Kisah Hikmah Dua Wisatawan, Mengapa Harus Cemas dan Kuatir?

oleh -
Kisah Hikmah Dua Wisatawan, Mengapa Harus Cemas dan Kuatir
Kolase: Kiri - Mengambil foto dengan handphone (Sumber: mountainmoments.de). Kanan - Minibus (Sumber: Instagram/mybushotel)

JABEJABE.co – Kisah ini mencoba mengajarkan untuk tidak perlu kuatir terhadap suatu hal ke depan. Jalani saja dan nikmati apa yang terjadi.

Sering banget kita dengar kata-kata gini “Jalani saja (Hidup), gak guna kuatir dan cemas segala, lagipula ada Allah yang maha kuat dan maha menjaga.”

Konsepnya demikian mudah ya kalau diucapkan, karena prakteknya tetap saja cemas dan kuatir terus melekat di hati. Terkait hal ini, cobalah ikuti kisah ini semoga dapat ditarik pelajarannya.

Ada suatu kisah di mana dua wisatawan puas menikmati pemandangan yang indah di suatu pegunungan. Tak terasa sore menjelang dan tiba saatnya untuk dijemput. Datanglah minibus yang menjemput mereka, namun sayangnya minibus ini tidak meyakinkan, dari segi bentuk dan mesinnya sudah terbilang usang.

Dua wistawan ini ternyata punya pandangan berbeda soal minibus yang akan membawa mereka pulang. Wisatawan pertama menggerutu dan marah marah karena dijemput dengan mobil demikian. Ia cemas kalau-kalau minibus itu mogok dan tidak mampu mengantar ke tujuan. Sementara wisatawan kedua terlihat tenang-tenang saja, lalu bergegas naik dan mengambil duduk berdampingan dengan wisatawan pertama.

Tidak ada habisnya wisatawan pertama menggerutu dan cemas berkepanjangan, ia kuatir terjadi apa-apa dengan minibus. Dalam perjalanan, minibus ini bergerak pelan dengan suara mesin menderu kala menanjak, seakan mau mogok melintasi jalan yang berbukit.

Berbeda halnya dengan wisatawan kedua, dia malah asik serta terus-menerus mengabadikan momen pemandangan bukit dengan handphonenya. Ia justru merasa beruntung, kondisi minibus yang berjalan pelan membuat fotonya menjadi lebih baik.

Setelah berapa lama, tibalah minibus ini di tujuan. Supir nampaknya paham betul, dengan kondisi mobilnya yang terbatas itu, ia pun mengemudikannya dengan santai dan berhati-hati agar tetap aman hingga sampai tujuan.

Wisatawan pertama heran dengan sikap wisatawan kedua yang tenang-tenang saja selama perjalanan itu, lalu bertanya ke wisatawan kedua, “Kawan, kok anda bisa tenang-tenang saja mendapati mobil jelek yang demikian?”

Lalu dijawab wisatawan kedua dengan tenang, “Apa yang perlu dicemaskan, seandainya ada masalah, pasti ada jalan keluarnya. Aku suka dengan perjalanan tadi. Bukankah pemandangannya indah sekali?”

Apa yang bisa diambil dari kisah ini? Kehidupan juga laksana perjalanan, kekuatiran tidak akan menambah sejengkal pun panjang usia kita. Banyak orang hidup dalam kekuatiran dan cemas mengenai apa yang belum terjadi. Orang sering takut dan tidak tahu apa yang ia takuti. Akhirnya, orang yang seperti ini tidak akan menikmati kehidupan. Kebahagiaan hidup hanya menjadi milik orang-orang yang mampu menikmatinya dengan penuh syukur, Wallahu a’lam***

Sumber: https://perkarahati.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *