Kelas Sosioliterasi: Inovasi Literasi di Masa Pandemi

oleh -
Kelas Sosioliterasi, Inovasi Literasi di Masa Pandemi

Komunikasi (communication) atau keterampilan berkomunikasi yang merupakan langkah mengomunikasikan pikiran dan pengalaman menjadi sebuah tulisan.

Kolaborasi (collaboration) atau peserta didik berkolaborasi/bekerja sama atau saling sharing untuk memperbaiki tulisan dan dalam aksi literasi sosial, serta berkolaborasi-mitra dengan pihak media massa untuk menerbitkan tulisan siswa.

Nama kelas “Sosioliterasi” berasal dari dua kata yaitu, dari kata ‘Sosiologi’ dan ‘literasi’. ‘Sosiologi’ ialah ilmu yang mengkaji tentang masyarakat. Sedangkan kata ‘literasi’ (KBBI) berarti kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup. Sehingga “Kelas Sosioliterasi” dapat diartikan, yaitu kelas yang mengembangkan kemampuan peserta didik dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup melalui mata pelajaran Sosiologi, khususnya ihwal ini adalah kecakapan/ keterampilan menulis di media massa serta aksi literasi sosial sebagai edukasi sosial bermasyarakat bagi perserta didik.

Kompetensi menulis peserta didik dapat dimunculkan bahkan ditingkatkan jika guru menggunakan strategi membentuk kelas menulis. Strategi pembelajaran kelas menulis akan efektif apabila keberadaannya direncanakan dengan baik, dieksekusi, serta pada akhirnya menerbitkan karya literasi di media massa berikut diarsipkan menjadi buku. Selama ini, banyak sekali ide/ gagasan siswa serta praktik baik yang tidak dapat memberikan manfaat berkelanjutan karena minimnya dokumentasi dalam bentuk tulisan. Ide/ gagasan serta praktik baik tersebut lepas begitu saja tanpa adanya manfaat lebih lanjut untuk masyarakat karena tidak dipublikasikan melalui media massa.

Oleh sebab itu, Kelas Sosioliterasi dibentuk guna membangkitkan motivasi dan minat siswa menulis, membantu siswa meningkatkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, komunikatif dan inovatif, memfasilitasi siswa untuk menulis, memublikasikan karya melalui media massa agar bermanfaat bagi masyarakat, dan akhirnya diarsipkan (buku) untuk referensi bacaan bagi generasi selanjutnya.

Selain itu, adanya keberadaan dinamika fenomena sosial di masyarakat selalu menarik perhatian apabila dikaji/ dianalisis, bahkan ditulis dalam bentuk artikel/ opini. Di mana, pembelajaran Sosiologi yang memiliki kajian tentang masyarakat ini akan hampa apabila tidak ditulis/ diarsipkan sebagai cara meninggalkan warisan literasi. Dengan mengarsipkan data melalui tulisan, kita dapat mengetahui ide/pola pikir, metode, strategi, hingga solusi kreatif seorang penulis muda dalam memahami suatu gejala sosial di masyarakat, termasuk di masa pandemi Covid-19.

Baca Juga:  Solidaritas dan Soliditas PGRI

Selanjutnya, Kelas Sosioliterasi ini memiliki aksi literasi sosial yang merupakan proses edukasi dan pembelajaran bermakna (meaningful learning) bagi peserta didik tentang pentingnya hidup dalam bermasyarakat. Yang mana, belajar bermakna atau meaningful learning oleh David Paul Ausubel ini merupakan suatu proses dikaitkannya informasi-informasi baru dengan konsep-konsep yang relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang (Dahar dalam Trianto, 2007: 25). Sehingga unsur kebaruan Kelas Sosioliterasi ini menjadi penting di masa pandemi, karena ihwal ini adalah sebuah solusi pembelajaran dengan literasi menulis dan dilengkapi aksi literasi sosial. Wujud aksi literasi sosial ialah bakti sosial kepada warga sekitar yang terdampak pandemi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news dari jabejabe.co. Yuk gabung di Grup Telegram Jabejabe.co News Update, caranya klik link Jabejabe.co News Update kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *