Kemanusiaan Hilang Muka?

by -
Kemanusiaan Hilang Muka
Ilustrasi Kemanusiaan Hilang Muka. Ilustrasi: Pixabay.

Oleh: Subrata Kampit

PANDEMI Coronavirus Disease (Covid)-19 mengajarkan manusia akan banyak hal. Dari mulai cara hidup lebih sehat, soal bagaimana caranya bertahan untuk hidup, hingga bagaimana caranya memperlakukan orang lain.

Sebelum Covid-19 hadir, kita hanya berpikir soal kerja untuk makan dan makan untuk hidup. Bahkan, jangan-jangan hidup untuk makan.

Semua itu menjadi berbalik drastis ketika Covid-19 datang.

Dunia berubah. Semua produk kesehatan yang terkait dengan pencegahan pandemi Covid-19 ini hampir susah dicari. Begitu juga bagaimana memperlakukan siapa pun yang dijumpai, curiga, khawatir, dan rasa takut menghantui hati dan pikiran.

Entah itu insting manusiawi atau efek dari informasi pandemi Covid-19 yang datang bertubi-tubi.

Di tengah perdebatan sengit pada semua lini media sosial, beragam pendapat berhamburan. Terkadang menumbus ruang-ruang emosional destruktif. Ada yang memberi solusi namun ada yang pula menolak karena alasan ekonomi.

Semuanya bersikap, menulis, dan beranalisa, juga merasa paling benar. Yang salah hanya Covid-19. Wabah yang tak diundang datang, dan kita tidak tahu bagaimana cara dia akan pulang atau cara memulangkannya.

Ada satu hal yang menarik di tengah pandemi Covid-19. Apa itu? Kemanusiaan.

Kemanusiaan dan cara memanusiakan manusia. Atau, satu kondisi di mana keselamatan manusia dan nyawa manusia di atas segala-galanya.

Kemanusiaan menjadi sangat menarik ketika kita merasa sangat-sangat khawatir ketika orang lain harus bertarung dengan maut, lalu berhadapan dengan siapa yang datang dari daerah yang telah terpapar Pandemi Covid-19.

Kondisi ini sama halnya dengan situasi sosial masyarakat Indonesia yang berdebar-debar saat tim melakukan penjemputan warga Negara Indonesia di Wuhan, China.

Simalakama.

Pada saat itu, orangtua yang anaknya berada di Wuhan berharap mereka segera ada di Indonesia. Di sisi lain, saat pemerintah menetapkan Pulau Natuna sebagai wilayah isolasi, penolakan kemudian sempat terjadi. Meski kemudian semuanya terkonfirmasi negatif.

Saat itu, pramugari dan pilot menggunakan alat pelindung diri. Kemudian sejumlah penumpang diisolasi, juga pesawat penjemput.

Saat ini kita alami?

Di wilayah lain yang terjadi saat ini, kemanusiaan juga sangat menjadi menarik ketika kita mendengar bagaimana cerita tim medis dengan senjata perang yang sangat minim berjibaku menghadapi pandemi di pusat negara.

Jika cerita ini di-film-kan, mungkin seluruh kategori pada penghargaan film tertinggi itu akan mudah diraih. Film yang menceritakan bagaimana sesungguhnya perlawanan melawan Pandemi Covid-19, tidak ubahnya seperti kondisi perang di mana musuh mempunyai segala kekuatan tempur untuk membunuh siapa pun.

Sementara kita hanya bermodalkan rasa kemanusiaan saja.

Dan yang terpenting, kemanusiaan menjadi sangat-sangat menarik ketika masing-masing individu dalam keluarga tidak siap untuk kehilangan orang terdekat-tersayang. Bahkan rela harus hidup seadanya dan berjuang bersama melawan keadaan yang kita tidak pernah tahu akan berakhir kapan.

Kemanusiaan menjadi tidak menarik ketika ada beragam manusia yang meletakkan ekonomi di tempat tertinggi dan meletakkan keselamatan serta nyawa manusia di tempat terendah.

Sebagian dari mereka mengatakannya secara jujur, meski ada yang mengaburkan motif hanya karena takut kehilangan citra.

Kemanusiaan juga menjadi tidak menarik ketika wakil rakyat yang seharusnya mengambil peran, namun peran tersebut dikerjakan oleh rakyat. Kemudian rakyat lantang bersuara karena merasa tidak ada wakil yang memperjuangkan keselamatan dan hak-hak mereka.

Begitu juga ketika kemanusiaan menjadi kembali tidak menarik saat sebagian dari kita sanggup berjuang untuk tujuan ekonomi orang lain, walaupun tak lagi punya apa-apa.

Tragedi kemanusiaan muncul saat Pandemi Covid 19 ini ada. Kita hilang dan bersembunyi di balik ragam alasan dan keterbatasan.

Seterusnya kemanusiaan ini menjadi tidak menarik ketika kita disuguhkan atraksi-atraksi pencitraan mereka yang ingin menjadi penguasa. Di beberapa catatan sejarah, pandemi meruntuhkan penguasa, dan lahirnya peradaban baru.

Dari semua bentuk degradasi kemanusiaan tersebut, sebaris pertanyaan kemudian mengemuka. Apakah sebetulnya kemanusiaan itu sudah mati? Hipotesisnya karena terkontaminasi virus ekonomi?

Sebetulnya apa yang lebih mematikan, Covid-19 atau manusia-manusia yang menempatkan ekonomi di atas kepentingan, keselamatan dan nyawa orang lain?

Itu akan terjawab seiring munculnya Pandemi Kemanusiaan.

**Pembelajar Menulis