Meminimalisir Sampah Plastik dengan Kreativitas Sekolah dan Lingkungan Kerja

by -
Meminimalisir Sampah Plastik dengan Kreativitas Sekolah dan Lingkungan Kerja

Oleh: Laraanggini**

JABEJABE.co – Plastik merupakan salah satu jenis bahan yang saat ini paling banyak digunakan dalam berbagai kemasan. Bahkan hampir setiap bahan makanan pembungkusnya menggunakan plastik. Mulai dari bahan-bahan sembako hingga jajanan anak di sekolah. Namun, apakah penggunaan plastik ini sebenarnya baik untuk kita? Atau malah menimbulkan masalah?

Dilansir dari indonesia.go.id, pada tahun 2019, Indonesia merupakan salah satu negara penyumbang plastik tersebar di dunia. Dalam hal ini adalah penyumbang masalah plastik, yaitu berupa sampah plastik. Data Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton per tahun. Sebanyak 3,2 juta ton di antaranya merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut.

Untuk daerah Beltim sendiri, khususnya di Kecamatan Manggar, diperkirakan sampah plastik sebanyak 1,2 ton. Baik itu sampah yang berasal dari pasar, limbah rumah tangga, hingga sampah yang bersumber dari kantor-kantor instansi pemerintahan.

Bahkan, Sekolah merupakan salah satu penyumbang sampah plastik. Mengapa demikian? Karena hampir 50% waktu siswa setiap harinya berada di sekolah. Dengan banyaknya waktu di sekolah, hal ini memungkinkan para siswa maupun guru berbelanja di kantin atau koperasi sekolah.

Terkadang pihak kantin atau koperasi tidak menyediakan peralatan makan, otomatis pembeli menggunakan plastik agar lebih praktis. Bayangkan, semisal di suatu sekolah berjumlah kurang lebih 600 siswa, berapa banyak plastik yang digunakan perhari? Apakah selamanya akan menggunakan plastik?

Kebanyakan orang mungkin masa bodoh dengan banyaknya sampah plastik yang beredar. Hari-hari tetap membeli minuman es menggunakan plastik dan makan gorengan menggunakan bungkus plastik, 99% kemasan makan di setiap sekolah menggunakan plastik.

Sudah ada beberapa sekolah menerapkan sistem satu siswa mambawa peralatan makan sendiri upaya mengurangi plastik beredar di sekolah. Dengan membuat kebijakan seperti itu bisa membantu mengurangi sampah plastik meskipun dengan jumlah yang sedikit.

Akan tetapi, apakah hanya dengan kebijakan seperti itu sudah cukup? Sebanyak apapun kebijakan yang dibuat tidak akan berjalan apabila tidak ada kesadaran dari diri individu untuk mengurangi sampah plastik. Memberi sanksi untuk siswa yang makan menggunakan bungkus plastik membuat para siswa menjadi bertanggung jawab.

Contoh, salah satu Sekolah Menengah Pertama di Kecamantan Manggar menerapkan peraturan, apabila siswa makan atau minum menggunakan plastik maka akan diberi sanksi berupa siraman makanan/minuman yang dibeli. Peraturan ini cukup “sadis” tetapi membuat siswa merasa takut apabila melakukan pelanggaran. Peraturan dan sanksi seperti ini bisa ditiru di sekolah-sekolah lain.

Menyangkut banyaknya sampah plastik di sekolah biaya operasional penggangkut sampah akan bertambah jika sampah di suatu sekolah melebihi batas maksimal, bahkan mobil sampah datang seminggu sampai berapa kali datang ke sekolah.

Upaya lain untuk mengurangi sampah plastik di sekolah adalah dengan mengadakan jam kreatif daur ulang sampah. Yang mana setiap siswa bisa membuat kerajinan di saat jam kosong atau di waktu khusus yang sudah ditentukan oleh pihak sekolah. Selain itu, untuk memanfaatkan banyaknya sampah plastik beredar, pihak sekolah juga bisa bekerja sama dengan pemerintah setempat untuk menggelar pameran kreasi dari sampah plastik. Dengan begitu, bukan hanya satu sekolah yang memanfaatkan sampah daur ulang, tetapi akan banyak sekolah yang mengikuti pameran tersebut.

Ada dua keuntungan yang akan diperoleh saat mengadakan pameran. Pertama untuk lingkusan sampah plastik yang beredar akan berkurang. Kedua, sekolah bisa menghasilkan uang dari hasil pameran.

Banyak alternatif lain yang bisa diterapkan di sekolah untuk mengurangi sampah plastik misalnya setiap kelas menyediakan galon minum untuk anggota kelas. Jadi, di saat jam istirahat atau air yang dibawa siswa habis, tidak perlu membeli air dalam kemasan plastik. Cukup dengan mengisi air dari galon yang disediakan.

Cara lainnya menganjurkan siwa membawa peralatan makan masing-masing seperti gelas, sendok dan piring. Cara yang seperti ini bisa diterapkan sejak dini agar menjadi kebiasaan sampai sekolah menengah bahkan hingga ke lingkungan pekerjaan.

Sampah plastik sangat berbahaya untuk bumi dan manusia. Banyaknya kandungan bahan kimia yang ada di dalam kemasan plastik bisa mempengaruhi kesehatan manusia walaupun sudah ada tulisan aman untuk digunakan berkali-kali. Kita bisa mengambil contoh, kebanyakan masyarakat yang hidup era sekarang lebih senang membuat atau membeli lontong menggunakan bungkusan plastik, mereka mengatakan lebih praktis membungkus menggunakan plastik dibandingkan menggunakan daun simpor.

Semua orang menginginkan kepraktisan saat beraktivitas atau menggunakan sesuatu tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi. Begitu juga dengan anak sekolahan yang malas membawa peralatan makan dari rumah dengan alasan berat, repot dan sebagainya. Masyarakat sekolah tidak memikirkan apakah plastik yang mereka gunakan itu bersih dari debu atau tidak, gelas plastik yang digunakan itu bersih atau kotor.

Menerapkan kebiaasaan bebas plastik harus di mulai sejak dini. Bukan hanya kalangan murid yang harus mengurangi masyarakat, tetapi guru juga harus mencontohkan bagaimana semestinya yang harus dilakukan untuk mengurangi sampah plastik.

Pihak kantin sekolah juga harus mempersipkan gelas untuk para siswa membeli es dan piring untuk mengganti plastik atau kertas saat makan nasi.

Selain itu, sekolah juga bisa membuat slogan mengenai sampah plastik yang jumlahnya melebihi batas, hal yang seperti ini juga bisa menginspirasi siswa, karena generasi melenial cepat baper.

Menerapkan kebiasaan tidak menggunakan plastik harus dimulai sejak dini atau dari sekolah, karena genarisi penerus bangsa berasal dari sekolah. Apabila dari kecil sudah menanamkan di dalam diri hidup bebas plastik, insyaallah saat turun ke masyarakat, kebiasaan itu akan diikuti banyak orang sehingga sampah plastik yang beredar semakin sedikit. Bukan hanya untuk para pelajar, tetapi para guru dan pegawai pemerintahan bahkan semua orang juga harus menerapkan kehidupan bebas plastik. Katakan tidak pada penggunaan plastik.

**Siswa SMA Negeri 1 Manggar Kelas Xll 8