Epistemologi Jabejabe

by -
Catcil Subrata Kampit - Epistemologi Jabejabe

Oleh: Subrata Kampit**

KALAU di Jawa Timur, khususnya Surabaya dikenal istilah Jancok, biasa juga ditulis Jancuk. Di bahasa lain ada Pukimak, terkadang disingkat Kimak. Begitu juga dalam Bahasa Inggris, ada yang mereka sebut motherfucker yang juga sering disingkat mofo.

Konon katanya, contoh kata di atas adalah beberapa kata yang kurang pantas diucapkan (18+). Bisa jadi sebentuk umpatan, atau kata yang memiliki arti jorok.

Itu di daerah lain, juga di luar negeri, sedangkan di Pulau Belitong ada jabe.

Apa arti jabe? tidak tahu…

Jika niat, silahkan tinjau secara leksikal. Apa harfiah jabe, cari makna yang sebenar-benarnya. Anak setankah? Atau jenis lain yang sama dengan makna pukimak dan mofo.

Jika kita intai dari sisi gramatikal memang ada. Diantaranya ada yang menyebut jabe (saja) dan ada pula dengan penekanan k setengah di ujung e kata jabe. Selain itu contoh gramatik lainnya jaber dan jabejabe.

Jadi apa artinya? tidak tahu…

Saya coba-coba hunting di google hingga menemukan beberapa kata terkait jabe dan jabejabe serta defenisinya.

Dilansir dari wikipedia, Oceanodroma jabejabe adalah burung lautan yang ditemukan di Samudra Atlantik, terutama di sekitar pulau-pulau Tanjung Verde.

Tanjung Verde (Cape Verde) adalah sebuah republik yang terletak di gugus kepulauan di Samudra Atlantik Utara, pada pesisir barat Afrika.

Di bagian lain ada JABE yang merupakan bentuk singkatan. Kepanjangannya Journal of Accounting and Business Education.

Kalau ke Bandung, kita akan mendengar kata anjrit atau anjir, kerasnya lagi anjing (baca: anying). Realitanya, anjir sudah menjadi titik dan koma dalam percakapan (khsusnya anak gaul). Sama halnya dengan jabe.

Namun, ada satu kesamaan saat mengucapkan anjir dan jabejabe. Artinya kurang lebih kagum pada sesuatu. saat anda melihat Something Wow! Diucapkanlah jabejabe!

“Jabejabe! lagak amat nok bini itu, (Jabejabe! cantik banget tuh cewek),” demikian bunyi kalimatnya.

Dan, Jaber? Itu nama orang Arab.

Lalu, apa kabar Karimun? Yup, di sana ada pantai, Bunga Jabe. Pantai Bunga Jabe merupakan salah satu spot terbaik untuk nikmati keindahan sunrise menawan di Pulau Karimunjawa. Atmosfernya juga terasa begitu syahdu dan mengesankan.

Namun saya sedikit tergelitik dengan defenisi Kiai Mbeling; Emha Ainun Nadjib atau akrab kita sapa Cak Nun.

Kata Cak Nun, apakah itu jancuk, pukimak, atau pun motherfucker, semuanya menunjuk kepada yang paling dasar dari harga diri manusia. Demikian pula halnya jabe.

Baiklah saya hipotesiskan. Jabe demikian pula halnya jancuk, merupakan reaksi kemarahan terhadap perbuatan jahat.

Orang yang tidak suka pada perbuatan jahat atau tak mengenakkan, dia bilang jabe, kan begitu?

Baik nggak berarti?

Jadi, tidak ada jabe diucapkan untuk kejahatan. Justru ucapan jabe merupakan protes terhadap kejahatan.

Itu semua dilakukan atau diucapkan dan muncul sebagai idiom budaya, karena kemurnian manusia selalu bereaksi terhadap atau melawan kezholiman.

Jadi apa arti jabe? Tidak tahu…

Kalau Jabejabe artinya apa? Something Wow!

Tapi bagi kami, pemberita di jabejabe.co, Jabe adalah akronim dari Jurnalis Belitong.

**Pembelajar memberita di Belitong