Minat Baca di Kabupaten Beltim Masih Rendah

by -
Minat Baca di Kabupaten Beltim Masih Rendah (2)
Perwakilan dari PT. Timah dan Bank Sumsel Babel saat menyerahkan bantuan buku pada kegiatan Gerakan Indonesia Membaca (GIM) di Auditorium Zahari MZ, Rabu (23/12/2020). Foto: Doc. Diskominfo Beltim.

MANGGAR, JABEJABE.co – Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Beltim Amrizal menyatakan sesuai hasil survey UNESCO tahun 2011, hanya 1 dari 1.000 orang di Indonesia yang memiliki minat baca. Kondisi ini juga diakuinya tak jauh berbeda dengan yang ada di Kabupaten Beltim.

“Makanya dengan adanya pencanangan ini kita ingin membaca itu jadi suatu kebutuhan. Bukan hanya di sekolah, tapi juga di lingkungan sosial, masyarakat serta di perusahaan ataupun tempat publik lainnya,” kata Amrizal dalam kegiatan Gerakan Indonesia Membaca (GIM) di Auditorium Zahari MZ, Rabu (23/12/2020).

Amrizal menekankan dalam membaca setidaknya ada transfer ilmu dan pengaplikasian dalam dunia nyata. Menurutnya, hasil dari membaca dapat digunakan untuk menambah penghasilan.

“Kayak hari ini semua yang ditampilkan dan dijual di stan-stan merupakan hasil dari apa yang mereka dapat di buku. Mereka baca terus mereka terapkan, hingga jadilah hal yang bermanfaat,” ujarnya.

Selain itu Amrizal berharap agar semua berkomitmen untuk membangun GIM, memperkuat kolaborasi dari semua unsur dan meningkatkan kemampuan literasi dalam menghadapi kehidupan.

“Untuk itu saya berterima kasih kepada PT Timah dan Bank Sumsel Babel Cabang Manggar yang sudah mendonasikan buku. Tentunya buku-buku ini akan dimanfaatkan oleh masyrakat mulai dari anak-anak hingga dewasa,” ucapnya.

Sementara Bupati Beltim melalui Asisten III Zuryanti mengakui jika budaya membaca buku lambat laun kian pudar dan ditinggalkan oleh masyarakat. Teknologi digitalisasi menggantikan peran buka, tak heran jika budaya membaca buku saat ini mulai ditinggalkan.

“Terlebih bagi anak-anak, dengan hadirnya permainan dalam gadget, membuat mereka lebih gemar bermain game daripada membaca buku. Hal ini jadi keprihatinan kita bersama, apalagi mereka adalah modal masa depan,” kata Zuryanti.

Zuryanti mengharapkan agar pemangku kepentingan melakukan inovasi menyeluruh agar GIM benar-benar berjalan bukan sekedar seremonial, namun dapat digiatkan dan menjadi kebiasaan.

“Saya minta sarana membaca seperti Perpustakaan Umum Daerah, Perpustakaan Desa, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat, Taman Bacaan Masyarakat untuk terus meningkatka mutu buku bacaan dan sarana prasarana yang ada sehingga masyarakat betah dan bisa menjadi rumah kedua untuk mendapatkan ilmu,” harapnya.

Sumber: Diskomindo Beltim
Penulis: Fauzi Akbar
Editor: Subrata