Open Pit Nam Salu Diprediksi Geologis Masih Mengandung 600.000 Ton Bijih Timah

by -
Open Pit Nam Salu Diprediksi Geologis Masih Mengandung 600.000 Ton Bijih Timah
Open Pit Nam Salu

BELITONG, JABEJABE.co – Resmi menyandang predikat UNESCO Global Geopark (UGG) sejak Kamis (15/4/2021), Belitong dinilai memiliki keunikan dan keterkaitan dengan aspek geologis.

Dari beberapa wilayah di Pulau Belitung yang memiliki keunikan tersebut, Open Pit Nam Salu di Kecamatan Kelapa Kampit, Kabupaten Belitung Timur merupakan salah satunya.

Sebagaimana diketahui, Open Pit Nam Salu merupakan area eks pertambangan timah yang memiliki sejarah panjang, hingga menjadi kawah besar seperti yang dilihat saat ini.

Melalui keterangan yang disampaikan kepada jabejabe.co, Geologist Veriyadi menjelaskan panjang lebar seputar sejarah serta kejayaan Open Pit Nam Salu Kelapa Kampit pada masanya.

Nam Salu

Menurut Veri, Nam Salu (Bahasa Hakka/Khek) sebelumnya digunakan untuk penamaan wilayah bagian selatan, kemudian diadopsi oleh Roger Taylor, Konsultan Geologi dari Inggris yang berkebangsaan Australia, untuk memberikan sebutan fomasi batuan yang memanjang dari Kepenai sampai ke Damar yang terbentuk dari abu gunung api (Tufa) kemudian menjadi batuan sedimen dengan kandungan magnet yang tinggi. Nama tersebut kemudian diistilahkan Nam Salu Horizon. Formasi ini dipercaya sebagai perangkap (Trap) mineralisasi di mana sifatnya yang elastis untuk mencebak magma dari dalam bumi yang mengandung mineral ekonomis.

Batuan tufa ini terbentuk sekitar 350 sampai 200 juta tahun lalu kemudian terjadi instrusi batuan granitoid sebagai sumber mineral ekonomis yang berusia lebih muda yaitu sekitar 250 sampai 200 juta tahun lalu (Jones,. Et al, 1977).

Tubuh Bijih (Orebody) yang ditemukan di kawasan Open Pit, yang sekarang disebut Nam Salu Open Pit, merupakan tubuh bijih yang terkaya di Asia Tenggara.

“Tubuh bijih ini di temukan oleh Tim Geologist BHP dan penambangan pertama dimulai tahun 1976 sebagai pilot project melalui pekerjaan tambang bawah tanah yang disebut Adit 22,” kata Veri.

Dari 100 Ton jadi 250 Ton per Hari

Produksi permulaan ini adalah 100 ton per hari yang kemudian ditingkatkan menjadi 250 ton ore per hari pada tahun 1978 dengan dibukanya tambang Open Pit yang sebelumnya dikerjakan dengan tambang bawah tanah.

Tubuh bijih ini tidak ditemukan oleh Geologist Belanda yang dikepalai oleh Mr. Cheung dari sejumlah sumur uji (Test Pit) yang telah dikerjakan menemukan hasil yang negatif. Dengan demikian, dia memutuskan bahwa tidak terdapat potensi cadangan timah di Selatan atau dalam Bahasa Hakka/Khek dikenal dengan istilah “Nam Salu”.

BHP, suatu perusahaan terbesar yang berbasis di Melbourne Australia, mengajukan Kontrak Karya Generasi ke-2 tahun 1971 kepada Pemerintah Indonesia yang kemudian melakukan eksplorasi di seluruh wilayah Pulau Belitung.

Berdasarkan dari kajian laporan operasi GMB -perusahaan swasta Belanda yang berhenti operasi di Kelapa Kampit tahun 1939, kandungan timah di Belitung berasosiasi dengan magnetite, dengan demikian BHP menggunakan metode aeromagnetic untuk mengetahui sebaran kandungan timah di Belitung.

Tiap – tiap daerah yang menunjukkan gejala anomaly magnetite, akan dilanjutkan dengan ground magnetic, kemudian pemetaan, analisa geokimia, dan pengambilan contoh.

Wilayah Open Pit inilah yang terindikasi adanya gejala magnet yang tinggi. Sejumah paritan (Costean) dibuat di permukaan. Namun, seperti yang telah dilakukan sebelumnya oleh Mr. Cheung, maka hasilnya pun negatif.

Namun, imbuh Veri, rasa penasaran terhadap anomaly tersebut membuat Geologis BHP menggunakan metode eksplorasi lain yang kemudian dilakukan dengan pemboran inti (Coring). Bor DDH 22 dilakukan persis di bawah line anomaly tersebut dan berhasil menembus tubuh bijih bagian bawah setebal 5.5 meter dengan kadar 4.2% Sn. Kadar yang sangat tinggi untuk kandungan timah primer kelas dunia yang hanya bisa disaingi oleh endapan timah terkaya di dunia, San Rafael di Peru.

Cadangan Bawah Tanah Tersisa 600.000 Ton

Selanjutnya, bor 39 menembus tubuh bijih bagian barat dengan ketebalan 11m dan kadar 3%Sn. Sukses hasil pemboran ini dilanjutkan dengan pembuatan adit 22 sebagai pilot project dan kemudian menembus tubuh bijih setebal 40 dengan kadar 2%Sn.

“Ini mengkritik argumen Mr. Cheung bahwa wilayah ini tidak adanya potensi orebody yang ternyata tertutup 70m dibawah permukaan tanah,” kata Veri.

Sukses ini membawa BHP beroperasi sampai tahun 1985. Setelah tanggal 1 mei 1985, kepemilikan BHPI di Kelapa Kampit ini diambil alih oleh perusahaan tambang Jerman Preussag Metal Ag dengan nama PT. Preussag Kelapa Kampit (PKK).

Tahun 1989, Preussag Gmbh sebagai induk Preussag Metal AG menutup divisi tambang di seluruh dunia yang berdampak pada PT. PKK yang kemudian dijual ke PT. Gunung Kikara Mining (GKM) di mana kepemilikan sahaamnya adalah 90% Diadem Ltd (Kanada) dan 10% PT. GKM pada tahun 1990.

Operasi Open Pit berakhir pada tahun 1993 dikarenakan cadangan yang sudah menipis serta harga timah yang turun mencapai USD 4,250 per ton.

Bagian barat orebody Open Pit ini ditemukan oleh Senior Gelogist Preussag, Lutis Norman di tahun 1987.

“Indikasi orebody ini ditemukan dari hasil pemetaan permukaan Open Pit yang telah terkupas dan menunjukkan gejala kemenerusan ke arah barat laut. Penemuan ini bisa menambah usia tambang open pit ini sampai 3 tahun kemudian,” jelasnya.

Di saat beroperasi, Tambang Open Pit menghasilkan 88% dari total produksi yang sisanya didapat dari operasional tambang dalam yang dikelola sampai Level IV (120m). Tambang Open Pit ini dikenal dengan tipe endapan yang butiran timah sangat halus (very fine grained) sehingga perlu di-blending dengan timah dari operasi bawah tanah untuk meningkatkan recovery (Perolehan) bijih timah.

Semua aktivitas tambang di Belitung berhenti di tahun 1929 karena harga timah yang rendah. Namun, operasi tambang di Kelapa Kampit masih beroperasi sampai tahun 1939. Sistem peleburan timah di Kampit terhitung modern di jamannya karena telah mampu memisahkan timah dari kandungan sulfida dengan mengembangkan metode flotasi.

Eksplorasi bawah tanah yang dikerjakan GMB dengan kuli didatangkan dari Tiongkok, berhenti tahun 1939 dan belum sempat menambang bukaan bawah tanah yang telah dibuat sampai kedalaman 350 meter.

Pada saat pendudukan Jepang di Indonesia tahun 1942 sampai 1945, tambang dalam ini kemudian di tenggelamkan oleh Belanda sehingga tidak ditemukan oleh Jepang. Tambang ini kemudian mulai dikeringkan oleh BHP tahun 1971 untuk kegiatan eksplorasi. Kemudian pengeringan berlangsung sampai tahun 1985 sebelum akhirnya operasi tambang dalam dihentikan akibat penurunan harga timah semenjak 1983.

BHP menemukan bahwa cadangan yang tercatat di laporan GMB sangat akurat dan BHP menggunakan laporan tersebut sebagai acuan cadangan pengembangan tambang bawah tanah.

Namun operasi BHP hanya sampai level IV di mana masih ada cadangan tersisa yang belum sempat digali sampai level IX. Proposal BHP awalnya ingin mengolah cadangan sampai level IX dan meningkatkan kapasitas produksi dari 250 ton ore per hari menjadi 500 ton ore per hari. Namun upaya ini terhenti karena turunnya harga timah di pasaran dunia semenjak tahun 1983.

Cadangan bawah tanah yang tersisa di Kelapa Kampit dari Level IV ke Level IX adalah sekitar 600.000 ton dengan kadar 1.50% Sn sesuai hasil hitungan yang dilakukan Veriyadi dan ayahnya Lutis Norman, di tahun 2008.(*/)

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *