Ini Dulu, Baru Itu

by -
Catcil - Ini Dulu, Baru Itu

Oleh Subrata Kampit

SEBAB-SEBAB kematian Almarhum Ashraf Sinclair pada Selasa (18/2/2020) dini hari, menjadi pertanyaan bagi banyak orang.

Ashraf diketahui rajin berolahraga dan meneladani pola hidup sehat. Lalu, bagaimana mungkin bisa meninggal dunia pada usia muda dan produktif?

Mereka yang perokok, minum arak, punya istri lebih dari satu seperti Zhang Xueliang, seorang panglima perang nasionalis Tiongkok Kuomintang itu, meninggal pada usia 100 tahun.

Atau Deng Xiaoping, pemimpin tertinggi Republik Rakyat Tiongkok sejak kurun dasawarsa 70-an sampai dengan awal dasawarsa 90-an, juga meninggal dunia di usia tua. 94 tahun.

Sama seperti Zhang, Deng Xiaoping juga peminum arak yang juga perokok. Jangan tanya suka tidaknya begadang, Deng pemain kartu.

Kedua pesohor tersebut tidak meninggal dunia pada usia 43 tahun seperti Adjie Massaid, dan Ashraf pada 40 tahun.

Di sela-sela ramainya tanya itu, belum ada jawab sama sekali. Dan, saya pun seperti biasa berselancar di Facebook. Tanpa maksud mencari jawaban. Iseng-iseng baca status siapa saja dan sesekali menuliskan komentar. Saya sendiri hanya terkadang saja membuat status.  

Seorang kawan lama menulis sesuatu di akun facebook-nya. Nama guru itu Wedy Riandi. Ia menjawab pertanyaan dari salah satu siswi. Siapa sangka di sela-sela pelajaran olahraga yang diasuhnya, muncul pertanyaan seputar kematian selebritis.

“Pak, mengapa sekarang banyak yang meninggal dunia di masa muda karena serangan jantung, padahal mereka aktif berolahraga?” Tanya seorang siswi.

Pertanyaan tersebut tentu saja terkait dengan fenomena selebrita yang rajin berolahraga dan memedomani healthy lifestyle, tapi mati muda.

Menjawab pertanyaan tersebut, Guru Wedy berujar, adalah saran jika melakukan sesuatu dilandasi dengan ilmu. Oleh sebab olahraga tanpa ilmu, ibarat pedang bermata dua, ujung-ujungnya malah malapraktik. Salah satu mata pedang memberikan kebaikan, sementara di sisi lain adalah hal yang tidak baik atau keburukan.

Kemudian, Guru Wedy menjawab, pahami tentang konsep aerob dan anaerob. Lalu yang kedua, jaga asupan konsumsi yang bersifat ultrafood alias ultra-proses dan pemicu diabetes tipe 2.

Menulis sedikit tentang aerob dan anaerob. Aerobik dan anaerobik. Meskipun kita tidak kenal atau jarang mendengar istilah olahraga anaerobik.

Dilansir dari hellosehat.com, pada kondisi anaerob, tubuh tidak menggunakan oksigen dalam proses pembentukan energi. Berbeda dengan olahraga aerobik yang menggunakan seluruh bagian tubuh. Olahraga anaerobik untuk menguatkan bagian otot tertentu.

Jika olahraga aerobik dilakukan untuk menurunkan berat badan, maka olahraga anaerobik ini digunakan untuk menurunkan berat badan dan membuat membentuk otot.

Bicara olahraga, ingat juga faktor usia. Anda tentu saja lebih tahu. Jika belum, silakan buka referensi yang lebih detail tentang dua jenis olahraga ini.

Bagaimana dengan Ultrafood?

Artikel Kompas.com memuat tulisan seputar ultrafood atau ultra-proses. Judulnya “Bahayanya Terlalu Sering Konsumsi Makanan Ultra-Proses”

Dalam artikel itu menyebutkan, itu 1 porsi makanan ultra-proses bisa berkontribusi hampir 90% dari kebutuhan garam dan gula harian orang-orang Amerika, yang rata-rata lebih banyak dari jumlah yang dibutuhkan.

Kita tentu sepenuhnya sadar, bahwa kelebihan garam dan gula adalah musuh bagi kesehatan manusia. Terminalnya adalah jantung.

Dari penelitian tersebut dapat menjadi hipotesis, yang mana mengonsumsi ultrafood secara berlebihan tentu sangat tidak baik untuk tubuh.

Akibat dari tulisan ini tentu saja pertanyaan, apa yang menyebabkan kematian Ashraf?

Anda dan saya tidak tahu kapan “Janji Allah” menghampiri. Meski demikian, bukan berarti Anda harus berhenti rajin berolahraga dan menerapkan gaya hidup sehat.

Dan ada baiknya pula, sebelum praktek disarankan baca teori dulu. Ini dulu, baru itu!

** Pembelajar Mewarta di Belitung