Legenda Nobon

by -
Catcil Subrata Kampit - Legenda Nobon

Oleh: Subrata Kampit**

PERTENGAHAN bulan Februari, Sabtu siang (15/2/2020), Kik Dudung, Legendaris sosmed itu–yang diam-diam seringkali menginvasi Belitong, tiba di Tanjungpandan.

Indra Gunawan yang menjemputnya di bandara. Bang Indra adalah Ketua PSI (Partai Serikat Indonesia) Belitung, Kik Dudung Sekjennya, ini duet maut. Saling jemput satu sama lain. keduanya juga pentolan Forum Komunikasi Masyarakat Belitung (FKMB).

Rencananya akan ke Manggar, maka kami janjian ketemu di rumah Bang Indra di Jalan Aik Raya, Tanjungpandan. Beliau memiliki usaha percetakan, Amora.

Legenda Nobon
Arpan Delahim alian Nobon. Foto: Istimewa.

Sudah lama melihat ini, tulisan Percetakan Amora yang terpancang di tepi jalan, dan saat itu saya pun mampir di situ. Saya menunggu di teras dan tak menunggu lama. Bang Indra dan Kik Dudung pun datang.

Di tengah rumah, Seorang kakek (77), mengenakan kain sarung dan kaos dalam putih tengah menonton televisi. Ia tengah berbaring di kursi panjang, tayangan berita virus corona begitu menyita perhatiannya.

Empat paragraf di atas adalah awal kronologi mengapa saya bertemu dengan Pak Arpan Delahim, seorang legendaris dunia persepakbolaan di Pulau Belitong. Bang Indra adalah anak bungsu Pak Arpan Delahim yang dikenal akrab semua usia oleh masyarakat Pulau Belitong yang menyebutnya dengan sapaan akrab, Nobon.

Dan demi menghormati sang legenda, karenanya saya meneruskan sapaan akrab pada tulisan ini dengan sebutan Nobon. Nobon adalah branded bagi sepak bola Belitong.

Nobon sangat familiar di kalangan masyarakat. Pria ramah kelahiran 1942 ini dikenal cepat beradaptasi dengan berbagai kalangan. Maklumlah beliau pelatih sepak bola. Komunikasi tentu menjadi hal utama, dan adaptasi juga salah satu kuncinya.

Mantan pelatih Galanita ini tetap prima di usia senjanya.

Dari sorot mata yang tegas, Nobon menceritakan perjalanan karirnya selama melatih dan menjadi pemain sepak bola. Raut kebanggaan terpancar di wajah keriput itu, bahwa dirinya pernah melahirkan pemain sepak bola Nasional Indonesia yang hebat.

Di masa keemasannya Nobon pernah membawa sepakbola putri Belitung berbicara di pentas nasional.

Nobon orang pertama yang menjadikan Putri Belitung disegani dalam kompetisi Galanita. Torehan prestasinya membawa Tim Putri Persibel menjadi juara 2 (dua) tingkat nasional pada tahun 2003. Kemudian juara 4 (empat) pada tahun 2004, dan masuk 6 (enam) besar pada tahun 2008.

Kejurnas Sepakbola Wanita U-19 ini bagaimana pun termasuk prestasi monumental di masanya.

Bahkan saat ini, pemain PS Putri Belitung memperkuat Tim Nasional Indonesia dalam Asian Games yang dilaksanakan di Korea, China dan Malaysia.

Siapa sangka, ayah dari lima anak ini masih melatih sepak bola. Ia sangat sehat, olahraga yang membuatnya seperti itu. Berulangkali menggunakan scoopy-nya, sendiri, untuk melatih di Belitung Timur. Sekarang pun masih.

Beliau juga tercatat pernah memberikan pelatihan di berbagai klub di Pulau Belitung. Diantaranya Payak, Sukadamai, Aik Asam. Batu Mana, Kembiri, Aik Gede, serta beberapa daerah lainnya.

Sampai saat ini beliau masih memiliki keinginan untuk memajukan sepak bola, khususnya Galanita. Bahkan dirinya sedang berupaya mencari sponsorship untuk mendukung niatnya tersebut.

“Kalau atlet (pesepakbola) wanita tidak plin-plan, kalau a maka a, dan b tetap b. Dalam politik pun seperti itu,” ujarnya.

Saya sendiri salut dengan dedikasi Nobon. Sejak tahun 1984, atau ketika istrinya meninggal dunia, Nobon menjadi single parent (orangtua tunggal) bagi kelima anaknya. Namun itu tidak menyurutkannya bagaimana membagi waktu dan tetap menghidupkan dunia persepakbolaan di Pulau Belitung, hingga ke kancah nasional.

Tak ada yang meragukan sosok Nobon, sehingga perlu mengumbar banyaknya prestasi yang sudah ia cetak satu per satu. Waktu sudah berbicara banyak tentangnya.

Waktu tak akan berbohong. Seperti wanita, kata Nobon. Hidup Galanita!

** Pembelajar Memberita di Belitung