Menakar Kadar Ijazah dan Buku Nikah Era Milenial

by -
Menakar Kadar Ijazah dan Buku Nikah Era Milenial

Oleh: Mega Andani**

Lagi dan lagi, kata milenial tak kan pernah ada ujungnya untuk dibicarakan. Kaum milenial banyak disebutkan akan membawa perubahan besar pada Bangsa Indonesia. Seseorang bisa dikatakan milenial apabila lahir pada kisaran tahun 90-an sampai tahun 2000 ke atas.

Memang sudah banyak terobosan baru pada masa kini yang semuanya berasal dari kaum milenial. Terobosan itupun banyak sekali yang bernilaikan positif. Namun, tak sedikit pula sering kita jumpai banyaknya hal negatif yang terjadi akibat tabiat kaum milenial.

Contoh yang akrab dengan kita adalah maraknya jumlah angka anak putus sekolah dan pernikahan dini.

Anak yang putus sekolah dari tahun ke tahun semakin meningkat. Pernikahan dinipun acap kali terdengar di telinga kita.

Pada era milenial saat ini, yang seharusnya bisa lebih membawa diri kepada hal positif malah membuat sebagian kaum milenial berpikiran pendek dalam mengambil keputusan.

Indonesia merupakan negara dengan jumlah anak putus sekolah tertinggi ke-2 setelah Negara China, dan peringkat ke-2 se ASEAN untuk jumlah angka perkawinan anak usia dini. Kedua hal ini saling memiliki keterkaitan.

Mengapa demikian? Kebanyakan dari kasus pernikahan dini disebabkan oleh anak yang sudah tidak memiliki keinginan untuk bersekolah lagi.

Begitupun sebaliknya, mereka yang memutuskan untuk tidak bersekolah biasanya akan lebih memilih untuk menikah, walaupun usianya belum mencukupi untuk menjalani sebuah ikatan pernikahan.

Angka partisipasi oleh anak usia sekolah di Indonesia disebut meningkat setiap tahunnya. Di sisi lain, total jumlah anak putus sekolah di 34 provinsi di Indonesia ini masih berada di kisaran 4,5 juta anak.

Dari data yang dimiliki Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), jumlah anak usia 7-12 tahun di Indonesia yang tidak bersekolah berada di angka 1,2 juta anak. Untuk kategori usia 13-15 tahun di 34 provinsi, jumlahnya 936.674 anak. Sementara usia 16-18 tahun, ada 2,4 juta anak.

Sedangkan kebanyakan dari anak yang menikah pada usia dini lebih didominasi oleh perempuan daripada laki-laki.

Pada situs web tempo.co (2019), data BPS menyebut satu dari empat anak perempuan di Indonesia telah menikah pada umur kurang dari 18 tahun pada 2008 hingga 2015.

Berdasarkan data penelitian Pusat Kajian Gender dan Seksualitas Universitas Indonesia tahun 2015, terungkap angka perkawinan dini di Indonesia peringkat kedua teratas di kawasan Asia Tenggara dan peringkat ketujuh di dunia.

Sekitar 2 juta dari 7,3 juta perempuan Indonesia berusia di bawah 15 tahun sudah menikah dan putus sekolah. Jumlah itu diperkirakan naik menjadi 3 juta orang pada 2030 nanti.

Dikutip dari situs CNN Indonesia (Rahman Indra, 2019) Provinsi Kalimantan Selatan menjadi provinsi dengan jumlah perkawinan anak tertinggi di Indonesia yaitu 39,53 persen (dari jumlah seluruh perkawinan), sementara Daerah Istimewa Yogyakarta terendah dengan 11,07 persen.

Data ini dihimpun oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan dirilis oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA).

Setelah Kalsel, empat provinsi lainnya dengan angka perkawinan anak paling tinggi adalah Kalimantan Tengah (39,21 persen), Kepulauan Bangka Belitung sendiri berada pada peringkat ke-2 yaitu (37,19 persen), Sulawesi Barat (36,93 persen), dan Sulawesi Tenggara (36,74 persen).

Pada kecamatan Manggar sendiri banyak sekali dijumpai anak atau remaja yang seharusnya masih bersekolah, malah sudah bekerja ataupun menikah.

Survei Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Kabupaten Belitung Timur, angka perkawinan anak usia dini juga cukup memprihatinkan.

Berdasarkan data dari kantor Kementerian Agama Beltim, sebaran perkawinan anak pada tahun 2018 yaitu berada di Desa Mentawak, Kelubi, Lenggang, Lintang, Simpang Tiga, Batu Penyu, dan Limbongan. Bahkan masih ada angka perkawinan anak usia di bawah 16 tahun yakni 4 persen.

Penyebab anak putus sekolah sendiri biasanya dikarenakan faktor ekonomi yang tidak terpenuhi.

Anak yang berasal dari keluarga yang ekonominya rendah akan memilih untuk berhenti sekolah. Mereka berpikiran bahwa dengan tidak sekolah mereka akan bisa bekerja. Kerjaan apapun yang bisa menghasilkan uang, akan mereka kerjakan.

Dengan begitu mereka akan menguragi sedikit beban ekonomi keluarga.

Pemikiran seperti itu biasanya sering dirasakan oleh anak laki-laki yang putus sekolah. Sedangkan anak perempuan akan berpikiran berbeda dari pemikiran anak laki-laki.

Bagi perempuan, dengan jumlah saudara kandung lebih dari empat, akan memilih untuk menikah.

Sama halnya dengan laki-laki, perempuan berpikir jika mereka memutuskan menikah, maka tanggungan biaya hidup dikeluarganya akan berkurang. Karena jika mereka sudah bersuami, maka suamilah yang berkewajiban memberi nafkah kepada istri.

Selain itu, faktor pergaulanpun menjadi penyebab serius bagi mereka yang putus sekolah dan menikah pada usia dini. Bagi mereka yang salah memilih pergaulan dalam lingkungan bermain akan mempemgaruhi pola pikir anak tersebut. Mereka berteman dengan siapa saja tanpa memandang teman mereka akan membawa dampak baik atau buruk bagi diri mereka.

Anak bergaul dengan remaja yang sudah lebih dulu putus sekolah. Lalu anak tersebut terpengaruh hanya dengan melihat teman mereka yang tidak sekolah bebas bermain tanpa harus memikirkan tugas sekolah.

Remaja yang sudah dimabuk kasmaran belum pada saatnya pun menjadi faktor penyebab anak melakukan pernikahan dini.

Remaja terlalu berlebihan dalam bergaul hingga menimbulkan kecelakan fatal yang merugikan diri mereka masing-masing.

Keterlibatan orang tua dalam penyimpangan pemikiran anak menjadi cara utama untuk mencegah anak salah dalam memilih keputusan. Karena keluarga dan anggota masyarakatlah yang lebih dekat dengan anak sehingga dapat menciptakan suatu lingkungan yang baik.

Orang tua berkewajiban membimbing anak di rumah serta memantau perkembangan dan pergaulan anak. Selanjutnya, memberdayakan anak dengan informasi, keterampilan, dan jaringan mendukung lainnya.

Hal ini bertujuan agar anak memiliki pengetahuan yang baik mengenai diri mereka dan agar mereka mampu mengatasi kesulitan sosial dan ekonomi baik secara jangka panjang maupun jangka pendek.

Lalu bagaimana dengan mereka yang sudah terlanjur putus sekolah? Jangan putus asa dan mudah menyerah. Tidak pernah ada kata terlambat dalam menuntut ilmu. Selagi masih ada kemauan dan usaha yakinlah bahwa kalian akan berhasil menggapai hal yang selama ini kalian impikan dan cita-citakan.

Anak yang sudah terlanjur putus sekolah jangan langsung berpikiran untuk menikah.

Masih banyak hal yang bisa dilakukan dan jangan terburu-buru dalam mengambil keputusan. Bukan berarti kalian yang putus sekolah tidak akan merasakan kesuksesan. Banyak sekali pengusaha yang meraih keberhasilan hanya dengan tamatan SD dan SMP.

Sebagai contoh adalah Basko, merupakan seorang konglomerat asal Pariaman, Sumatera Barat. Masa kecilnya sangat sulit dan setiap hari dia hanya sanggup makan satu kali.

Basko sendiri hanya bersekolah sampai kelas 5 SD saja. Ia memutuskan berhenti sekolah dan pergi merantau ke Riau.

Usaha pertama yang dijalani Basko adalah berjualan pete. Usaha itu dimulai tanpa modal, melainkan hanya memanfaatkan kepercayaan orang lain.

Selain berjualan, Basko juga pernah menjajal profesi seperti menjadi kenek angkot, sopir, dan tukang jahit. Ia pernah menggeluti usaha jual beli motor dan mobil bekas.

Di mana ia membeli motor dan mobil bekas dengan harga yang terjangkau, kemudian ia modifikasi menjadi lebih bagus dan baik lagi dan ia jual dengan harga yang lebih tinggi.

Untung yang ia dapatkan dari usaha tersebut sangat besar, hingga ia berhasil membuka dealer mobil dan memiliki puluhan mobil mewah di rumahnya.

Artinya bukan hal mustahil bagi mereka yang sudah putus sekolah untuk berbisnis seperti halnya yang sudah dilakukan Basko.

Pemerintah juga bisa mendirikan sebuah yayasan pendidikan di luar sekolah bagi anak-anak yang putus sekolah. Mengajak anak-anak putus sekolah dan meningkat minat baca bagi mereka.

Karena dengan membaca kita bisa membuka jendela dunia.

Indonesia bisa bercontoh dengan negara Finlandia, di mana sistem pendidikan di negara tersebut sangatlah unik. Mulai dari gratisnya biaya pendidikan, tidak adanya seragam dan UN, hingga suasana belajar yang tergolong santai dan informal.

Meskipun demikian, Finlandia justru menjadi negara terbaik di dunia dalam hal sistem pendidikan. Kuncinya, mereka hanya memilih orang-orang terbaik untuk menjadi guru dan menerapkan kecintaan membaca kepada warganya sejak dini.

Nah, bukan hal yang mustahil bagi pemerintah Indonesia untuk mendirikan yayasan gratis bagi mereka yang sudah terlanjur putus sekolah. Sehingga jumlah angka buta huruf, anak putus sekolah, dan pernikahan dini bisa teratasi dan berkurang di Indonesia.

Anak yang putus sekolah juga bisa berlajar secara online. Seperti yang kita ketahui, pada era globalisasi sekarang ini sudah banyak sekali dijumpai banyak aplikasi bimbel berbasis online.

Bimbel online ini sendiri merupakan cara yang cukup efektif bagi mereka yang menginginkan suasana belajar kapanpun dan dimanapun.

Bahkan aplikasi bimbil online ini bisa diakses oleh siapapun, baik yang masih bersekolah maupun yang sudah tidak bersekolah lagi.

Makanya, tidak ada lagi kata terlambat dalam menuntut ilmu.

Oleh karenanya, jangan sampai salah dalam meilih pergaulan dan mengambil keputusan. Jika tidak mampu mengubah diri dalam lingkungan yang tidak baik, maka jadilah seseorang yang mampu mengubah lingkungan kurang baik tersebut menjadi lingkungan yang lebih baik.

Jangan mau menjadi orang yang terpengaruh, tapi jadilah orang yang berpegaruh bagi orang lain.

**Siswi Sosioliterasi SMAN 1 Manggar