Kucuran Dana Penanganan COVID-19 Belum Jelas, Simak Saran Beliadi Untuk Eksekutif dan Legislatif di Beltim

by -
Kucuran Dana Penanganan COVID-19 di Beltim Belum Jelas, Simak Saran Beliadi Untuk Eksekutif dan Legislatif di Beltim
Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Babel, Beliadi, S.IP.

GANTUNG, JABEJABE.co – Pemberitaan yang memuat penjelasan dokter di RSUD Beltim seputar APD (Alat Pelindung Diri) dalam momentum press release, Sabtu (25/4/2020), kepada media seputar informasi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19), memancing anggota DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Beliadi, S.IP, untuk kembali memberikan pemikiranya bagi Kabupaten Belitung Timur (Beltim) di mana ia tinggal dan hidup bersama keluarga serta konstituennya.

Sebagaimana pemberitaan di media ini sebelumnya, Ketua Satgas COVID-19 RSUD Beltim, dr. Hotma Banjarnahor, SpB, menyebutkan, APD yang dimiliki RSUD Beltim hanya bertahan 14 hari kalau ada pasien yang positif corona. Dan, hanya bisa bertahan satu bulan untuk pengambilan spesimen swab.

Polemik minimnya APD RSUD Beltim ini semakin menguat tatkala ada beberapa politisi yang mempertanyakan di mana pergeseran dana/refocussing 30,4 Milyar yang telah dilakukan Pemkab Belitung Timur.

Oleh karenanya, beberapa hal di atas menjadi pemicu rasa geram Beliadi. Sosok yang juga menjabat sebagai Ketua Fraksi Gerindra DPRD Provinsi Kepulauan Babel ini pun bertanya-tanya, kemana dana 30,4 Milyar tersebut. Apakah peruntukannya sudah sesuai aturan? Kapan dana tersebut akan dialokasikan? Apakah sudah dilaporkan ke Pemerintah Pusat? serta beberapa keraguan lainnya.

“Di mana (anggaran 30,4 Milyar) digunakan? Untuk apa? APD kurang? Belum lagi masyarakat terdampak COVID-19, belum terbantu kebutuhan pokoknya, masih susah,” ujar Pria Kelahiran Beltim yang juga Ketua DPC Gerindra Kabupaten Beltim tersebut.

Tak pelak, hal ini membuat Beliadi prihatin. “Dulu saya bilang, Pemda Beltim lambat saat pemda lain sudah mengeser dana untuk penanganan COVID-19. Beltim masih bercanda dangan langkah yang seharusnya cepat, lalu Bupati Beltim tersinggung, sekda bilang saya orang baru di politik, tidak paham aturan. Dia tidak tahu, saya sudah lama berurusan dengan pemerintahan dan sudah terjun ke dunia politik sejak dia baru jadi PNS,” ungkap Beliadi.

Beliadi pun memberi saran untuk Eksekutif dan Legislatif Beltim. Kepada eksekutif, Politikus Gerindra ini menyarankan, jika dana tersebut memang ada, lalu tidak bisa berbuat, sementara aturan dari Pemerintah Pusat cukup jelas, berarti eksekutif ini memang tidak bisa apa-apa.

“Saya sarankan tahu dirilah, lambaikan tangan ke kamera atau lempar handuk putih,” kata Beliadi.

Kemudian untuk legislatif, lanjutnya, Beliadi menyarankan, agar segera memanggil Bupati, Wakil Bupati dan Sekda Beltim serta beberapa pentolan Tim Anggaran Pemerintah Daerah

“Tanya ke mereka (Bupati, Wakil Bupati, dan Sekda Beltim) mengenai penggunaan dana dan langkah yang diambil. Kalau mereka tidak bisa kerja, ambil langkah konstitusi, karena ini hal yang sangat serius menyangkut nyawa masyarakat ramai, menyangkut pertanggungjawaban transfer pusat, lakukan Interplasi atau angketkan,” ujarnya.

Lebih lanjut Beliadi menyarankan agar legislatif menjelaskan kepada Pemda Beltim bagaimana contoh Pemprov Babel sampai menyewa pesawat TNI untuk mendatangkan alat tes swab-PCR dan serta APD.

“Ini saatnya tunjukan dedikasi kalian (Legislatif Beltim) untuk masyarakat. Kecuali kalau kalian memang tidak punya kemampuan untuk bekerja. Karena yang benar itu jangankan APD untuk para medis di garda terdepan, untuk masyarakat pun pemda harus tanggung dan harus free (gratis) didapatkan masyarakat, seperti halnya kebutuhan masker. Begitu juga dengan kebutuhan pokok,” kata Beliadi.

Beliadi bahkan berani menebak, apa-apa jawaban yang mungkin muncul. “Saya tahu jawaban yang akan muncul; Kami sedang belajar aturan dan menunggu data dari sana sini, serta mencari informasi tempat membeli barangnya. Kalau situasi begini masih mau belajar, masih mau menunggu dan mencari, sudah, berenti sajalah. Kate Urang Belitong, ubat sampai nyawe mutus nok kan terjadi mun mudel kini ini (kata orang Belitong, obat sampai, nyawa pun sudah tidak ada yang akan terjadi kalau seperti ini). Masalah serius harus ditangani orang yang cakap dalam bekerja. Jika kemampuan di bawah standar, akan seperti inilah jadinya,” pungkas Beliadi.

Reporter: rel/jbo2
Editor: sue