Panahan Beltim, Antara Semangat Baru dan Minimnya Peralatan Berlatih

by -
Panahan Beltim, Antara Semangat Baru dan Minimnya Peralatan Berlatih
Seorang atlet Panahan Beltim saat melakukan pemanasan latihan dengan memanah dalam jarak dekat, Senin (31/5/2021). Foto: su3/jabejabe.co

Gunakan Empat Busur Panah Aset KONI Beltim

Penulis: su3 | Editor: Subrata Kampit

BELITUNG TIMUR, JABEJABE.co – Panahan (Archery) merupakan salah cabang olahraga yang dipertandingkan dalam berbagai turnamen. Olahraga ini menggunakan busur panah untuk menembakkan anak panah (arrow) ke target.

Khusus di Kabupaten Belitung Timur (Beltim) olahraga ketepatan ini baru saja berdiri, yakni sekitar empat bulan lalu.

Berbeda dengan cabor lainnya di Beltim, karena masih seumur jagung, peralatan berlatih serta sarana-prasarana olahraga panahan masih terbilang minim.

Berbekal empat busur panah yang merupakan aset KONI Beltim, beberapa atlet pun melakukan latihan di lapangan sepak bola terbuka area Beltim Sport Centre, Desa Sukamandi Kecamatan Damar, Beltim.

Dengan minimnya jumlah busur dan anak panah, hal tersebut tentu saja masih menjadi kendala dalam upaya membangkitkan olahraga ini di Belitung Timur.

Pelatih Panahan Beltim, Freddy Falderrama, mengungkapkan pada sesi latihan awal usai dilakukan sosialisasi, ada 40 orang yang berminat dan datang. Namun demikian, jumlah tersebut seiring waktu surut karena tidak adanya fasilitas.

“Kesulitannya karena tiap pergantian pemanah, maka harus dirubah pula ukuran visir,” ujar Ipal, sapaan sang pelatih.

Lebih lanjut dijelaskannya, meskipun ada orang yang memiliki tubuh sama tinggi, namun karena berat badan yang beda maka ukuran visirnya pun tak sama.

“Tarikan beda, panjang lengannya juga beda, karenanya setiap pemanah punya ukuran visir masing-masing,” jelasnya.

Untuk saat ini, menurut Ipal Atlet Panahan Beltim yang aktif berjumlah tujuh orang, dan sebagian dari mereka sudah punya busur sendiri.

“Harganya juga lumayan, kalau satu set stardard bow minimal Rp 6 juta. Dan, arrow (Anak panah) selusin Rp 1,5 juta,” ujar pelatih yang sehari-hari berprofesi sebagai pengajar di SMK Renggiang tersebut.

Saat ini, lanjut Ipal, dirinya mengagendakan latihan setiap hari sebagai persiapan menjelang Bupati Cup dan PORKAB. Selain itu, latihan demi latihan juga terus dilakukan untuk membentuk bibit atlet yang akan bertarung di Kejurda 2023 nanti.

“Untuk atlet laki-laki sudah banyak, yang kurang atlet perempuan. Oleh karena itu, kita akan kembali menjaring atlet panahan perempuan, khususnya kelahiran 2007 ke bawah,” sebut Ipal.

Sehubungan dengan penjaringan atlet, Ia pun menerangkan, bahwasannya perekrutan bibit-bibit atlet panahan memiliki kriteria tertentu.

“Finansial penting, karena alat-alatnya relatif mahal. Selain itu, kemampuan otak atlet harus di atas rata-rata,” terangnya. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *