Mem-bully Tidak Keren

by -
Niken Danial, Mem-bully Tidak Keren

Oleh: Niken Danial**

SEIRING berkembangnya zaman, nampaknya tidak berbanding lurus dengan pola moral. Sebaliknya, sebagian orang justru mengalami penurunan pada mental dan perilaku . Tidak semua, namun beberapa bagian kecil dari pribadi kekinian, tidak bisa menghargai orang lain.

Salah satunya adalah perilaku mengintimidasi orang lain, atau biasa yang disebut perundungan (bullying). Tindakan mengintimidasi ini bisa berupa kekerasaan secara fisik, kekerasaan secara verbal, dan cyber bullying atau yang biasa disebut Intimidasi melalui sosial media.

Di kota-kota besar banyak terjadi bullying, dan yang kebanyakan korban bully ini memiliki trauma. Kebanyakan pelaku dan korban merupakan anak sekolah dan para remaja.

Setiap tahun pun masih saja ada kasus perundungan yang dilakukan oleh anak sekolah. Hal tersebut mereka lakukan dengan cara merekamnya melalui telpon genggam, kemudian disebar melalui sosial media.

Aksi mereka tersebut sangatlah tidak pantas untuk anak seusia mereka, dan tentu saja bagi semua usia.

Melakukan perundungan sesukanya secara fisik bahkan ada yang sampai mengalami trauma berat dan takut untuk bersekolah.

Faktor yang menyebabkan terjadinya bullying di mata pelaku adalah kurangnya rasa kasih sayang orang tua dan kurangnya pendidikan moral yang diberikan oleh orang tua kepada pelaku.

Pola pergaulan yang bebas, sehingga pelaku merasa bisa melakukan apa pun yang dia inginkan.

Yang menjadi sasaran bullying biasanya mereka yang memiliki kekurangan.

Misalnya si pelaku ini memiliki keluarga yang ekonominya cukup berada alias kaya kemudian mem-bully korban seorang anak miskin. Pelaku merasa tidak selevel dan tidak ingin berada dalam satu kelompok bersama korban.

Selain itu, korban yang memiliki fisik tidak normal atau disabilitas juga biasa menjadi sasaran bullying.

Bahkan, siswa sekolah dasar saja melakukan perundungan kepada temannya. Biasanya pelaku merupakan kakak kelas yang dulu pernah ditindas oleh kakak kelasnya dulu, dan mempunyai dendam.

Dendam tersebut kemudian ia tumpahkan dengan cara menindas adik kelasnya yang tidak tahu apa-apa.

Tindakan bisa berupa intimidasi pelaku berupa kekerasaan fisik, verbal, atau pun pelecehan melalui sosial media.

Tindakan mengintimidasi berupa kekerasaan fisik adalah tindakan di mana pelaku melakukan kekerasaan pada tubuh atau fisik korban secara langsung seperti menendang, memukul, menjambak rambut korban, menginjak tangan korban, dan kekerasaan yang dilakukan pada tubuh.

Dampak bagi korban ialah korban memiliki luka lebam di sebagian tubuh korban, pembengkakan pada area tubuh korban seperti jari karena diinjak pelaku.

Contoh tindakan mengintimidasi orang lain melalui kekerasaan fisik ialah seperti berita yang baru-baru ini terjadi.

Sebagaimana dilansir dari jatim.suara.com, salah satu siswa SMP di Malang di-bully oleh tujuh temannya hingga nyaris diamputasi. Dikatakan di sana bahwa siswa tersebut mengalami luka memar di sekujur badannya.

Bahkan, dokter sempat menyarankan agar jari tengah tangan kanannya diamputasi karena mengalami pembengkakan.

Diketahui, pelakunya pun tidak memiliki catatan kenakalan yang sangat keras. Malah pelaku-pelakunya tersebut mengikuti organisasi Badan Dakwah Islam dan pramuka. Sedangkan korban, memang anak yang pendiam dan pintar.

Adapun tindakan mengintimidasi berupa kekerasan verbal adalah tindakan yang tidak meninggalkan bekas luka tetapi meninggalkan masalah trauma batin yang mendalam. Tindakan ini seperti menghina, menuduh, merendahkan dan lain-lainnya.

Tidakan atau perbuatan bullying tidak membuat seseorang menjadi cantik, ganteng, alias tidak sekeren yang dibayangkan.

Tindakan ini sering sekali terjadi dan meninggalkan trauma juga bagi korban. Tindakan kekerasan berupa verbal ini lebih berbahaya dari pada kekerasan fisik. Mengapa? Karena kekerasan verbal menyebabkan trauma psikologis yang sangat serius dan sangat membatin sekali walaupun kekerasan fisik yang meninggalkan bekas luka.

Kekerasan verbal ini butuh waktu lama untuk menyembuhkan nya. Contoh tindakan yang berupa kekerasan verbal adalah masalah rumah tangga, tetapi anak-anak sering kali dijadikan sasaran oleh orang tuanya melakukan kekerasan verbal ini.

Ada lagi tindakan bullying melalui media sosial atau yang dikenal dengan cyber bullying.

Cyber bullying adalah tindakan kekerasan serupa dengan kekerasan verbal tetapi medianya melalui media sosial.

Tindakan ini dilakukan melalui komentar-komentar di media sosial. Dampak bagi korban pun sangat berbahaya, korban bisa mengalami depresi berat bahkan terjadinya bunuh diri pun juga bisa.

Contoh kasusnya ialah seperti dilansir dari m.tribunnews.com, Sulli korban online bullying mengalami depresi berat hingga berujung bunuh diri.

Wanita yang berprofesi sebagai artis di negeri ginseng tersebut bunuh diri karena mengalami depresi berat akibat komentar-komentar yang menghina dan merendahkannya di media sosial instagram.

Pada juli 2014, Sulli keluar dari girl group yang membesarkan namanya dikarena mengalami gangguan kesehatan mental yang dia derita pada saat itu. Komentar-komentar netizen yang tajam dan merendahkannya itulah yang membuat sulli tidak kuat menjalani hidup lagi.

Solusi yang harus dilakukan untuk mencegah terjadinya bullying pada anak adalah harus di tanamkan pendidikan agama kepada anak, karena pendidikan agama merupakan pedoman bagi kehidupan kita.

Berikan kasih sayang dan bimbingan kepada anak agar tetap pada jalan yang lurus dan terhindar dari perilaku menyimpang.

Percaya diri, berani untuk melawan, konsultasi dengan orang tua dan laporkan kepada pihak yang berwenang.

**Siswi Sosioliterasi SMA Negeri 1 Manggar, Belitung Timur