Kayu Putih Jadi Polemik, Pemdes Tanjung Rusa Tak Dilibatkan? Ketua HKM Angkat Bicara

oleh -
Kayu Putih Jadi Polemik, Pemdes Tanjung Rusa Tak Dilibatkan, Ketua HKM Angkat Bicara
Kolase, Foto Kiri: Tumpukan kayu yang akan digunakan sebagai lanjaran penanaman kayu putih. Foto Kanan: Areal hutan yang dibabat untuk penanaman kayu putih di kawasan Desa Tanjung Rusa, Kecamatan Membalong, Kabupaten Belitung. Foto: Istimewa.

BELITUNG, JABEJABE.co – Beberapa pekan terakhir terjadi pro dan kontra terhadap penanaman kayu putih di Desa Tanjung Rusa, Kecamatan Membalong, Kabupaten Belitung.

Polemik ini bermula ketika Ketua RW 03 Dusun Nyurun Desa Tanjung Rusa, Sahali mengutarakan keluhannya terhadap aktivitas penanaman kayu putih oleh PT. Sandeir Setia Brothers (PT. SSB) yang dinilainya sudah merusak lingkungan dan Kawasan hutan habitat madu lokal.

Kawasan hutan habitat madu lokal merupakan lahan Sahali dan masyarakat setempat untuk mencari rezeki sebagai petani madu hutan.

Dengan adanya aktifitas penanaman kayu putih tersebut berimbas terhadap hasil pendapatan masyarakat yang selama ini bergantung pada hutan, salah satunya dari hasil produksi madu tersebut.

Lebih lanjut masyarakat menilai, adanya penanaman kayu putih tersebut justru merusak hutan, khususnya kawasan hutan madu. Sehingga, pendapatan warga dari madu turun drastis. Berdasarkan data yang diterima media ini, untuk satu sarang madu bisa menghasilkan 30 botol atau sekitar 20 kilogram madu dan jika dirupiahkan mencapai dua hingga tiga juta rupiah.

“Kami rasa tidak perlu diganti dengan penanaman kayu putih yang katanya untuk penghijauan tetapi hutan yang masih asri dan kayu yang masih segar malah ditebang. Itu bukan penghijauan tapi pengrusakan,” tegasnya, “Kami bukan tidak terima adanya investasi karena gak ada sosialisasi di awal dan MoU (Memorandum of Understanding) atau nota kesepahaman secara tertulis. Ini membuat warga menjadi takut jika terjadi sesuatu hal di kemudian hari.”

Dilansir dari Belitong Ekspres, Kepala Desa Tanjung Rusa Agus Hero membenarkan adanya konflik yang timbul antara warga yang pro dan kontra terkait penanaman kayu putih tersebut.

Menurut Agus, awalnya tidak ada konflik, kemudian setelah aktifitas penanaman tersebut berjalan, timbul konflik di antara warga. Bahkan Agus mengaku bahwasannya sejak awal pemerintah desa tidak pernah dilibatkan.

Juga terkait MoU antara pihak HKM dan perusahaan, dirinya juga tidak mengetahui secara pasti.

“Kami di desa tidak punya kewenangan, karena kewenangan tersebut dari Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup,” jelasnya.

Menanggapi hal ini, Ketua HKM Belantu Jaya Hendra Wiryo akhirnya angkat bicara. Dituturkan Hendra, pada awal dilakukannya pembibitan kayu putih tersebut oleh PT SSB, Ketua RW 03 Dusun Nyurun, yakni Sahali, pernah mendatangi langsung lahan pembibitan tersebut untuk menanyakan kejelasan terhadap penanaman kayu putih. Hal itu dikarenakan ada laporan dari warganya tentang perusakan hutan kemasyarakatan.

Saat Sahali tiba di lokasi pembibitan tersebut, lanjut Hendra, dijumpai adanya kepala desa dan pihak PT. SSB.

“Jadi tidak mungkin kepala desa tidak mengetahui dan dilibatkan dalam aktifitas penanaman kayu putih oleh PT. SSB kalau pada saat Ketua RW 03 datang ke lapangan beliau (Kades) ada di sana,” ungkapnya.

Diakui Hendra, sebelumnya pihak desa sudah pernah mengundang rapat sebanyak dua kali untuk meakukan voting antara pengurus HKM (Hutan Kemasyarakatan) dengan pihak perusahaan, namun hasil rapat tidak diterima oleh pihak kehutanan.

Sementara itu jabejabe.co sudah berupaya menghubungi salah satu perwakilan PT SSB untuk memberikan jawaban terkait permasalahan ini, namun saat dihubungi si penerima tidak mengangkat panggilan telepon. Demikian pula saat media ini melakukan komunikasi via WhatsApp, juga tidak mendapatkan jawaban meskipun pesan yang dikirimkan sudah dalam status terbaca oleh si penerima.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *