Ketua FOSSBI Babel Kritik Askab Belitung Seleknas hanya Berdasarkan Data

by -
Ketua FOSSBI Babel Kritik Askab Belitung Seleknas hanya Berdasarkan Data (1)
Jimmi

BELITUNG, JABEJABE.co – Seleksi Nasional (Seleknas) pembentukan Tim Nasional Sepakbola Putra U-16 dan U-19 di Kabupaten Belitung saat ini masih menjadi perbincangan hangat di kalangan pelatih.

Seleknas tersebut, sebagaimana Surat Edaran Asosiasi Provinsi (Asprov) Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) Kepulauan Bangka Belitung (Babel) yang ditunjukkan ke Asosiasi PSSI Kabupaten (Askab) Belitung 3 Maret 2021 lalu.

Menindak lanjuti Surat Edaran yang disampaikan Asprov PSSI Babel tersebut, Askab PSSI Belitung kemudian menyampaikan tiga pemain berdasarkan data yang ada di Askab PSSI Belitung. Diantaranya Yudha Agustian untuk U-16 dan dua pemain U-19 yakni Dirly Alfindo dan M. Faisol Alju’i.

Menurut Sekretaris Askab Kabupaten Belitung, Sugianto, masa pandemi Covid-19 saat ini jadi bahan pertimbangan untuk melakukan Seleknas secara terbuka. Ia mengakui bahwasannya Surat Edaran Seleknas tersebut memang tidak diedarkan kepada klub-klub yang ada di wilayah Belitung, di bawah naungan Askab PSSI Belitung.

“Pertimbangan ini karena banyak yang terdampak akibat Covid-19. Kami takut kalau ada apa-apa yang terjadi kepada anak-anak yang ikut seleksi nantinya,” kata Sugianto saat dihubungi media ini via WhatsApp baru-baru ini.

Sugianto mengatakan bahwa seleksi tersebut sudah selesai dilakukan pada Kamis 4 Maret 2021 berdasarkan data yang ada di Askab PSSI Belitung.

Menanggapi Seleknas berdasarkan data yang dilakukan Askab PSSI Belitung, mantan Pelatih Persibel yang juga selaku ketua Forum Sekolah Sepakbola Seluruh Indonesia (FOSSBI) Babel, Jimmi angkat bicara.

Menurut Jimmi, surat edaran dari Asosiasi PSSI pusat kemudian sampai ke Asprov lalu diterima Askab seharusnya diinformasikan secara terbuka.

Karenanya, kata Jimmi, Seleknas harus dilaksanakan secara terbuka bagi siapa saja yang memenuhi persyaratan.

“Untuk sistem seleksinya jangan by data pemain saja, kan tidak tahu data tersebut data lama atau data baru, karena tidak terbuka tadi,” ujar Jimmi, Senin (8/3/2021).

Sebagai pelatih senior, Jimmi menilai ada kemungkinan data lama 1 (Satu) tahun atau 2 (Dua) tahun yang lalu berbeda kondisinya dengan kondisi sekarang. Oleh karena itu, menurutnya seleksi dilakukan secara real (Nyata) dengan cara membentuk tim seleksi di lapangan dan tidak mengenyampingkan protokol kesehatan.

“Kalau seperti ini (Berdasarkan data) kan kesannya pilih-pilih, jadinya kasihan kan dengan pemain-pemain yang punya potensi, punya skill (Kemampuan) yang bagus-bagus,” kata Jimmi.

Jimmi pun tak sungkan mengatakan bahwa dengan seleksi berdasarkan data, anak-anak yang punya potensi dan skill akhirnya tidak bisa ikut dan tidak punya kesempatan.

“Hanya karena mungkin anak-anak tersebut tidak dekat dengan orang-orang tersebut (Yang menyeleksi) atau bisa jadi Askab enggan mengeluarkan biaya untuk melakukan seleksi secara terbuka. Kalau di Bangka seleksinya dengan cara melakukan pertandingan terbuka antar Askot/ Askab mulai besok kalau gak salah,” terangnya.

Jimmi bahkan tak bisa menyembunyikan rasa perihatin atas pemain-pemain muda yang berbakat dan menilai latihan yang sudah dilakukan menjadi sia-sia karena melihat sistem pengelolaan sepak bola saat ini yang tidak mendukung bagi regerenasi sepakbola.

“Ya, kalau memang benar masih ada waktu, agar ASKAB Belitung bisa membuka Seleknas ini secara terbuka untuk kelompok usia. Kan itu pemain yang dipilih baru dua orang untuk U-16, dan satu orang untuk U-19, tentunya masih ada kuota kan?” kata Jimmi.

Untuk diketahui, berdasarkan surat edaran tersebut, Asprov PSSI Kepulauan Babel meminta Askab PSSI Belitung agar memberikan data pemain terbaik untuk tahun kelahiran 2003-2004 (U-19) dan tahun kelahiran 2006-2007 (U-16) maksimal 5 orang dari kategori U-19 dan 5 orang dari kategori U-16.**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *