Pentingkah Pendidikan Karakter Sejak Dini?

by -
Pentingkah Pendidikan Karakter Sejak Dini

Oleh: Felia Karunia**

ANAK dan orang dewasa sangat berbeda. Hal tersebut ditinjau dari sisi pertumbuhan fisik, perkembangan intelektual, perubahan perilaku dan pola piker, serta beberapa sudut pandang secara keseluruhannya.

Saat anak dalam masa pertumbuhan, semua yang orang tua lakukan dan katakan akan mudah diterima dan diingat oleh si anak. Karena, pada masa itu adalah masa-masa dimana ia belajar dan sangat cepat untuk menerima, serta belajar segala sesuatu yang ia lihat dan ia dengarkan, baik itu hal negatif maupun hal positif.

Saat masih kecil, anak-anak belum mengetahui mana yang benar dan salah, hal baik maupun tidak baik, serta mereka belum mengerti dan kurangnya ilmu pengetahuan yang mereka serap.

Jika sejak dini orang tua mendidik anak dengan cara yang salah, maka ke depannya apa yang diajarkan orang tuanya akan terus tertanam dan bahkan akan membentuk perilaku yang sama seperti yang orang tuanya ajarkan.

Di zaman sekarang, anak-anak sedari kecil sudah diberi tontonan televisi atau menonton youtube. Mereka juga dapat belajar dari apa yang mereka tonton. Seperti film “Crayon Sinchan” yang dulunya pernah dilarang untuk ditayangkan di siaran televisi Indonesia, karena mengandung unsur yang kurang sopan dan tidak baik untuk ditonton oleh anak.

Apalagi jika orang tua kurang memperhatikan anaknya hanya karena sibuk dengan pekerjaan dan membiarkan anaknya bebas menggunakan gadget tanpa pengawasan orang dewasa. Hal itu akan lebih mudah memicu anak untuk membuka atau menonton suatu konten atau film yang tidak sesuai dengan umurnya.

Kesibukan orang tua juga akan membuat anak mudah merasa kesepian dan dapat mempengaruhi sifat, pergaulan, bahkan psikis anak. Maka tak jarang kebanyakan anak yang mengalami hal tersebut akan memiliki pergaulan dan sikap yang kurang baik.

Dalam ilmu sosiologi, peristiwa ini termasuk ke dalam teori Sosialisasi Tidak Sempurna.

Di lansir dari Brainly, Sosialisasi tidak sempurna adalah proses penanaman nilai sosial ke dalam diri suatu individu yang terkadang menimbulkan pertentangan antara media sosialisasi (misal keluarga dengan teman sepermainan).

Contoh, di keluarga diajarkan rokok itu suatu yang buruk dan berbahaya bagi kesehatan, tapi di lain pihak teman sepermainan mengejek jika tidak ikut merokok.

Menurut KBBI, sosialisasi adalah proses belajar seseorang anggota masyarakat untuk mengenal dan menghayati kebudayaan masyarakat di lingkungannya.

Sedangkan menurut Soerjono Soekanto, sosialisasi merupakan suatu proses sosial di mana seorang individu mendapatkan pembentukan sikap untuk berperilaku sesuai dengan perilaku orang-orang di dalam kelompoknya.

Jadi, sosialisasi juga dapat diartikan sebagai proses sosial yang terjadi jika seseorang individu menghayati dan melaksanakan norma-norma kelompok di mana ia hidup dan merasa bagian dari kelompoknya.

Tuntutan pendidikan dan globalisasi (proses yang mendunia) membuat anak SD saat ini telah memiliki HP (Hand Phone) atau Gadget sendiri untuk mencari materi guna mengerjakan tugas sekolah.

Tetapi, apakah mereka hanya akan bermain game dan mencari materi untuk tugas sekolahnya saja?

Apakah mereka tidak akan membuka hal-hal yang lain? Tentu saja mereka akan mencari sesuatu hal yang membuat mereka penasaran karena tidak tahu akan artinya.

Apalagi saat ini anak-anak SD masih di tingkat keingin tahuan yang tinggi dan orang tua yang sibuk membuat mereka menggunakan gadget dengan bebas tanpa pengawasan orang dewasa. Hal ini bisa memicu anak di bawah umur membuka situs-situs pornografi ketika tidak sengaja muncul, mereka yang masih kecil dan polos tentunya tidak mengerti dan penasaran untuk membuka situs tersebut.