Game Online, Candunya Milenial

by -
Game Online, Candunya Milenial

Oleh: Jefri Candra**

SEMAKIN canggih gudget yang ada pada setiap genggaman, semakin banyak pula jenis game berbasis online yang bisa ditemukan pada era sekarang ini.

Milenial atau anak muda kekinian menganggap dengan memiliki aplikasi game online tersebut, berarti mereka telah mengikuti perkembangan globalisasai. Sehingga anak cenderung mengoperasikan aplikasi tersebut tanpa memikirkan dampak yang akan ditimbulkan.

Bagaimanapun, game online saat ini menjadi salah satu fenomena di kalangan milenial. Adanya game online sangat mempengaruhi tingkah laku anak muda di Indonesia bahkan berpengaruh terhadap interaksi sosialnya.

Dilansir dari artikelbaca.com, pengertian game online menurut Rollings dan Adams lebih tepat disebut sebagai sebuah teknologi dibandingkan sebagai sebuah genre atau jenis permainan. Yakni sebuah mekanisme untuk menghubungkan pemain bersama dibandingkan pola tertentu dalam sebuah permainan.

Terlepas apa pun makna dari sebuah game online, yang pada awalnya permainan ini hanya sekedar hiburan, lambat laun beralih menjadi suatu kebiasaan sehingga menjadi kecanduan.

Segala sesuatu memang memiliki dampak positif dan negatif, begitu juga game online.

Dilihat dari fenomena yang ada, setidaknya dari kaca mata penulis, game online cendrung ke arah negatif. Salah satu dampak negatif tersebut adalah ketergantungan dalam penggunaan game online akan mempengaruhi proses belajar serta kegiatan bersosialisasinya.

Karena mereka yang sudah kecanduan game online akan menjadikan hal tersebut sebagai prioritas utama, sehingga kegiatan belajar akan dinomor duakan,bahkan diabaikan.

Dari segi bersosilasisasi, anak muda yang dulunya aktif dan perduli dengan orang di sekitarnya sekarang berubah menjadi apatis (tidak perduli). Munculnya sikap seperti itu akan menyebabkan anti sosial alias individualis.

Organisasi Kesehatan Dunia PBB atau World Health Organization (WHO) pada pertengahan 2018, resmi menetapkan Kecanduan game atau game disorder ke dalam versi terbaru International Statistical Classification of Diseases (ICD) sebagai penyakit gangguan mental untuk pertama kalinya.

Dikutip dari indonesiabaik.id, seseorang yang lebih memprioritaskan bermain game daripada melakukan kegiatan positif yang lain dikatakan behavioral disorder atau gangguan perilaku.

Kecanduan game didefinisikan sebagai pola perilaku bermain, baik permainan online maupun offline (game digital atau video game) dengan beberapa tanda, sebagai berikut: 1) Tidak dapat mengendalikan keinginan bermain game; 2) Lebih memprioritaskan bermain game dibandingkan minat terhadap kegiatan atau aktivitas lainnya; 3) Seseorang terus bermain game meski ada konsekuensi negatif yang jelas terlihat.

Dari pada menjerumuskan diri kepada hal berbau negatif seperti bermain game online, kita bisa mengisi waktu luang dengan membaca buku.

Manfaatkan handphone untuk membaca berita yang terkait dengan hobi atau kesenangan. Bisa juga dengan berolahraga yang sangat jelas bermanfaat bagi tubuh.

Selain itu, cobalah untuk berkumpul bersama teman, sahabat, bahkan keluarga, tanpa harus menggenggam handphon. Berinteraksilah, bangun percakapan yang lebih membangun, serta berguna bagi kita, masa depan, dan bagi orang lain.

Ada baiknya, sebelum kecanduan game online, kita harus melakukan pencegahan sedini mungkin. Kita bisa mencontoh China yang pada masa ini, khususnya anak-anak, sudah tidak diizinkan lagi untuk bermain game online di malam hari.

Dengan adanya peraturan pemerintah ini jelas akan sangat membantu membatasi permainan game online. Pembatasan waktu bermain akan diperpanjang tiga jam pada akhir pekan dan hari libur. Selain China, hal ini juga berlaku di Melbourne, Australia.

Sebuah kursus yang mengajarkan “cerdas menyikapi game online”, berusaha membantu para gamer untuk memastikan kalau bermain game online tetap sekedar hobi dan tidak menimbulkan kecanduan.

Sikapi dan jadikanlah game online hanya sebagai hobi untuk menghilangkan penat dari rutinitas sehari-hari. Jadikanlah gawai yang memberikan manfaat tidak hanya kepada diri sendiri tetapi juga orang lain.

Terkadang, sesuatu hal yang dikonsumsi secara berlebihan akan berbuah tidak baik bagi diri sendiri.

**Siswa SMA Negeri 1 Manggar, Belitung Timur