Atur Strategi dan Sinergi, Begini Desa-desa Berjibaku Tangani Covid di Belitong

by -
Atur Strategi dan Sinergi, Begini Desa-desa Berjibaku Tangani Covid di Belitong
Sinergi instansi. Ilustrasi: freepik.com

Penanganan Covid-19 di Tingkat Desa Mengacu Pada Permendagri No. 3 Tahun 2021

Penulis: su3/mdx | Editor: Subrata Kampit

BELITONG, JABEJABE.co – Diyakini muncul pertama kali pada November 2019 di China, kini keberadaan Corona Virus Disease (Covid) 2019 belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.

Dunia, khususnya di Indonesia masih berjibaku. Instruksi presiden, peraturan menteri, hingga instruksi bupati menjadi panduan dalam menangani permasalahan Covid di wilayah masing-masing.

Demikian pula kecamatan-kecamatan hingga tingkat pemerintahan desa, upaya penanganan pasien Covid-19 dan langkah memutus rantai penyebaran virus terus dilakukan.

Untuk Kepulauan Belitung, khususnya di Kabupaten Belitung, Covid-19 diperkirakan masuk sekitar bulan Mei 2020. Sejak itu, seluruh elemen masyarakat mulai tempur serta mengatur strategi mengalahkan Covid-19.

Pemerintah kabupaten yang memiliki segenap perangkat serta fasilitas terus meng-up grade kemampuan. Demikian pula pemerintahan desa yang kini dituntut untuk bisa bersinergi dalam penanganan Covid-19, terutama bagi warga di lingkungan masing-masing.

Lalu, bagaimana dengan penanganan Covid-19 di Kepulauan Belitung khususnya di tingkat desa? jabejabe.co kemudian melakukan penelusuran dan memilih salah satu desa. Satu di Kabupaten Belitung dan satu di Belitung Timur.

Sinergi dengan Puskes, PMI dan BPBD Serta Keterlibatan Kadus dan RT

Media ini kemudian memilih Desa Perawas di Kecamatan Tanjungpandan Kabupaten Belitung dan menghubungi Kadesnya, Yahya.

Dalam upaya penanganan Covid-19 di desanya, selaku Kades Yahya mendapat informasi dari Puskesmas Desa Perawas terkait adanya warga yang terpapar. Kemudian pihak desa melalui Relawan Covid langsung ke lokasi dengan didampingi Kepala Dusun (Kadus) dan RT setempat.

Adapun yang dilakukan oleh perangkat ataupun pihak desa yakni melakukan penyemprotan disinfektan secara rutin di area fasilitas umum dan rumah warga yang terpapar Covid-19. Untuk itu juga, pihaknya bekerja sama dengan PMI dan BPBD Kab. Belitung.

Selain itu Ketua RT di lingkungan masing-masing memberikan data ke desa dan keterlibatan mereka secara langsung dalam hal penjagaan di Posko Relawan Covid-19.

“Untuk masalah untuk penangan Covid, khususnya berkaitan dengan masalah data, kami koordinasi data laporan dari Puskesmas. Intinya memberikan laporan dan meminta laporan,” kata Yahya.

Namun demikian, lanjut Yahya, dalam penanganan warga ini pihaknya tak berhubungan langsung dengan Dinas Kesehatan dan hanya berkomunikasi serta berkerjasama dengan pihak Puskesmas.

Yahya juga menyampaikan terkait dengan santunan dan bantuan. Menurutnya itu sangat jelas bagi mereka yang terkonfirmasi positif, pihak desa akan memberikan Sembako.

“Karena itu sudah ada anggaran yang telah disiapkan desa dalam penanganan Covid-19 ini. Bagi masyarakat yang terpapar Covid-19 usa begado (jangan khawatir) dan tetap di rumah sesuai anjuran pemerintah, menetaplah beberapa hari untuk melakukan isolasi,” saran Yahya.

Sulitnya Penentuan Zona dan Minim Koordinasi dengan Dinkes

Keterlibatan Puskesmas dalam penanganan Covid-19 di desa sebagai perpanjangan tangan Dinas Kesehatan tentu memudahkan kinerja Dinas Kesehatan di lingkup kabupaten.

Namun demikian, harapan Yahya dalam hal dengan Dinkes adalah sehubungan penentuan zona merah dari desa-desa yang dinyatakan banyak terpapar Covid-19. Pihaknya selalu bertanya-tanya kepada Dinas Kesehatan terkait zona ini.

“Namun mereka (Dinkes) tidak bisa jawab, dan terkadang menayakan dasar hukumnya kepada Desa. Kalau kami sudah jelas Permendagri No. 3 Tahun 2021,” kata Yahya.

Jadi, lanjutnya, satu desa dinyatakan zona merah itu jika dalam satu RT ada 10 rumah atau lebih terpapar Covid-19. “Itu 10 rumah ke atas, bukan 10 orang,” tambahnya.

Kalau di bawah itu (di bawah 10 rumah), yakni zona orange, kuning, atau hijau. “Jadi itu lah sepengetahuan kami dari desa. Perlu digarisbawahi, kadang-kadang kurang koordinasi antara Dinas Kesehatan ke desa desa,” tutup Yahya.

Penanganan Covid-19 Salah Satu Desa di Beltim

Bagaimana dengan penanganan Covid-19 di Belitung Timur, saat jabejabe.co meminta pendapat terkait penanganan Covid-19 di tingkat desa, media ini kemudian menghubungi Putra Alam selaku Sekretaris Desa Senyubuk di Kecamatan Kelapa Kampit.

Menurut Putra, setelah pihaknya mendapat informasi dari Puskesmas Kelapa Kampit terkait adanya warga yang terpapar, maka pihak desa melalui Relawan Covid langsung ke lokasi dengan didampingi Kadus dan RT setempat.

“Pendampingan itu tujuannya untuk memastikan agar yang bersangkutan (Pasien) ada di rumah isolasi dan tidak berkeliaran,” kata Putra.

Kemudian, lanjut Putra, pihak desa lalu melakukan penyemprotan disinfektan terhadap rumah warga yang terkonfirmasi positif.

“Biasanya disemprot dua sampai tiga kali selama yang bersangkutan menjalankan isolasi. Terus kalau tempat-tempat umum (Masjid, Kantor Desa, dan Sekolah) biasenya kita koordinasi serta minta bantuan dengan pihak ketiga,” jelasnya.

Dikasih Sembako atau Makanan Jadi?

Terhadap mereka yang isolasi mandiri, Putra memastikan pihaknya memberikan bantuan Sembako seperti beras, telur, minyak goreng, serta makanan instan seperti mie goreng dan lain-lain.

“Namun ada juga yang request (Permintaan) mau makanan jadi biar dak perlu masak, tentunya dengan nilai nominal yang setara dengan anggaran plus ditambah vitamin C serta masker,” ujar Putra.

Dan semua tanggungan itu, menurut Putra dipakai dari anggaran 8 (Delapan) persen dana desa, termasuklah poster-poster himbauan untuk pencegahan Covid-19.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *