaat bagi masyarakat dilingkungan sekitarnya. Toleransi dalam hubungan sosiobudaya menitikberatkan pada implementasi persatuan yang kuat dalam suatu hubungan kehidupan bermasyarakat sehingga terjalin ikatan yang kuat dan berjalan dalam nilai-nilai keharmonisan masyarakat berbudaya unggul. Hal tersebut tercermin dalam sikap toleransi atas perayaan imlek di Indonesia bahkan diseluruh belahan dunia.

Secara umum sikap toleransi ini juga memiliki nilai syukur terhadap Sang Pencipta. Nilai syukur ini bertujuan agar lebih mengedepankan rasa yang dicapai sekarang ini diberkahi dan ke depan mendapatkan keberuntungan yang lebih khususnya di tahun depan.

Pemaknaan diksi toleransi dan rasa syukur merupakan hal yang tidak terpisahkan dari jiwa dan rasa manusia yang memahami filosofi hidup.

Dengan toleransi akan muncul sikap dan sifat toleran kepada yang lainnya khususnya pada perayaan Imlek di Indonesia. Sikap toleran ini merupakan bentuk toleransi yang memiliki nilai luhur untuk di apresiasi dan dihayati oleh setiap person di sejak kecil sampai tua nanti.

Sikap toleransi merupakan kunci bangsa Indonesia agar lebih siap menghadapi ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan dari kepentingan-kepentingan yang tidak bertanggungjawab.

Oleh sebab itu, toleransi dalam berbudaya merupakan sifat dan sikap arif dan bijaksana asli masyarakat Indonesia yang digunakan untuk membangun persatuan dan kesatuan bangsa.

*/) Dosen HTN FH UBB/ Kader PWPM Babel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *