Gelar Capture di Swiss-Belresort, Direktorat IFTA Kemenparekraf Cetak Photopreneur

by -
Gelar Capture di Swiss-Belresort Tanjung Binga, Direktorat IFTA Kemenparekraf Cetak Photopreneur (1)
Direktur IFTA Kemenpar, Syaifullah, SE., MEc., Ph.D. saat menyampaikan sambutan sekaligus membuka capture yang digelar di Swiss-Belresort Tanjung Binga, Rabu (3/3/2021). Foto: Mondox/jabejabe.co

BELITUNG, JABEJABE.co – 29 Fotografer Bangka Belitung mengikuti program Course of Professional Talents and Incubation Program for Photographer (capture) yang digelar Direktorat Industri Kreatif Film,Televisi, dan Animasi (IFTA) Kemenparekraf di Swiss-Belresort Tanjung Binga – Sijuk, Kabupaten Belitung, Rabu (3/3/2021).

Program pelatihan yang digelar empat hari, mulai tanggal 3 hingga 6 Maret 2021 ini dibuka langsung oleh Direktur IFTA Kemenpar, Syaifullah, SE., MEc., Ph.D.

Sehubungan dengan program ini Syaifullah menyampaikan bahwa pihaknya bukan hanya memberikan teknik fotografi, tapi juga bagaimana memasukan entrepreneurship dalam industri foto.

“Capture adalah salah satu bagian dari photopreneur, jadi bisa entrepreneurship dari fotografi,” jelasnya.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwasanya ada dua yang bisa men-co-casing (Membingkai atau mem-frame) suatu keindahan alam, budaya, kuliner atau hal-hal lainnya, yaitu fotografi dan film.

“Jika bentuk film misalnya Laskar Pelangi, namun yang dibawa kali ini adalah fotografi. Karena sekarang, biasanya orang kalau mau datang ke suatu tempat, dia lihat di instagram, atau lihat di sosial media atau di google, nah pasti butuh foto,” ujarnya.

Masalahnya, lanjut Syaifullah, kalau hanya foto yang sekedar foto, tentu tidak akan menarik. Karenanya Direktorat IFTA Kemenpar membawa program capture, yang jika diibaratkan laik inkubasi dalam fotografi.

Dikatakannya bahwa salah satu tujuan program ini adalah bagaimana rekan-rekan fotografer diajarkan agar bisa memperoleh penghasilan dengan cara profesional serta meningkatkan skill (Kemampuan).

Ia pun mencontohkan, bahwa keindahan alam di Belitung yang cantik merupakan modal dasar untuk mengembangkan bisnis foto pre-wedding yang kemudian dikemas dengan paket-paket foto pre-wedding dengan harga yang lebih menarik dibandingkan dengan membawa fotografer dari Jakarta.

“Selama ini misalnya mereka mau bikin foto pre-wedding di Bali, Labuan Bajo, mereka bawa sendiri fotografernya, itu mahalnya, tapi karena mereka (Fotografer) mampu (Berkualitas),” ujar Syaifullah.

Kemudian kalau fotografer di Belitung memiliki kemampuan yang bagus dan memiliki sertifikasi, tentunya saat mereka yang ingin melakukan pre-wedding di Belitung tidak perlu membawa fotografer dari luar.

Namun demikian, Syaifullah berharap rekan-rekan fotografi tidak hanya masuk dalam industri pariwisata saja, namun masuk ke ekonomi kreatif juga.

“Misalnya kerajinan tangan, fashion atau batik. Seperti kemarin barik yang dipakai sama mas menteri (Sandiaga Uno) kan keren, tapi nggak ada yang tahu, orang gak ada yang moto, gak ada yang men-co-casing,” ujarnya.

Gelar Capture di Swiss-Belresort Tanjung Binga, Direktorat IFTA Kemenparekraf Cetak Photopreneur (2)

Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata Belitung, Drs. Jasagung Hariyadi, M.Si. mengungkapkan, momentum atau pun program capture merupakan salah satu program yang ditunggu-tunggu. Apalagi, saat ini di Belitung memang memerlukan fotografer handal dan sampai saat ini komunitasnya terbilang belum banyak.

Selain itu, kata Jasagung, setiap tahun Belitung memiliki even yakni Belitung Creative Weeks (BCW).

“Dan, salah satu yang dihimpun dalam even BCW adalah hasil karya fotografer. Kemudian, sama halnya dengan program capture, even BCW khususnya dalam fotografi bertujuan agar fotografer menjadi entrepreneur di bidang fotografi,” ujarnya.

Sehingga, lanjut Jasagung, para fotografer ini tidak hanya bergerak di bidang pariwisata, tapi industri kreatif lainnya, seperti pre-wedding dan lain-lain.

Terhadap fotografer, Jasagung berharap nantinya ada semacam komunitas yang secara organisatoris dan legalitasnya akan disiapkan oleh Dinas pariwisata.

“Diharapkan para fotografer nanti terhimpun dalam fotografer Belitung. Jadi, nanti ada wadah sendiri, itu yang kita inginkan ke depan,” harap Jasagung.

Kemudian terkait kemungkinan adanya sertifikasi fotografi oleh Kemenparekraf, menurut Jasagung merupakan hal yang juga sangat diharapkan.

“Terutama kaitannya dengan photopreneur, fotografer bisa menunjukkan sertifikat yang ada sepertihalnya kemampuan di sektor kepariwisataan lainnya,” ujar Jasagung.**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *