Kelas Sosioliterasi: Inovasi Literasi di Masa Pandemi

oleh -
Kelas Sosioliterasi, Inovasi Literasi di Masa Pandemi

Kedua, proses penyuntingan/ revisi dan memperkuat kualitas tulisan peserta didik agar terbit di media massa. Proses ini memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Karena ada kadang kala tulisan siswa tidak kunjung rilis di media massa, dan hal ini membuat motivasi siswa menjadi turun. Dalam kondisi yang seperti ini, proses pembimbingan ini bisa dikatakan hampir 24 jam terbuka untuk tanya-jawab, dengan memotivasi siswa melalui grup WhatsApp ataupun via video meetings agar mereka tetap semangat menulis.

Di lain hal, penulis juga menulis buku yang berjudul “Gerbang Menulis: Tips & Trip Menulis Artikel di Media Massa”. Yang mana buku ini dimaksudkan dapat membantu guru-guru untuk naik pangkat, berikut pula mempermudah pembimbingan siswa di Kelas Sosioliterasi.

Proses keberlangsungan Kelas Sosioliterasi ini merupakan komitmen keberlanjutan setelah program kerja telah dibuat, yakni pemberian materi menulis secara tatap muka dan daring, memeriksa pekerjaan tulisan siswa, pembimbingan, dan monitoring-evaluasi efektivitas program secara berkala. Berikutnya, hal lain yang dilakukan adalah publikasi ke media massa, serta membekali/ meningkatkan kemampuan menulis peserta didik dengan pelatihan menulis artikel dari pihak redaksi media cetak/ daring.

Inilah bentuk praktik terbaik nasional dengan desain siswa menulis di media massa. Memang terdengar tak biasa dan menerobos batas. Kelas Sosioliterasi ini sebenarnya adalah wujud menanamkan budaya menulis agar kelak ketika peserta didik kuliah atau menjadi seorang guru, mereka sudah memiliki landasan menulis standar di media massa.

Menulis di media massa sendiri menjadi kebutuhan ilmiah di kalangan akademisi saat ini. Karena untuk mendapatkan nilai yang baik/ sangat baik pada saat kuliah di beberapa kampus, peserta didik sebagai calon mahasiswa harus bisa menulis artikel opini di koran. Dan, Kelas Sosioliterasi adalah wadah yang tepat untuk mencapai tujuan tersebut, termasuk untuk kebutuhan menulis karya ilmiah untuk kenaikan pangkat ketika mereka nantinya (mungkin) menjadi guru.

Mendidik dan melatih peserta didik agar menulis di media massa adalah salah satu cara mempersiapkan generasi di masa depan dengan meningkatkan keterampilan menulis ilmiah ala jurnalistik. Memang salah satu kunci best practice ini adalah guru pengampu mata pelajaran harus bisa menulis atau dibekali keterampilan menulis terlebih dahulu, agar bisa membimbing dengan baik siswa penulis di media massa.

Baca Juga:  Suntikan Kecemasan Merdekakan Covid-19

Ihwal ini memang menjadi tantangan besar. Apalagi untuk guru yang belum bisa atau tidak biasa menulis. Namun yang perlu dipikirkan adalah, untuk mendapatkan hasil yang besar, tentunya usaha yang dilakukan harus besar. Mewujudkan siswa penulis artinya guru mata pelajaran juga harus siap menjadi guru penulis.

Sekian, semoga praktik terbaik ini bisa diadopsi dan dapat diadaptasi dengan mata pelajaran lainnya, serta mampu menyiapkan generasi yang terampil menulis di masa depan. Amin.

*/) Guru SMA Negeri 1 Manggar Prov. Kep. Babel | Juara Nasional Guru Dedikatif dan Inovatif
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Tahun 2020.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news dari jabejabe.co. Yuk gabung di Grup Telegram Jabejabe.co News Update, caranya klik link Jabejabe.co News Update kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *