Menggonggonglah Watchdog!

by -
Catcil Subrata Kampit - Menggonggonglah Watchdog

Oleh: Subrata Kampit

SAYA tidak sedang berbicara tentang Rottweiler, German Shepherd, Scottish Terrier, West Highland White Terrier, atau pun Miniature Schnauzer. Kelimanya merupakan jenis anjing pengawas alias Watchdog. Ini denotatif atau sebenarnya.

Atau, tidak pula berbicara tentang anjing betina sebagaimana tulisan apik Wabup Belitung, Isyak Meirobie.

Watchdog yang dimaksud perlu digaris bawahi dan jangan salah-salah dalam mengartikan. Bahwa yang ingin ditulis selanjutnya merupakan sesuatu dalam bentuk konotatif.

Maaf, bukan pula bermaksud mempersamakan.

Kali ini bolehlah mengutip kalimat Rocky Gerung, katanya, dalam bahasa asing disebutkan DPR itu adalah Watchdog. “Anjing Penggonggong Kekuasaan. Anjing siapa? Anjing Saya,” seloroh Gerung, nyeleneh.

Lalu, sambungnya, karena saya pemilik anjing itu untuk menggonggongi kekuasaan, supaya dikontrol kekuasaan itu yang bahasa kerennya Fungsi Pengawasan.

Siapa Maksud Gerung yang harusnya digonggong? Tentu kaum-kaum eksekutif yang tengah berbaring di awan lembut, di atas sana.

Pembaca pun tahu, sinergi legislatif ke eksekutif tak hanya urusan legislasi dan anggaran, ada juga pengawasan. Kalau pun bagus silahkan dipuji, jelek jangan dicaci dan maki cukup ditunjuk. Ini ini, itu itu.

Memang, jika hanya senin di kantor, selebihnya di rumah dan luar kota, tentu tak ada kesempatan untuk menjadi pengawas. Begitu sempit waktu untuk masyarakat–saya sangat prihatin, kata SBY.

Padahal, akan banyak sekali aduan masyarakat dari senin hingga sabtu, juga minggu. Semua akan tentang program dan evaluasi kinerja eksekutif.

Pada kosmos yang lain, selaku pers juga watchdog. Kontrol sosial juga.

Pers bisa memuji, ngeritik juga.

Pers pun yang berkoalisi dengan pemerintah, saat ini menjadi perhatian. Jika pun berkerja sama dengan eksekutif ada rambu-rambunya. Karena dikhawatirkan menjadi corong eksekutif, kan bahaya.

Bedanya pers juga memungkinkan jadi watchdog bagi legislatif. Semua tahu pers bebas parkir.

Sebagaimana judul tulisan Gerry Maulana pada kompasiana.com: Menggonggonglah, “Watchdog”!

Menggonggonglah dalam suara dan tulisan. Karena jika tak menggonggang, tak boleh disebut kerja.

**Pembelajar memberita di Belitung