Seri Materai Sama, Dokumen 200-an Pelamar CPNS dan PPPK Beltim Tak Penuhi Syarat

by -
Seri Materai Sama, Dokumen 200-an Pelamar CPNS dan PPPK Beltim Tak Penuhi Syarat - A2
Ilustrasi CPNS. Foto: Dok. sscasn.bkn.go.id

Total 985 Pelamar CPNS dan PPPK Beltim Tak Lolos Seleksi Administrasi

Penulis: su3 | Editor: Subrata Kampit

BELITUNG TIMUR, JABEJABE.co – Karena mengunggah dokumen palsu atau dokumen materai berseri sama, sejumlah 200-an pelamar untuk Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di Kabupaten Belitung Timur (Beltim) dinyatakan Tidak Memenuhi Syarat (TMS).

200-an pelamar tersebut merupakan sebagian dari jumlah mereka yang tidak lulus, karena total jumlah keseluruhan mereka yang tidak lulus dalam tahap seleksi administrasi Tes CASN dan PPPK di Beltim tahun 2021 berjumlah 985. Diantaranya 917 dari pelamar CPNS dan 68 dari PPPK.

Kepala BKPSDM Belitung Timur Yuspian mengungkapkan, total pelamar yang submit pada seleksi administrasi di Beltim berjumlah 2.869 untuk 178 formasi jabatan di CPNS, 106 formasi di PPPK Non Guru, dan 127 PPPK Guru.

Menurut Yuspian, dari 985 pelamar yang TMS masih ada kesempatan untuk melakukan sanggah. Hal tersebut menurutnya bisa saja disebabkan adanya kekhilafan panitia.

Terkait pelamar TMS dikarenakan materai, Yuspian menilai ketidaklulusan tersebut dikarenakan diduga terlalu menggampangkan dokumen bermaterai.

Padahal, lanjut Yuspian, dokumen bermaterai memiliki kekuatan hukum. “Mereka ini, karena pakai digital, kadang-kadang di-copy paste, diedit, jadi serinya sama. Lalu, materai dengan seri yang sama digunakan di banyak dokumen,” jelas Yuspian saat dihubungi jabejabe.co, Senin (2/8/2021).

“Kalau boleh digitukan (copy paste) ngapain dibuat banyak-banyak, mending satu aja kan,” imbuh Yuspian.

Disampaikan Yuspian, dokumen dengan materai sama dikategorikan dalam dokumen palsu. Mekanisme online menurutnya bukan berarti dokumen boleh dibuat fiktif, justru dokumen itu harus benar-benar real atau ada.

“Ijazahnya, lamaran bermaterai, ditandatangani, itu semuanya harus ada. Nanti pada waktunya yang bersangkutan lulus atau pada saat pemberkasan manual nanti perlu ditunjukkan dokumen itu. Dan dokumen yang di-upload (Diunggah) harus sama persis dengan yang di-upload secara online,” kata Yuspian.

Jadi, lanjutnya, jangan sampai mereka berpikir saat diminta (jika pelamar lulus) barulah ditempel materai. “Itu artinya, dak pernah ada dokumen yang di-upload dari dia. Artinya baru disusulkan, dan itu (Kesalahan) mutlak,” terangnya.

“Karena sudah disebutkan lamaran bermaterai yang ditandatangani. Kan sudah jelas dengan nilai-niai materainya diberikan (tertulis) Rp 10 ribu. Itu sudah terang (jelas tertulis),” tutur Yuspian.

Secara detail dipaparkan Yuspian, bahwasannya yang menyebabkan peserta gugur ini ada beberapa faktor. “Satu, soal materai. kedua, kekurangan berkas. Artinya yang di-upload mereka ada berkas yang tidak lengkap, kalau kami menyebutnya BTL (Berkas Tidak Lengkap),” kata Yuspian.

Kemudian penyebabnya lainnya ada format yang tidak sesuai. Selanjutnya, ada yang tidak menandatangani dokumen.

“Kemudian ada yang sifatnya diragukan keasliannya. Termasuk soal foto. Jadi foto ini misalkan sudah ditentukan dengan latar belakang merah, terus malah pakai latar belakang biru,” ujarnya.

Bahkan ada pula jenis kesalahan foto lainnya, yakni foto yang difoto. “Terus (foto) diedit lagi sesudah itu,” tambahnya.

Kenapa foto dianggap penting? Karena menurut Yuspian, persyaratan yang diminta adalah foto yang terbaru. “Sebenarnya karena nanti ada recognize (Pengenalan) wajah pada waktu mereka pendaftaran. Kemudian sampai pada waktu tes di depan komputer, saat itu dikenali pula wajahnya,” terangnya.

Jadi, kata Yuspian, kalau foto yang tidak cukup memadai, contohnya foto jadul (Jaman dulu), misalnya foto jaman masih SMA (Sekolah Menengah Atas), karena mentang-mentang permintaan berbaju putih, kemudian menggunakan foto SMA.

“Bahkan, di foto masih ada cap atau stempel. Kita tidak tahu apa yang terjadi, mungkin karena dibantu oleh orang lain yang meng-upload dokumen. Jadi kan kalau bukan yang bersangkutan, kadang-kadang terkesan sembarangan, namanya juga disuruh,” kata dia.

Ada yang Download Gambar Materai dari Google?

Kembali ke masalah materai. Yuspian mengaku tidak tahu dan bingung saat melihat dokumen dengan materai berseri sama. “Kita tidak paham, mungkin rekan yang sudah memakai materai dimbil lalu di-scan, diedit kembali, atau materai tersebut kembali digunakan,” urainya.

Bahkan, ia menduga mungkin saja ada pelamar yang seraching di google dan melihat gambar materai lalu di-download, kemudian digunakan. “Jadi (maaf) lucu-lucu juga saat ngelihat dokumennya, sangat kentara,” kata Yuspian.

Karenanya, Yuspian berpandangan bahwa pelamar CPNS ini harus memahami aspek legal dokumen, bahwa surat bermaterai dan tidak bermaterai ini berbeda makna hukumnya.

“Kalau dokumen bermaterai ini kan berkekuatan hukum dan bisa digunakan sebagai barang bukti dan lain-lain. Apalagi ini sifatnya pernyataan yang ada konsekuensi hukum. Dan materai ini untuk melegalisasi,” ujar Yuspian.

Berbeda halnya dengan perusahaan berbadan hukum atau instansi yang punya cap atau bisa menggunakan cap atau stempel, maka terkait perseorangan wajib menggunakan materai. “Dengan cap akan membuat dokumen menjadi autentik (asli atau dapat dipercaya),” terangnya lagi.

Dijelaskan Yuspian, ada tiga dokumen yang bermatrai. Diantaranya surat lamaran, surat pernyataan tidak akan mutasi, dan fakta integritas. “Jadi ada tiga dokumen yang menggunakan materai,” terangnya.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *