Klitih Yogyakarta

oleh -
Klitih Yogyakarta

Oleh: Salsabila Tania*

KLITIH sebenarnya bermakna sebagai kegiatan di luar rumah yang dilakukan pada malam hari untuk menghilangkan kepenatan.

Namun kini istilah tersebut mengalami pergeseran makna ke arah yang negatif. Maka, klitih kini bermakna sebagai tindakan kriminal yang terjadi di jalanan dan cenderung dilakukan oleh para remaja. Bahkan, anak SMP pun terlibat.

Konon, klitih terjadi sebagai bentuk eksistensi kelompok remaja. Semacam ada tuntutan dari lingkungan pergaulan agar terlihat “jago”, dan menyerang karena kepuasan semata dan iseng. Faktor lainnya ialah kurangnya pengawasan dan kontrol sosial orang tua.

Anak usia 12-18 tahun rentan terhadap ketidakstabilan emosional. Tidak adanya tempat untuk remaja mengekspresikan dirinya dan melakukan aktivitas di zaman pandemi ini mengakibatkan mereka tertarik untuk melakukan klitih.

Mereka penasaran “bagaimana kalau saya melakukan klitih” lalu mereka saling beradu keahlian.

Aksi klitih kebanyakan dilakukan pelaku pada malam hari. Mereka menggunakan senjata tajam seperti pedang, golok, parang, dan gir sepeda motor yang telah dimodifikasi.

Tidak hanya luka akibat senjata tajam yang diderita korban, bahkan membuat nyawa orang yang tak bersalah melayang. Kasus klitih cenderung terjadi di Kota Yogyakarta, sedangkan di kota lain seperti di Bandung, Jakarta, dan Tangerang banyak ditemukan kasus begal.

Kasus klitih yang baru-baru ini terjadi di penghujung tahun 2021, yakni pada tanggal 27 Desember 2021 di Jalan Kaliurang, Kecamatan Ngaglik sekitar pukul 01.30 WIB dan di Underpass Keuntungan Sleman.

Selang empat bulan kemudian, kembali lagi terjadi aksi klitih pada tanggal 3 April 2022 pada pukul 02.10 WIB yang menewaskan satu orang pelajar. Kematian pelajar ini disebabkan oleh luka kepala akibat sabetan senjata tajam berupa gir sepeda motor.

Akibat maraknya kasus klitih, masyarakat daerah setempat dan pelajar atau mahasiswa menjadi takut dan penuh apabila melewati jalan yang sepi.

Pemerintah Yogyakarta dan aparat keamanan terus berupaya agar Yogyakarta menjadi kota yang aman dan terpelihara. Upaya tersebut berupa melakukan aktivitas kontrol (Patroli) malam ke daerah yang rawan klitih, sosialisasi ke masyarakat untuk lebih waspada terhadap klitih, dan menciptakan aktivitas positif untuk ladang kreativitas remaja.

Baca Juga:  Pentingnya Persahabatan Untuk Menciptakan Hidup Sosial Yang Damai

Hal yang terpenting ialah kesadaran diri masing-masing untuk selalu melakukan hal-hal dan kontribusi yang baik dan positif untuk daerah setempat.

Aksi klitih yang tengah mengalami peningkatan ini jangan menjadi acuan untuk remaja yang ingin menumpahkan kreativitasnya. Carilah kegiatan yang bermanfaat yang tidak merugikan masyarakat. Diperlukannya peran seluruh masyarakat Yogyakarta untuk menciptakan kota yang damai, aman, terkendali, dan tertib. Apabila hal ini telah terwujud, maka masyarakat Yogyakarta merasa aman sehingga yang sering keluar melakukan aktivitas di malam hari tidak perlu merasa takut atau parno lagi.

*) Mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news dari jabejabe.co. Yuk gabung di Grup Telegram Jabejabe.co News Update, caranya klik link Jabejabe.co News Update kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.