Dukung Penerapan Isolasi Mandiri, Ini Kata Mantan Pasien COVID 19

by -
Dukung Penerapan Isolasi Mandiri Ini Kata Mantan Pasien COVID 19 (2)
Ilustrasi (net).

MANGGAR, JABEJABE.co – Metode swa isolasi atau isolasi mandiri dianggap lebih tepat untuk menangani pasien terkonfirmasi COVID 19 tanpa gejala atau mengalami sakit ringan. Tingkat kesembuhan pasien pun jadi lebih tinggi, dibanding jika harus diisolasi di RSUD maupun di tempat khusus yang disiapkan pemerintah.

Kondisi phisikologis pasien yang melakukan isolasi mandiri ditenggarai akan lebih baik dan merangsang tubuh untuk memproduksi imun lebih banyak, sehingga pasien COVID lebih cepat sembuh.

Meski metode yang dilakukan sesuai dengan Pedoman Pencegahan dan Pengendalian COVID 19 Revisi ke-5 Kementerian Kesehatan RI, kebijakan isolasi mandiri banyak mendapat pertentangan di masyarakat. Kurang disiplinnya pasien dalam menjalankan isolasi mandiri, membuat sebagian masyarakat meminta agar seluruh pasien COVID diisolasi di RSUD atau tempat khusus.

Terkait pertentangan ini, mantan pasien COVID 19 KS (47), angkat bicara. Ia mendukung apa yang dilakukan oleh Pemkab Belitung Timur, terutama mengenai penanganan pasien melalui metode isolasi mandiri.

“Lebih bagus itu. Dengan swa isolasi akan menimbulkan perasaan lebih tenang dan relax. Insyallah pasien akan lebih cepat sembuh dibanding ditaruh di RSUD atau tempat isolasi khusus,” kata KS saat dihubungi media, Selasa (28/7/2020).

Kepala SMK Negeri 1 Dendang itu menuturkan selama kurang lebih 35 hari dirawat di RSUD Marsidi Judono, ia dan beberapa pasien COVID yang dirawat tidak pernah diberikan perawatan atau obat-obatan khusus. Diakuinya saat itu kondisi kesehatannya tanpa ada gejala sama sekali.

“Paling disuruh minum vitamin C 50 miligram tiga kali sehari. Alhamdulillah gak ada keluhan sama sekali dan kondisi ini bukan hanya pada saya, kawan-kawan lain pasien yang dirawat gitu juga,” beber KS.

Berdasarkan pengalaman pribadi itulah Kus menekankan akan lebih baik jika pasien COVID 19 tanpa gejala atapun mengalami sakit ringan cukup diisiolasi mandiri di rumah. Tentunya dengan menjalankan disiplin dan tidak keluar rumah atau tempat isolasi.

“Dengan isolasi mandiri, kondisi phisikologis pasien akan lebih baik dan imun tubuh akan lebih banyak jadi kesembuhannya akan jauh lebih cepat,” ujar KS.

Dukungan Orang Terdekat dan Lingkungan Buat Lebih Kuat
Walaupun sudah sembuh dan berstatus mantan penderita COVID 19, KS (47) mengakui jika masih banyak orang-orang di sekeliling yang memperlakukannya berbeda pasca kesembuhan dari COVID 19. Hal ini lantaran stigma sosial yang berkembang di mayoritas masyarakat memandang pasien COVID merupakan sebuah aib.

“Kita dijauhi, didiskriminasi. Bukan hanya hanya di lingkungan sekitar namun juga di sekolah dan mesjid. Orang-orang menganggap kita salah, padahal penyakit ini adalah cobaan bukanlah aib,” ujar KS.

Disinformasi, berita simpang siur, hoaks bahkan pemberitaan yang berlebihan membuat masyarakat jadi paranoid. Hal inilah yang disinyalir membuat prasangka buruk pada penderita, keluarga, tenaga medis ataupun mereka yang tidak sakit namun memiliki gejala mirip COVID 19.

“Kalau COVID ini sebenarnya kalah berbahaya dengan efek yang ditimbulkan, seperti fitnah yang berlebihan. Kayak kami dulu disebut sengaja menyebarkan, bahkan sampai sekarang orang rumah (istri) saya masih kepikiran,” ungkap KS.

Untuk itulah mantan Guru di SMA Negeri 1 Tanjungpandan tersebut menghimbau agar masyarakat tidak mudah mempercayai informasi yang tidak jelas. Kepedulian dan dukungan terutama untuk pasien COVID 19 lebih dibutuhkan untuk mempercepat kesembuhan.

“Kepedulian sosial dan emapati itu yang harus diutamakan. Biar tidak menyebar luas dan penderita lebih cepat sembuh, berikanlah support terutama dari tetangga atau pun keluarga terdekat,” kata KS. @2!

Sumber: Diskominfo Beltim
Editor: sue