Menjadi Guru Idaman

oleh -
Guru Idaman

Oleh: Drs. Suhardianto*

MENJADI seorang guru merupakan idaman bagi sebagian orang, apalagi menjadi guru yang professional. Tidak dapat dipungkiri bahwa dewasa ini profesi guru adalah profesi yang sangat diminati. Ditambah lagi dengan semakin berpihaknya pemerintah pada profesi ini, membuat orang semakin tertarik untuk menjadi guru. Lantas bagaimanakah menjadi seorang guru yang sesungguhnya?

Guru yang professional adalah guru yang mengabdikan hidup untuk menuangkan ilmu-ilmunya, dan mereka tak lari dari masalah akan tetapi akan selalu menyelesaikan masalahnya. Kurniasih (2012) mengibaratkan bahwa professional guru harus kokoh bagaikan akar pohon yang terus menembus kerasnya tanah demi mendapatkan makanan untuk dedaunan.

Maknanya adalah seorang guru kuat dan berusaha memberikan yang terbaik bagi anak didiknya, layaknya perjuangan akar terhadap daun. Hal ini tidak lain adalah untuk mendukung dan mempersiapkan anak didiknya agar dapat menunjukkan kemampuannya serta mencapai puncak prestasi.

Kompetensi seorang guru merupakan keniscyaan yang akan menunjukkan kualitasnya dalam mengajar. Hal ini tentunya akan terwujud dalam bentuk penguasaan pengetahuan dan professional dalam menjalankan tugasnya sebagai guru.

Seperti yang kita ketahui dalam peraturan pemerintah nomor 74 tahun 2008 tentang guru, terdapat empat kompetensi yang harus dikuasai. Keempat kompetensi tersebut adalah: 1) Pedagogik, 2) Kepribadian, 3) Sosial, dan 4) Profesional.

Hal ini jelas mencerminkan bahwa guru dituntut memiliki profesionalitas dalam pekerjaannya. Guru harus menguasai teori dan prinsip-prinsip pemebelajaran yang mendidik dan menunjukkan pribadi yang dewasa serta menjadi teladan.

Selain itu, guru juga harus mampu menjalin komunikasi yang baik dengan berbagai pihak, Guru juga harus selalu mengembangkan keprofesionalannya melalui tindakan yang reflektif. Tidak hanya itu, seorang guru juga membutuhkan sebuah kreatifitas.

Lewat kreatifitas inilah seorang guru dapat menikmati profesinya, memiliki seni mengajar dan mendidik, berilmu, berinovasi, memecahkan masalah, serta terus berkembang.

Terlepas dari kompetensi yang harus dimiliki, guru pada dasarnya harus mampu menjadi idaman. Guru idaman di sini adalah guru pekerja keras, tidak egois, dan tidak mementingkan dirinya. Ia akan beralih secara adil memperhatikan satu persatu anak didiknya tanpa terkecuali. Guru seperti ini juga akan ikhlas mendidik anak didiknya tanpa mengharap imbalan apapun.

Baginya, kesuksesan dan keberhasilan anak didiknya adalah penghargaan itu sendiri. Kebanggaan baginya adalah saat ia menjadi aktor penting dan penabur ilmu yang bermanfaat dalam kesuksesan anak didiknya.

Selain itu, kebanggaan dan kepuasaan dari seorang guru idaman adalah saat kehadirannya sangat dirindukan dan dinantikan oleh anak didiknya.

Menjadi guru yang diidamkan oleh anak didiknya tentunya memilki kiat tersendiri. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh guru agar ia diidamkan dan menjadi panutan anak didiknya tanpa kehilangan wibawa sebagai seorang guru.

Komunikasi yang menyenangkan

Untuk menjadi guru idaman kita harus menempatkan diri kita sebagai sahabat bagi anak didik. Hal ini dapat dimulai dengan kebiasaan kecil kita, misalnya dengan menyapa dan menanyakan hal-hal terkait anak didik kita.

Kebiasaan kecil ini seolah tak bermakna, namun hal ini dapat memberikan jalinan emosi yang kuat bagi guru dan anak didiknya. Anak didik akan merasa diperhatikan atau dihargai oleh guru. Efeknya akan timbul motivasi untuk terus berusaha agar sukses dalam belajar dan menimbah ilmu dari guru tersebut.

Selain itu, anak didik juga akan merasa lebih nyaman saat berkomunikasi dalam proses pembelajaran sehingga tidak bosan.

Singkatnya berkomunikasilah, atau berbicaralah dengan anak didik secara akrab dan bersahabatlah, agar hati mereka dapat disentuh dan berhasil untuk diraih. Hal ini sejalan dengan pendapat Kurniasih (2012) yang menyatakan” “Mengajar yang berhasil, adalah mengajar yang melibatkan hati, bukan bergantung pada ucapan kata-kata yang bersifat menekan, mengancam dan membuat siswa tidak nyaman.”

Membangun Interaksi yang Edukatif

Guru Idaman harus dapat melakukan interaksi yang bernilai edukatif dengan siswa. Interaksi Edukatif harus menggambarkan hubungan aktif dua arah dengan sejumlah pengetahuan sebagai medianya, sehingga menjadi hubungan yang bermakna dan kreatif.

Hubungan interaktif dua arah antara guru dan anak didik berlangsung dalam ikatan tujuan pendidikan, mengandung norma yang berlaku, sehingga dapat menjembatani kehidupan siswa yang mengantarkan kepada tingkah laku yang sesuai dengan pengetahuan yang diterimanya.

Tidak Semua Diajarkan

Menjadi guru idaman harus mampu melihat situasi dan kondisi anak didiknya. Artinya seorang guru harus memulai suatu materi pelajaran ketika suasana kelas sudah kondusif. Berhentilah juga untuk berpanjang lebar, cukup tekankan konsep-konsep penting yang dianggap penting untuk diketahui dan dipahami oleh siswa.

Berikan waktu kepada siswa untuk berpendapat dan menanyakan hal-hal yang belum jelas atau dimengerti serta libatkan meraka secara aktif sejak awal dimulainya pelajaran. Hal ini bertujuan agar siswa merasa hadir dalam pelajaran dengan materi yang disampaikan oleh gurunya dan akan terlihat seberapa jauh kesiapan siswa dalam menguasai materi pelajarannya.

Imbalan dan Hukuman yang sesuai Porsinya

Salah satu tantangan guru adalah membuat siswa dengan senang hati mengerjakan tugas yang diberikan. Tidak mudah memang untuk memotivasi siswa, terutama untuk mengerjakan pekerjaan rumah (PR) dan tugas lainnya. Namun demikian, hal ini dapat dilakukan dengan menerapkan konsep reward and punishment kepada siswa.

Artinya siswa yang baik dalam mengerjakan tugas akan diberi penghargaan atau pujian. Sebaliknya, beri mereka peringatan dan sedikit hukuman, seandainya mereka tidak mau mengerjakan tugas, atau kurang berhasil dalam ulangan. Semuanya itu dilakukan sebagai bagian dari upaya guru dalam membangun sistem pembelajaran yang efektif dan menarik.

Keempat kiat tersebut pada dasarnya dapat dilakukan oleh semua guru. Atau bahkan dapat ditambahkan lagi dengan kiat-kiat lain sesuai situasi dan kondisi ditempat mengajar. Karena pada dasarnya setiap tempat kita mengajar itu memiliki permasalahan dan cara penyelesaian yang berbeda. Oleh sebab itu, perlu menjadi guru idaman agar permasalahan tersebut dapat diselesaikan.

Terlepas dari itu semua, menjadi guru idaman pada dasarnya harus dijalankan dengan hati. Tidak akan ada suatu profesi apapun yang sukses apabila tidak dilakukan dengan senang hati.

Seperti yang diketahui, masih banyak ditemukan guru yang hanya menjadikan profesinya sebagai bagian dari suatu pekerjaannya saja, bukan kepeduliannya sebagai keprofesian yang strategis. Hal ini tentu saja menjadi suatu yang dilematis bagi dunia pendidikan kita, guru hanya menjadi aktor yang bekerja sekedar pelepas tanggungjawab, tanpa adanya rasa memiliki dan kebanggaan terhadap profesi yang dimilikinya. Bahkan ada sebagian guru yang masih belum memiliki kecakapan untuk mentranformasikan pengetahuannya.

Namun demkikan, kita juga tidak menanfikkan bahwa masih banyak guru yang benar-benar bertanggungjawab dengan profesinya, dan menjadi guru yang professional, sehingga disenangi anak didiknya dan menjadi karakter yang diidam-idamkan oleh setiap anak didiknya.

*/). Guru Bahasa Indonesia/ Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMA Negeri 1 Manggar

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *