Masih Adakah Pancasila di Hatimu?

by -
Masih Adakah Pancasila di Hatimu (1)

Membumikan Pancasila di Sekolah pada Fase Kenormalan Baru

Oleh: Sabarudin, M.Pd*

Pancasila Milik Kita

Sejarah panjang bangsa mencatat bahwa, nilai-nilai yang terkandung dalam setiap sila Pancasila sebelum dirumuskan dan disahkan menjadi dasar negara Indo¬nesia secara objektif historis telah dimiliki oleh bangsa Indonesia sendiri. Artinya, nilai-nilai dari sila-sila Pancasila itu telah mele¬kat dan berasal dan bangsa Indonesia itu sendiri.

Kita sepakat bahwa Pancasila adalah milik kita. Tetapi kita baru merasa memilikinya, belum memahami, menghayati dan apalagi mengamalkanya. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa saat ini nilai-nilai luhur Pancasila mulai terlupakan dan jarang diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Rakyat kecewa karena nilai-nilai luhur Pancasila lebih banyak dijadikan retorika politik. Sedangkan dalam perbuatan, nilai-nilai itu mulai ditinggalkan dan dilupakan sehingga yang terjadi ialah pengkhianatan terhadap nilai-nilai Pancasila dalam praktik. Sehingga, Pancasilahanya sekedar “nama” tapi kehilangan“ruh” di dalamnya.

Semangat toleransi, religius, gotong royong, kekeluargaan, kepedulian, ramah-tamah, dan kerjasama serta persatuan yang merupakan nilai-nilai mulia dan luhur mulai terlupakan di masyarakat. Sifat individualistik, acuh tak acuh, konsumtif, intoleran dan lainnya sekarang menjadi perilaku yang berkembang di masyarakat. Hal ini terjadi karena Pancasila di masa lalu hanya dijadikan alat bagi penguasa untuk melanggengkan kekuasaannya. Selain itu, hal lain karena pengaruh utama dari globalisasi dan teknologi informasi yang bergerak dengan cepat yang tidak disertai dengan kesiapan secara mentalitas dan kemampuan memanfaatkannya secara positif dan bertanggungjawab.

Situasi dan lingkungan kehidupan berbangsa dan bernegara terus berubah, baik di tingkat domestik, regional maupun global, dan akan terus berubah pada masa yang akan datang. Dewasa ini, informasi menjadi kekuatan utama yang berpengaruh luar biasa dalam berbagai aspek kehidupan. Tapi juga sangat rentan untuk dimanipulasi untuk kepentingan kelompok tertentu serta alat penyebaran berita hoaks yang sangat efektif. Teknologi informasi, dalam hal ini media internet, seperti dua sisi mata uang dengan segala dampaknya yang mengakibatnya terjadinya pergeseran nilai-nilai dalam sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pancasila sebagai salah satu pilar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara memiliki konsep, prinsip dan nilai yang merupakan kristalisasi dari belief system yang diyakini oleh masyakarat Indonesia. Diterimanya Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi nasional serta pandangan hidup bangsa membawa konsekuensi logis bahwa nilai-nilai Pancasila dijadikan landasan pokok, landasan fundamental bagi penyelenggaraan negara Indonesia. Pancasila berisi lima sila yang pada hakikatnya berisi lima nilai dasar yang fundamental.

Nilai-nilai dasar dari Pancasila tersebut adalah nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, nilai Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, nilai Persatuan Indonesia, nilai Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, dan nilai Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Membumikan Pancasila di Sekolah dalam Fase Kenormalan Baru

Pandemi Covid-19 secara tidak langsung membuat suatu tatanan baru yang dulunya tidak pernah kita lakukan. Covid-19 juga mengajarkan kepada kita semua bahwa kita harus selalu siap dengan yang namanya “perubahan”. Perubahan yang terasa langsung di dunia pendidikan adalah pembelajaran jarak jauh di rumah dengan sistem daring. Ketidaksiapan dan keterkejutan pasti terjadi, tapi kita tidak boleh berlama diri untuk itu, perlu perubahan dan komitmen kuat untuk berubah dan terus berubah dengan senantiasa belajar, belajar dan belajar.

Kenormalan baru adalah kebijakan membuka kembali aktivitas ekonomi, sosial dan kegiatan publik secara terbatas dengan menggunakan standar kesehatan yang sebelumnya tidak ada sebelum pandemi. Untuk memastikan kenormalan baru bisa berjalan baik, maka pemerintah harus melakukan upaya yang sistematis, terkordinasi dan konsisten dalam melakukan pengawasan publik dan law enforcement. Prakteknya, pemerintah pusat dan daerah harus bersinergi dengan baik untuk keberlangsungan dan suksesnya pelaksanaan fase kenormalan baru ini. Masyarakat harus diedukasi untuk bisa berpartisiapasi aktif dan menjadi elemen penting untuk mendukung pelaksanaan kenormalan baru, dan tidak menjadi provokator yang dapat menimbulkan kecemasan publik yang membahayakan kelangsungan kehidupan bangsa dan negara.

Sekolah sebagai garda terdepan untuk mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang “Pancasilais” wajib memfasilitasi kegiatan proses belajar mengajar yang kondusif, kontruktif serta kreatif dengan menjadikan kelas sebagai “laboratorium Pancasila” dalam membentuk dan melahirkan peserta didik yang memahami, mengerti dan mampu mengaplikasikan nilai-nilai luhur Pancasila untuk dalam praktek nyata di masyarakat.

Kegiatan pembelajaran di kelas dalam fase kenormalan baru hendaknya dirancang untuk mempersiapkan peserta didik sebagai generasi muda dan insan penerus masa depan bangsa yang dapat memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara secara bertanggung jawab baik dalam kata maupun tindakan. Tujuan utama dari pembelajaran di kelas arahkan untuk: a) menambah wawasan dan keterampilan peserta didik untuk mempelajari permasalahan seputar pelaksanaan Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara yang menimbulkan pro-kontra di kalangan publik secara lebih objektif; b) memasyarakatkan dan membudayakan pentingnya penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara yang didasari dan dilandasi oleh semangat Pancasila di kalangan generasi muda; c) menambah wawasan kebangsaan dan kecintaan akan bangsa dan negara dalam diri peserta didik yang dapat memperkukuh persatuan bangsa; d) membangun dan menumbuh keinginan untuk mempraktekkan nilai positif dari Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Kehadiran teknologi dalam “kenormalan baru” digunakan untuk mendukung dan menumbuhkan kecintaan terhadap Pancasila. Seiring berjalannya waktu, kini para pendidik dan peserta didik telah menemukan formula yang tepat dalam melakukan pembelajaran daring.

Pemanfaatan teknologi informasi digunakan untuk mengakses berbagai informasi dan pengetahuan digital untuk mendukung pendidikan dan meningkatkan kualitas pembelajaran siswa pembelajaran dengan menggunakan aplikasi Zoom, Google Meet, Google Classroom, Skype, Edmodo, WhatsApp Group dan aplikasi lainnya. Pembelajaran yang difasilitasi teknologi ini dapat diterima sebagai sebuah “kenormalan baru”.

Teknologi informasi dapat digunakan guru sebagai alat menyajikan materi lebih menarik, inovatif menciptakan metode, model, media, serta evaluasi pembelajaran yang lebih bervariasi sesuai dengan perkembangan zaman. Selain itu, dalam hal yang lain dapat pula melatih kemandirian dan sarana efektif untuk pengembangan diri peserta didik.

Guru memegang peranan penting dalam digitalisasi sekolah agar dapat mempersiapkan sumber daya manusia yang unggul dengan kompetensi global. Selajutnya SDM tersebut diharapkan juga mampu beradaptasi serta memiliki keterampilan Abad 21 untuk mendukung revolusi industri 4.0 dengan tidak melupakan Pancasila sebagai jati diri dan untuk memperkokohkarakter bangsa Indonesia.

Kegiatan belajar mengajar di sekolah harus secara komprehensif memberikan pengalaman kepada siswa untuk menjadi warga negara yang memiliki kompetensi yang mampu mengambil keputusan secara cerdas dan bernalar. Untuk itu, diperlukan pengetahuan, kepercayaan berupa kebajikan warganegara, dan keterampilan partisipasi sebagai warganegara. Saling keterkaitan akan menghasilkan tumbuhnya individu warganegara yang “competent” atau berkemampuan, “confident” berkeyakinan diri, dan“commitment” atau kesediaan untuk berbakti dan mengabdikan diri.

Dalam mengembangkan dan membumikan Pancasila bagi peserta didik, stakeholders di sekolah harus berpikir secara integratif. Yaitu, dalam wujud kesatuan yang utuh dan saling keterkaitan yang kuat antara hubungan pengetahuan intraseptif (agama, nilai-nilai) dengan pengetahuan ekstraseptif (ilmu), kebudayaan Indonesia, tujuan pendidikan nasional, Pancasila, UUD1945, filsasat pendidikan, psikologi pendidikan, pengembangan kurikulum disiplin ilmu-ilmu sosial dan humaniora.

Hal ini sejalan dengan tujuan mulia yang dari mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PKn) yang menitikberatkan pada kemampuan dan ketrampilan berpikir aktif warga negara. Terutama generasi muda, dalam menginternalisasikan nilai-nilai warga negara yang baik (good citizen) dalam suasana demokratis dalam berbagai masalah kemasyarakatan (civic affairs). Mata pelajaran Pkn didesain untuk membelajarkan siswa agar memiliki kepekaan sosial dan memahami permasalahan yang terjadi dilingkungan secara cerdas. Dari proses itu, siswa dapat juga diharapkan memiliki kecakapan atau kecerdasan rasional, emosional, sosial, dan spiritual yang tinggi dalam pemecahan permasalahan sosial dalam masyarakat.

Pancasila yang selama ini hanya sebagai pengetahuan tentang sila-sila dan butir-butir Pancasila secara teroritis, harus direvitalisasi dan diaktualisasikan sebagai suatu ikhtiar bersama untuk menghayati dan mengamalkannya dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Penghayatan nilai-nilai Pancasila merupakan proses pendalaman, penjiwaan dalam batin dan jiwa kita. Internalisasi nilai-nilai Pancasila merupakan penghayatan atau proses pemahaman terhadap ajaran, doktrin, atau nilai sehingga menyadari keyakinan akan kebenaran doktrin atau nilai yang diwujudkan dalam sikap dan perilaku.

Penghayatan dan internalisasi akan lebih bermakna dengan tindakan pengamalan yang merupakan proses, cara, perbuatan menerapan nilai-nilai luhur Pancasila dalam tindakan nyata sehari-hari. Di mana, hal tersebut harus dimulai dari diri sendiri, dari hal kecil dan dari sekarang untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat di bidang politik, berdiri di atas kaki sendiri pada bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam bidang kebudayaan. Semoga Pancasila tetap selalu ada di hati seluruh rakyat indonesia.

*Kepala SMA Negeri 1 Manggar dan Koordinator IKA PKn UPI Bandung Prov. Bangka Belitung