Open Defecation Free atau Stop Buang Air Besar Sembarangan

oleh -
Open Defecation Free atau Stop Buang Air Besar Sembarangan
Ilustrasi ODF. Source: Istimewa | buzznigeria.com

Lima Pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat

JABEJABE.co – Open Defecation Free (ODF) adalah kondisi ketika setiap individu dalam komunitas tidak Buang Air Besar Sembarangan (BABS). ODF menjadi penting karena pembuangan tinja yang tidak memenuhi syarat sangat berpengaruh pada penyebaran penyakit berbasis lingkungan.

BABS atau Open defecation merupakan suatu prilaku membuang kotoran atau tinja di semak-semak, ladang, hutan, pantai, sungai atau area terbuka lainnya yang kemudian dibiarkan menyebar mengkontaminasi lingkungan, tanah, udara dan air.

Tindakan membuang tinja di area terbuka seperti yang dicontohkan di atas, maka jika dibiarkan akan menyebar hingga mengkontaminasi lingkungan, tanah, udara dan air.

Deklarasi ODF merupakan pernyataan suatu komunitas yang telah bebas dari Perilaku Buang Air Besar di sembarang tempat, setelah memenuhi proses verifikasi yang telah diadakan sebelumnya.

Verifikasi Open Defecation Free adalah proses memastikan status ODF suatu komunitas masyarakat yang menyatakan bahwa secara kolektif mereka telah bebas dari perilaku buang air besar sembarangan.

Apabila dilakukan pola hidup sehat dari masing-masing individu, maka baik individu atau suatu komunitas tidak akan mudah diserang berbagai penyakit.

Berikut lima pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang harus dilakukan, diantaranya:

1. Stop buang air besar sembarangan;
2. Cuci tangan pakai sabun;
3. Pengelolaan air minum rumah tangga;
4. Pengelolaan sampah rumah tangga; dan
5. Pengelolaan air limbah rumah tangga.

Permasalahan yang Timbul Akibat Tinja

Sebagaimana dilansir dari puskesmaskandangan.temanggungkab.go.id, berikut ini adalah permasalahan yang mungkin ditimbulkan akibat buruknya penanganan buangan tinja:

  • Mikroba

Tinja atau kotoran yang dikeluarkan manusia mengandung puluhan miliar mikroba, termasuk bakteri koli-tinja. Sebagian diantaranya tergolong sebagai mikroba patogen, seperti bakteri Salmonela typhi penyebab demam tifus, bakteri Vibrio cholerae penyebab virus penyebab hepatitis A, virus penyebab polio, dan kolera.

Mirisnya, penyakit yang timbul akibat kondisi sanitasi yang buruk di Indonesia sangat tinggi. BAPENNAS menyebutkan, tifus mencapai 800 kasus per 100.000 penduduk. Sementara itu polio masih dijumpai, walaupun di negara lain sudah sangat jarang.

  • Materi Organik

Tinja merupakan sisi dan ampas makanan yang tidak dicerna oleh tubuh. Kotoran manusia ini dapat berbentuk karbohidrat, protein, enzim, mikroba, lemak dan sel-sel mati. Satu liter kotoran manusia terkandung materi organik yang setara dengan 200-300 mg BODS (kandungan bahan organik).

  • Telur Cacing

Seseorang yang mengalami cacingan akan mengeluarkan tinja atau kotoran yang mengandung telu-telur cacing. Beragam cacing dapat dijumpai di perut. Misalnya, cacing gelang, cacing tambang, cacing cambuk, dan keremi. Satu gram tinja berisi ribuan telur cacing yang siap berkembang biak di perut orang lain. Anak yang cacingan merupakan kejadian biasa di Indonesia. Penyakit ini kebanyakan diakibatkan cacing cambuk dan cacing gelang, prevalensinya bisa mencapai 70 persen dari balita.

  • Nutrien

Umumnya merupakan senyawa nitrogen dan senyawa fosfor yang dibawa sisa-sisa protein dan sel-sel mati. Nitrogen keluar dalam bentuk senyawa amonium, sedangkan fosfor dalam bentuk fosfat. Satu liter tinja manusia mengandung amonium sekira 25 gram dan fosfat seberat 30 miligram. Senyawa nutrien adalah pemicu tumbuhnya tanaman ganggang (algae). Akibatnya pertumbuhan ganggang, warna air menjadi hijau. Hadirnya ganggang di dalam air akan menghabiskan oksigen, sehingga ikan dan hewan lainnya mati.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *